Sektor Sanitasi Perlu Dukungan Swasta

Sumber:Jurnal Nasional - 21 Oktober 2013
Kategori:Sanitasi
PEMBANGUNAN sektor air minum dan sanitasi di Indonesia dinilai tidak akan bisa mencapai target Sasaran Pembangunan Milenium (MDG) bila hanya mengandalkan pemerintah pusat, karena itu membutuhkan dukungan swasta dan pemda.

"Besarnya kebutuhan dana untuk pembangunan sektor air minum dan sanitasi di Indonesia tidak akan bisa ditutupi jika hanya mengandalkan dana dari pemerintah pusat," kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dalam keterangan Pusat Komunikasi Publik Kementerian PU yang diterima di Jakarta, akhir pekan.

Untuk itu, ujar Djoko, diperlukan keterlibatan dari pemerintah daerah, dunia usaha dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan sektor air minum dan sanitasi khususnya dalam upaya mengejar target MDG.

Dia mengungkapkan, kebutuhan dana untuk mencapai MDG 100 persen di seluruh Indonesia hingga target pada tahun 2019 mendatang adalah senilai Rp659 triliun.

"Dari pusat kalau Rp660 triliun tidak bakal tercapai. Untuk itu swasta melalui kemitraan pemerintah dan swasta (KPS), APBD, BUMD juga harus jalan," ujarnya.

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas, Dedy Supriatna mengungkapkan rincian kebutuhan dana untuk pembangunan air bersih sebesar Rp274 triliun untuk 108 juta jiwa dan kebutuhan pembangunan sanitasi senilai Rp385 triliun untuk menyasar 123 juta jiwa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian PU hingga akhir 2012 cakupan akses air minum nasional baru 58,05 persen dan capaian sanitasi 57,35 persen.

Sebagaimana diberitakan, pemerintah telah menyepakati pinjaman senilai US$50 juta dari Pemerintah Hungaria untuk peningkatan akses masyarakat terhadap air minum bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Djoko Kirmanto yang menyaksikan penandatanganan kesepakatan tersebut di Budapest, Hungaria menjelaskan dana tersebut diperuntukkan layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) pada 30 ibu kota kecamatan di Sumatera dan Jawa.

"Penggunaannya khususnya bagi kawasan yang belum memiliki Sistem Penyediaan Air Minum, kawasan rawan air yang air tanah dangkalnya tidak dapat dimanfaatkan sehingga dapat menyelesaikan permasalahan utama masyarakat tentang ketersediaan dan kebutuhan air minum," katanya menjelaskan.

Sebelumnya, Assistant Brand Building Manager Domestos Toilet Cleaner dan Vixal PT Unilever Indonesia Tbk, Johan Mantik, mengatakan berdasarkan data yang dikeluarkan PBB disebutkan bahwa Indonesia menduduki urutan kedua di dunia sebagai negara dengan sanitasi buruk.

Johan Mantik pada acara "World Toilet Summit 2013" di Solo, Rabu (2/10), menyebutkan, masih mendasarkan data tersebut, sebanyak 100 juta dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia belum memiliki akses sanitasi yang baik.

Menurut dia, data global pada 2010 mengungkapkan bahwa 63 juta penduduk Indonesia tidak memiliki toilet dan masih Buang Air Besar (BAB) sembarangan di sungai, laut atau di daratan. Wahyu Utomo


Post Date : 21 Oktober 2013