Masalah Sampah di Purwokerto Sudah Urgent

Sumber:satelitnews.co - 6 Mei 2013
Kategori:Sampah Luar Jakarta

SIAPA sangka, jika sampah yang biasa kita buang itu ternyata masih memiliki nilai ekonomi. Bahkan sampah bisa menjadi ‘tabungan’ masa depan.

Inilah yang diucetuskan Henry Budi sejak tahun 2009 silam. Saat itu, Henry khawatir dengan kondisi Sungai Pelus di Kelurahan Arcawinangun. Pasalnya, hampir 99 persen masyarakat membuang sampah di kawasan ini. Termasuk mereka yang tinggal di kawasan sekitar sungai.

Henry pun melakukan pemetaan swadaya untuk menganalisis potensi maupun permasalahan sampah yang ada di Kelurahan Arcawinangun. Delapan bulan lamanya, Henry dan kawan-kawannya melakukan pemetaan hingga akhirnya menemukan beberapa permasalahan sosial.

“Kita di sana menemukan fakta kalau sampah-sampah yang dibuang itu ternyata malah dijadikan mata pencaharian warga setempat,” katanya.

Henry pun berusaha mencari solusi. Apalagi dari hasil penelitian yang dilakukannya, tanah dan air di sini sudah tercemar polusi. Lewat internet, Henry pun menemukan artikel soal bank sampah yang ada di Bantul. Maka, berangkatlah ia dan pemerintah desa ke Bantul untuk menimba ilmu soal sampah.

Hingga akhirnya, pada 27 Desember 2010, Henry pun mendirikan gerakan yang disebut Bank Sampah Peduli Akan Sampah (PAS) Arcawinangun. Saat itu, dirinya belum memiliki kantor dan sasaran utama gerakan ini adalah ibu-ibu rumah tangga.

Layaknya sebuah bank, maka gerakan ini pun bekerja hampir mirip dengan bank. Warga yang menabung disebut nasabah. Warga yang telah menjadi nasabah cukup menabung sampah mereka setiap hari Minggu. Namun sebelumnya, bagi sampah anorganik akan dipilah terlebih dulu ke dalam empat jenis, yakni logam, kaca, kertas, dan plastik. Setiap sampah yang ditabung akan ditimbang dan dihargai senilai uang.

Nilai uang itulah yang akan dimasukkan ke dalam buku tabungan mereka. Hasil tabungan mereka nantinya akan dikumpulkan, untuk kemudian diputar. “Hasilnya akan kembali ke mereka untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Tak hanya itu, perputaran uang Bank Sampah PAS pun digunakan untuk mengelola unit usaha berupa agen penjualan gas dan pembuatan paving. Keuntungannya nanti bisa pula digunakan untuk kepentingan masyarakat, khususnya nasabah seperti bantuan pendidikan siswa miskin atau permasalahan sosial lainnya.

Menurut Henry, masyarakat kini bergaya hidup konsumtif dan ingin serba instan. Oleh karena itu, bank sampah berusaha untuk memberikan manfaat secara langsung, tanpa mereka harus melakukan pengorbanan terlalu banyak.

“Namun bukan berarti, dengan adanya bank ini kami mengajari masyarakat untuk membuang atau membuat banyak sampah. Malah sebaliknya, kami ingin agar masyarakat sadar, kalau ini ternyata banyak kegiatan mereka yang menghasilkan sampah, yang seharusnya bisa diminimalisasi,” ujarnya.

Kini, nasabah bank sampah telah mencapai angka lebih dari 500 orang. Namun tak hanya mereka yang tergabung di dalamnya. Pasalnya, Bank Sampah PAS pun mendampingi komunitas-komunitas masyarakat mandiri di beberapa wilayah, sehingga mereka mampu mengelola sampahnya sendiri.

“Saya berharap kegiatan ini bisa jadi tradisi dan budaya positif di masyarakat. Kalau budaya kan tidak akan berhenti, bakalan terus aja,” katanya.

Apalagi, lanjut Henry, masalah sampah di Purwokerto sudah tergolong urgent meski tak bisa dihitung berapa beratnya. Namun, apakah suatu saat Purwokerto kemungkinan akan menjadi kota sampah?

“Bicara soal sampah, kita nggak bisa menghindari yang namanya kota sampah. Sampah punya hukumnya, berbanding lurus dengan populasi. Semakin banyak masyarakat yang berkegiatan, maka akan semakin banyak juga sampah yang dihasilkan. Yang bisa kita lakukan hanya menjadi manusia yang bijak dalam hal pengelolaan sampah,” ujarnya.

 



Post Date : 06 Mei 2013