Pemkot Seriusi Pengolahan Air Laut

Sumber:kaltimpost.co.id - 20 November 2014
Kategori:Air Minum
Sejumlah persoalan terkait masalah krisis air di Kota Minyak, masih menjadi perbincangan hangat. Di tengah kerusakan intake Waduk Manggar dan lambatnya pembangunan Waduk Teritip, Pemkot Balikpapan mulai menyeriusi pengolahan air laut untuk didistribusikan menjadi air bersih.

Hal tersebut terkuak dalam sebuah diskusi bertajuk, Mencari Solusi Air Baku dan Inovasi Teknologi Pengolahan Air di Balikpapan di The New Benakutai Hotel. Dalam pertemuan tersebut, sejumlah skenario pengolahan air dari berbagai sumber dan pemaparan teknologi pengelolaan air dibahas secara khusus. Misalkan, memaksimalkan Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja, Kukar dan sungai di Penajam Paser Utara (PPU).

Selain itu, mempercepat proses pembangunan Waduk Teritip sebagai alternatif penyimpanan cadangan air baku. Namun, kedua skenario memiliki kekurangan. Persoalan perizinan dan rendahnya mutu air menjadi kendala. Termasuk saat ini proses pembebasan sebagian lahan Waduk Teritip yang menjadi persoalan.

“Jadi saat ini yang tercepat memang adalah pengolahan air laut. Meski memerlukan biaya mahal, tapi itu alternatif yang terbaik,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Balikpapan, Suryanto.

Aturan pengolahan air laut, kata dia, diharapkan segera dirancang. Termasuk menentukan sasaran calon pembeli air tersebut. Apalagi, segmentasi calon pembeli hasil penyulingan air laut ini diperkirakan adalah kalangan bisnis, seperti pertokoan, mal, dan hotel.

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Manggar, Muhammad Saufan mendukung hal itu. Saat ini, kata dia, PDAM sudah berupaya memburu sumber mata air di Balikpapan. Di sejumlah kawasan, seperti di Gunung Pasir, menyimpan potensi air tanah yang besar. Namun, kandungan air yang dihasilkan memiliki suhu yang panas.

Selain berpengaruh kepada proses pengolahan, air tersebut dikhawatirkan akan merusak lokasi penyimpanan air. Di lain sisi, ada juga kawasan sumber air yang sudah bercampur dengan laut. Seperti di Balikpapan Timur. “Untuk harga pokok produksi (HPP) pengolahan air laut, diperkirakan mencapai Rp 24 ribu per meter kubik. Sedangkan untuk pengolahan air tawar hanya Rp 6 ribu per meter kubik. Tapi sebenarnya hal ini bisa dicarikan solusinya. Seperti penjualan secara subsidi silang,” papar Saufan.

Kepala Dinas PU Balikpapan, Tara Allorante sependapat. Ia meyakini pengelolaan air laut tersebut akan berdampak besar terhadap masalah krisis air di Kota Minyak. Untuk pembuatan infrastrukturnya, akan dipelajari lebih jauh melihat contoh pengembangan di sejumlah daerah. “Biar berapa pun harga air, namanya juga kebutuhan dasar manusia, pasti akan dibeli,” ujarnya


Post Date : 21 November 2014