Rp60 Triliun untuk IPALT

Sumber:Media Indonesia - 08 April 2014
Kategori:Air Minum
DKI Jakarta mem butuhkan dana Rp60 triliun un tuk membangun instalasi pengolahan air limbah terpadu ( IPALT ) di Ibu Kota karena sarana itu masih sangat terbatas dan baru mampu mengatasi sekitar 3% limbah di Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun meminta pemerintah pusat untuk membiayai pembangunannya. “Harus segera dilakukan. Dananya gede banget. Makanya harus duet, ini harus duet semuanya, sama pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Misalnya, ini dibagi pemerintah pusat bikin pipa utamanya, lalu Pemprov DKI bikin pipa rumah tangganya agar cepat rampung,“ ujar Gubernur DKI Joko Widodo.

Menurut Jokowi, pembangunan IPALT itu penting supaya bisa mengurangi air limbah masuk ke sungai. Adanya pengolahan air limbah itu juga bisa berpengaruh terhadap kesehatan, karena air sungai dan air tanah tidak akan tercemar.

Jokowi pun merasa malu dengan negara tetangga yang sistem IPALT-nya sudah mencapai 17%. “Malu kita dengan Singapura sudah bisa mengolah limbahnya 17%.

Limbah rumah tangga seharusnya masuk ke pipa, bukan masuk ke tanah. Nantinya akan merusak, mengotori, dan mencemari air tanah. Maka semuanya jadi rusak,“ jelasnya.

Selain dari negara tetangga, IPALT di Jakarta juga jauh tertinggal dari kota-kota lain di Indonesia seperti Bandung, Yogyakarta, Cirebon, dan Medan. Di kota-kota itu, pengolahan air limbah sudah di atas 3%. Di Jakarta, pengolahan limbah rumah tangga baru terdapat di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Terhenti

Program pengolahan limbah rumah tangga secara terpadu di Jakarta telah terhenti sejak ada pembangunan gedung IPALT Setiabudi sebagai proyek percontohan pada 1991 silam. Akibatnya, pengolahan limbah hanya mencakup air limbah di kawasan Setiabudi dan sekitarnya.

Dalam perencanaan sebelumnya, ada lima zona IPALT yang akan melayani pembuangan limbah dari 700 ribu jiwa warga DKI.

Salah satunya ialah zona sentral yang akan dibangun Pemprov DKI bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Nilai proyeknya mencapai Rp3,8 triliun. Pembiayaannya, Rp3,1 triliun dari pemerintah pusat dan Rp700 miliar dari APBD DKI.

Zona sentral akan menjadi prioritas utama karena untuk mengembangkan IPALT Setiabudi. Di zona sentral itu akan dibangun pipa penyalur air limbah berdiameter 1,8 meter di sepanjang kawasan Setiabudi dan jalan-jalan di Jakarta Pusat menuju ke Gajah Mada-Hayam Wuruk lalu terpusat ke Pluit.

IPALT juga akan dibangun di kawasan utara Jakarta, yang nantinya seluruh pipa penyalur air limbah di lima zona tersebut akan mengalirkan air limbah ke lokasi itu. Ada dua alternatif lokasi pembangunan IPALT, yaitu sekitar pinggiran Waduk Pluit dan Muara Angke.

Namun yang pasti, dari lima zona yang akan digarap, kawasan Setiabudi akan menjadi kawasan yang diprioritaskan. Sementara itu, zona lainnya yang akan dibangun, yakni zona barat laut, akan memakai pipa bawah tanah untuk penyalur air limbah di sepanjang kawasan Mangga Besar, Gunung Sahari, Pademangan sampai Sunter, dan berakhir di IPALT.

Kemudian zona barat daya di sepanjang kawasan Palmerah, Slipi, dan Kebon Jeruk juga berakhir di IPALT. SELAMAT SARAGIH

Post Date : 08 April 2014