Pesta pun usai. Jutaan penghuni bumi di 52 negara berkembang dari lima benua secara berjamaah telah merayakan puncak acara Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPSS) tepat pada 15 Oktober 2008. Layaknya sebuah pesta akbar, perayaan itu digelar di tanah-tanah lapang yang mampu menampung ribuan manusia.
Di Indonesia, lebih dari 40 ribu siswa, orang tua siswa, dan kader Posyandu turut meramaikan kegiatan ini yang dipusatkan di Lapangan Wisma Adiron, Jakarta dan tiga kota besar lain yaitu Bandung di Lapangan Gasibu, Yogyakarta di Alun-alun Utara, dan Malang di Stadion Kanjuruan. Selain itu, Unicef juga menggelar kegiatan serupa di 22 kabupaten di enam provinsi.
HCTPSS di Indonesia diprakarsai Departemen Kesehatan melalui Kemitraan Pemerintah-Swasta untuk Cuci Tangan Pakai Sabun (KPS-CTPS). Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Bidang Pembiayaan dan Pemberdayaan Masyarakat Naydial Roesdal, mengatakan CTPS merupakan kegiatan penting sebagai implementasi dan paradigma baru dalam pelaksanaan program kesehatan. “Acara yang pertama kali dilaksanakan ini sebagai jawaban dari seruan PBB untuk meningkatkan praktik higiene dan sanitasi di seluruh dunia,” katanya.
Slogan usang bahwa ‘mencegah lebih baik dari mengobati’ telah lama dipahami masyarakat, namun seperti tidak berpengaruh. Demikian halnya CTPS yang merupakan cara efektif dan murah untuk mencegah penyakit diare dan pneumonia yang merupakan penyakit penyebab utama kematian anak di dunia.
Kini, pesta itu menyisakan tanya dan harapan; mampukah rakyat Indonesia menjadikan kebiasaan CTPS ini sebagai sebuah budaya yang kelak memberi harapan bagi generasi penerus yang sehat dan cerdas? Dan bisakah momentum ini untuk mempercepat peningkatan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya CTPS dan menjadikannya kebiasaan rutin? Hal ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk memulainya dari diri dan keluarga masing-masing.
Keluarga Sehat
Latifa, siswi kelas V Sekolah Dasar Cipinang 10 sebelumnya tidak tahu praktik CTPS massal bersama ribuan teman-teman sebayanya pagi itu dipraktikkan pula oleh jutaan masyarakat di seluruh penjuru dunia. Begitupun dengan Nurkhasanah, ibu Latifa yang mendampingi Latifa dari sekolah menuju lapangan di depan Wisma Adiron, Jakarta .
“Kami merasa senang tidak saja karena melakukan cuci tangan secara bersama-sama, tapi lebih karena kami sudah membiasakan cuci tangan dengan memakai sabun di rumah,” ungkap Nurkhasanah kepada Percik.
Hal senada diungkapkan penyanyi dan bintang layar perak Aryo Wahab yang hari itu datang dengan menggandeng istri dan ketiga buah hatinya. Aktor utama di film “Biarkan Bintang Menari” ini merasa paling tidak tega melihat anak kecil tergeletak di rumah sakit. “Kalau memang penyakit itu bisa dicegah, kenapa harus menunggu sampai sakit dulu,” tegasnya.
Kesadaran ternyata sudah membawa kedua keluarga ini membiasakan mereka hidup bersih dan sehat, salah satunya dengan mencuci tangan dengan memakai sabun. Kapan giliran kita?! Bowo Leksono
- Panduan Pelaksanaan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun yang Pertama 15 Oktober 2008
- Link Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia / HCTPSS (Global Handwashing Day)
- Fact Sheet Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia
- Berita terkait HCTPSS:
+ Cuci Tangan Menyelamatkan Rakyat (Kompas - 15 Oktober 2008)
+ 10.000 Bocah Jakarta Cuci Tangan Bersama di Pancoran (Kompas - 15 Oktober 2008)
+ 10.000 Warga Yogya Cuci Tangan Bersama (Kompas - 15 Oktober 2008)
+ Jangan Lupa Cuci Tangan Sebelum Makan! (Detikcom - 15 Oktober 2008)
+ Cuci Tangan Tingkatkan Derajat Kesehatan (Kompas - 15 Oktober 2008)
+ Hanya 11 Persen yang Cuci Tangan Pakai Sabun Sesudah BAB (Detikcom - 15 Oktober 2008)
+ Hari Cuci Tangan di Yogya, Anak-anak Saling Ciprat Air (Detikcom - 15 Oktober 2008)
+ Hari Cuci Tangan Sedunia (Koran Tempo - 15 Oktobe 2008)
+ Ribuan Pelajar Cuci Tangan Bareng (Suara Merdeka - 16 Oktober 2008)
+ ”CTPS Ya Iyalah, Masak Ya Iya Dong” (Suara Merdeka - 16 Oktober 2008)
+ Ribuan Siswa Cuci Tangan Bersama (Koran Sindo - 16 Oktober 2008)