Cadangan Air Indonesia Nomor 5 di Dunia
16 Juli 2010
   [Cetak]  [Kirim ke teman]  [Link]  
 

Ancaman Krisis Air Bakal Meluas

Kondisi umum sumber daya air di Indonesia berdasarkan hasil riset Pusat Penelitian dan Pembangan Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum tahun 2009 disebutkan  Indonesia masih memiliki cadangan air yang cukup besar  yaitu sebanyak 2530 km3. Atau menduduki peringkat  ke lima  di dunia .  Meski begitu,  sesungguhnya, sebaran sumber daya air di Indonesia terbukti tidak merata, di wilayah barat cukup besar namun di timur dan selatan kurang.  Sehingga ancaman krisis air disejumlah wilayah di Indonesia kerap terjadi dan dikhawatirkan akan semakin meluas.

Hal ini diperparah dengan bertambahnya jumlah penduduk yang tidak merata, seperti di pulau jawa yang hanya 7 persen dari luas lahan di Indonesia, sekitar 65 persen penduduk Indonesia tinggal di pulau ini dan potensi airnya hanya 4,5 persen dari potensi air di Indonesia, sehingga hal ini ketersediaan air di tiap-tiap wilayah tidak sama.

Ketersediaan air secara alamiah dari total aliran sungai di Indonesia selama setahun mencapai 8,96 triliun meter kubik, sementara kebutuhan total pada 2003 baru mencapai mencapai 112,27 miliar meter kubik dan proyeksi 2020 mencapai 127,7 miliar meter kubik. Namun, apabila neraca air tersebut dihitung saat musim kemarau, telah terjadi defisit karena ketersediaan air yang ada tidak memenuhi kebutuhan total di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Hampir 50 persen kebutuhan air rumah tangga berasal dari air tanah, sedangkan hampir 90 persen kebutuhan air minum baku berasal dari air sungai. Tak heran bila musim kemarau datang, terjadi krisis air baku Terkait kebutuhan air.  Kebutuhan air domestik dan nondomestik untuk perkotaan 150-158 li-ter/hari/orang, sedangkan di perdesaan sekitar 80 liter/hari/orang.

Hal tersebut terungkap dalam Seminar Ancaman Krisis Air yang diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta (15/07/10).  Dalam kesempatan itu, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Mochammad Amron menyatakan meski Indonesia kaya air, tetapi konsumsinya harus dihemat agar kebutuhan air bisa terjaga selamanya.

Sedangkan, Edi Riyadi Terre Laggut dari Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air menyatakan, berkembangnya perusahaan air minum dan privitasi badan penyediaan air bersih mempersempit ruang masyarakat berekonomi rendah mendapatkan air.

Tidak dapat dipungkiri saat ini kekeringan melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Meski secara nasional ketersediaan air diproyeksikan masih cukup hingga tahun 2020, namun ketersediaan air per pulau, seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, sudah tak memadai lagi. Surplus air hanya terjadi pada musim hujan dengan durasi sekitar lima bulan, sedangkan pada musim kemarau, terjadi defisit selama tujuh bulan.

Peneliti utama hidrologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, secara umum, potensi sumber daya air di Indonesia diperkirakan 15.000 meter kubik/kapita/tahun. Potensi lebih tinggi dari potensi rata-rata dunia yang hanya 8.000 meter kubik/kapita/tahun.

Pada 1930, Jawa masih mampu memasok 4.700 meter kubik/kapita/tahun, namun saat ini potensinya tinggal sepertiganya atau sekitar 1.500 meter kubik/kapita/tahun. Diperkirakan pada 2020, total potensinya tinggal 1.200 meter kubik/kapita/tahun. Dari jumlah itu, hanya 35 persen dari potensi tersebut yang layak secara ekonomis dikelola.

Potensi aktualnya hanya 400 meter kubik/kapita/tahun. Potensi ini jauh di bawah standar angka minimum yang ditetapkan PBB, yaitu 1.100 meter kubik/kapita/tahun. Secara nasional, lanjutnya, ketersediaan air secara alamiah dari total aliran sungai di Indonesia selama setahun mencapai J,96 triliun meter kubik, sementara kebutuhan total pada 2003 baru mencapai mencapai 112,27 miliar meter kubik dan proyeksi 2020 mencapai 127,7 miliar meter kubik. "Secara nasional masih terjadi surplus. Namun, apabila neraca air terse-but dihitung saat musim kemarau, telah terjadi defisit karena ketersediaan air yang ada tidak memenuhi kebutuhan total di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara," imbuhnya. [eko]

 
Sumber Berita Lain