[JAKARTA] Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI), Ikatan Ahli Tehnik Lingkungan Indonesia (IATPI) dan International Water Association (IWA) akan menggelar Indonesia Water and Wastewater Expo and Forum (IWWEF) 2011 yang akan digelar pada tanggal 18 hingga 20 Januari 2011 di Hotel Bidakara Jakarta. Diharapkan expo ini diikuti oleh 394 PDAM di seluruh Indonesia dan dihadiri 5000 orang ini menurut rencana akan dibuka oleh Wakil Presiden, Budiono.
Pada kesempatan itu, Dirjen Cipta Karya, Budi Yuwono menegaskan lewat kegiatan ini diharapkan dapat terjadi transformasi teknologi dan ditemukan kiat atau strategi yang baik dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap air bersih dan penyehatan lingkungan. "Saya berharap kita tidak hanya menjadi penonton dan pengguna teknologi tetapi juga menciptakan teknologi terbaru dibidang tehnik lingkungan dan air bersih yang dapat dibagi kepada masyarakat yang membutuhkan," tukasnya di sela-sela acara Jumpa Pers terkait pelaksanaan IWWEF 2011 pada 2 Juli 2010 di Jakarta.
Menurut dia, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan tahun 2015, secara nasional cakupan air bersih mencapai 63 persen dan sanitasi sebesar 62 persen. Oleh karena itu diperlukan pemetaan masalah di tingkat daerah. Tujuan tersebut merupakan bagian dari Millenium Development Goals (MDGs) yang digagas tahun 2000 lalu. Program ini adalah program berkesinambungan untuk air bersih dan sanitasi bagi penduduk Indonesia.
Selama perjalanan 10 tahun ini memang masih belum terealisasi dengan baik karena menemui kendala. Ada pun kendala yang jadi perhatian adalah masih banyaknyaPerusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang belum sehat. Selain itu permasalahan air bersih dan sanitasi di kota/kabupaten belum diinventarisir dengan baik. Sehingga untuk mendapatkan solusi daerah harus duduk bareng dengan pemerintah pusat. Dikatakan pihaknya ingin melakukan langkah nyata untuk mengkonsolidasikan program pencapaian MDGs dalam sebuah Roadmap yang dapat dijadikan dasar bagi semua pihak untuk berkontribusi.
Menurut Budi, selama ini pemenuhan pencapaian MDGs Indonesia sebagian besar berada pada jalur yang benar, sebagian lainnya masih memerlukan kerja keras. Untuk itu, lanjutnya, masih perlu dilakukan penajaman guna mendorong percepatan pencapaiannya. Upaya tersebut perlu mempertimbangkan disparitas wilayah, sehingga tidak hanya dilihat dari portofolio seluruh wilayah dalam mencapai tujuan yang ditetapkan, tetapi juga pada agregat perpropinsi yang perlu menjadi tolok ukur bersama terhadap keberhasilan pencapaiannya. “Dengan demikian pencapaian akan dinilai dari keseluruhan provinsi terkait MDGs yang notabene hal ini perlu menjadi perhatian bersama khususnya dari pihak provinsi dan kabupaten/kota,” ujarnya. [eko]