"Ngos-ngosan" Menerobos Semak hingga Tebing Terjal

Sumber:Kompas - 08 Agustus 2011
Kategori:Air Minum

Tim Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) pada 18-24 Juli 2011 melakukan survei air bersih di Flores, NTT. Survei ini mengawali rencana DKK membangun instalasi air dari dasar sungai sampai permukiman penduduk. Bersama warga setempat, mereka harus menerobos semak, alur sungai, hingga tebing terjal.

Lokasi perkampungan mirip punggung kuda. Jaringan jalan membelah punggung bukit. Jejeran perumahan tumbuh menyambung sepanjang dua sisi tepi jalan sekitar 2 kilometer. Tampak asri, tetapi ternyata kesulitan air bersih masih terus membelenggu.

Itulah penggalan catatan tim Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) ketika melakukan survei awal persoalan air bersih di perkampungan Dusun Lada, Desa Pong Ruan, Kecamatan Kota Komba di Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (21/7).

Dusun Lada—kini berpenduduk 1.100 jiwa atau 254 keluarga—posisinya sekitar 40 km dari Waelengga, Kecamatan Kota Komba, atau 25 km dari Borong, kota Kabupaten Manggarai Timur.

Jauh di kedalaman kaki bukitnya mengalir dua sungai, Waekutung dan Waetuan. Kedua sungai tersebut sejak lama menjadi sumber air bagi warga Dusun Lada. Sungai pertama debit airnya relatif bertahan selama kemarau. Hingga pekan ketiga Juli lalu, riak air mengalir di antara bebatuan alurnya masih terdengar jelas. Sebaliknya Sungai Waetuan, debitnya sudah merosot jauh hingga dasar alur, keruh, dan nyaris tak lagi mengalir. Baik Waekutung maupun Waetuan, dasar alurnya sekitar 300 meter dari titik tertinggi hulu Dusun Lada di Naparpata.

”Warga kampung kami sudah sejak turun-temurun kesulitan air. Sebagian waktu kerja habis hanya untuk mengambil air di Waekutung atau Waetuan. Oleh karena itu, kami berharap kunjungan tim DKK menjadi langkah awal akan mengakhiri krisis air bersih di kampung ini,” begitu lebih kurang inti pernyataan tetua Dusun Lada, Sensi Seneng, dalam bahasa setempat ketika menyambut secara adat tim DKK di Dusun Lada.

Kepala Desa Pong Ruan, Sebastianus Ndaes, melukiskan, alur dua sungai yang mengapit perkampungan Dusun Lada jauh di kedalaman jurang terjal. Kondisi itu selalu menghambat usaha mengatasi kesulitan air bersih di Dusun Lada.

”Sejauh ini sudah sembilan pihak atau lembaga, termasuk pemerintah, yang sempat berupaya mengatasi kesulitan air bersih di Dusun Lada. Semuanya menyerah dan mundur. Harapan kami, semoga Kompas (Yayasan DKK) tidak menjadi pihak ke-10 yang ikut menyerah dan mundur, tetapi menjadi pihak pertama yang berhasil mengakhiri krisis air bersih di perkampungan ini,” tutur Sebastianus Ndaes.

Giliran selanjutnya adalah survei langsung ke lapangan. Pilihannya menyusuri alur Sungai Waekutung karena pertimbangan debitnya yang relatif terjaga selama kemarau. Survei dimulai dari kawasan hulu sekitar titik Naparpata. Perjalanan hingga alur atau sebaliknya harus menerobos semak dan tebing terjal. Tim DKK bersama sejumlah warga umumnya menggunakan tongkat kayu. Tongkat tersebut memiliki fungsi sebagai alat bantu menjaga keseimbangan tubuh agar tetap mampu merangkak maju menaklukkan medan yang kian terjal.

Menyusuri alur ke arah hilir sejauh lebih kurang 300 meter, setidaknya ada tiga titik yang dimungkinkan menjadi lokasi bendungan untuk melontarkan air ke puncak bukit di hulu Dusun Lada. Dua titik pertama langsung batal karena masih merupakan wilayah desa tetangga, Mbengan. Alternatif memungkinkan jatuh di titik paling hilir, tetapi posisi alurnya kian dalam, sekitar 300 meter dari punggung kampung tertinggi.

Tantangan lainnya adalah tancapan dinding tebingnya dengan kemiringan sekitar 70 derajat. Ketika pulang melalui jalur lain dari titik paling hilir, perjalanan terasa mendebarkan jantung. Saat itu, dukungan tongkat serasa tak cukup. Warga di depan diminta mengulurkan kayu lain agar menjadi pegangan dan tumpuan merangkak maju. Keringat mengguyur sekujur tubuh dan napas pun ngos-ngosan ketika harus menaklukkan tebing terjal itu hingga puncak bukit di Naparpata.

Tujuh titik

Persoalan air bersih yang masih melilit warga Dusun Lada adalah satu dari tujuh titik survei awal tim DKK di Flores, 18-24 Juli lalu. Enam titik yang lain di antaranya adalah Kampung Tuwa di Desa Goloronggot, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, dan sumber air Mata Nini di Kampung Kalangbumbu (Manggarai Timur). Titik-titik berikutnya adalah Desa Ria (Kecamatan Riung Barat) dan Desa Rakateda 2 (Kecamatan Golewa) di Kabupaten Ngada, Kelurahan Lokoboko di Kabupaten Ende dan sejumlah desa di wilayah Paroki Habi di Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.

Survei dimulai dari barat, yakni di Kampung Tuwa. Berpenduduk sekitar 735 jiwa atau 147 keluarga, Tuwa tergolong kampung dengan kesulitan air bersih amat parah di Manggarai Barat.

Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dulla langsung menyampaikan terima kasih ketika mengetahui tim DKK melakukan survei terkait dengan kemungkinan bantuan DKK mengatasi krisis air bersih di Tuwa. ”Pilihan tim DKK ke Tuwa sangat tepat karena kesulitan airnya tergolong parah. Bagi kami, DKK akan dicatat sebagai pahlawan jika berhasil mengakhiri kesulitan air bersih di kampung itu,” kata Agustinus melalui pesan singkatnya kepada tim DKK.

Warga Tuwa, seperti disampaikan tetuanya, Antonius Najon, menggantungkan harapan tinggi kepada DKK akan mengalirkan air hingga kampung mereka. ”Kami hanya bisa berdoa (ngaji) kiranya niat Kompas akan terwujud,” tutur Antonius dalam rangkaian bahasa adat kepok manuk (pemberian ayam jantan) sebagai simbol penyambutan secara adat kunjungan tim ke kampung mereka, Rabu (20/7).

Terutama selama kemarau, warga Tuwa selama ini mengandalkan sumber air Waelongge, berjarak 2 km-3 km dari kampung mereka. Daripada Sungai Waekutung, alur Waelongge agak landai dari hulu Kampung Tuwa. Meski begitu, kegiatan survei tetap membuat kami ngos-ngosan karena harus menerobos semak berduri di bawah terik menyengat.

Di Desa Ria, Riung Barat (Ngada), warga sejak tahun 1990-an memodifikasi traktor tangan agar berfungsi ganda, yaitu selain mengolah lahan, juga bisa dipakai menjajakan air bersih selama kemarau. Harga air antaran traktor itu lumayan mahal, Rp 50.000 per 300 liter. Sebagai pembanding, di Kota Kupang biaya Rp 50.000 adalah harga satu tangki air berisi 4.000 liter.

”Krisis air bersih adalah kesulitan yang sejak lama yang selalu mencekik warga desa kami, terutama selama kemarau,” ujar Alex Songkares, Kepala Desa Ria, yang kini berpenduduk 1.028 jiwa. Di desa itu, Sungai Alolain yang berjarak 2 km-3 km dari perkampungan adalah satu-satunya sungai berdebit tinggi dan mampu bertahan selama kemarau.

Berbeda dengan sejumlah lokasi sebelumnya, wilayah Desa Teka Iku dan Desa Watuliwung—dua dari empat desa dalam wilayah pelayanan Gereja Katolik Paroki Habi—di Kecamatan Kangae, tergolong kawasan garang. Tidak ada sumber air yang bisa dialirkan hingga perkampungan. Juga sangat kecil kemungkinan menggunakan sumur bor karena lokasinya di perbukitan. Sejauh ini, warga di sana mengandalkan tampungan air hujan melalui atap rumah selama musim barat. Jika stoknya habis, warga terpaksa membeli air seharga Rp 200.000-Rp 500.000 per tangki (5.000 liter).

”Untuk mengatasi krisis air bersih, warga kedua desa itu hanya mungkin dengan bantuan 2-3 mobil tangki. Syukur jika DKK mempertimbangkan alternatif ini,” kata Pastor Paroki Habi, Romo Arkadius Dhosando Pr, bersama wakilnya, Romo Paulus Bongu Pr di Habi, Sabtu (23/7).

Pada setiap kesempatan, tim DKK mengakui betapa seriusnya krisis air bersih di Flores. Namun, diingatkan pula agar kehadiran tim DKK tidak dipahami sebagai kepastian bahwa DKK akan membantu mengatasi kesulitan yang mereka hadapi. Survei itu baru langkah awal mengumpulkan berbagai informasi dari lapangan yang nantinya akan dipresentasikan kepada jajaran pimpinan di Jakarta. (ANS/NAS)



Post Date : 08 Agustus 2011