Cadangan Air Tanah Menuju Habis

Sumber:Kompas. Senin, 22 Maret 2010
Kategori:Hari Air Sedunia 2010

Seperti untuk hal vital lainnya, air memiliki hari internasionalnya. Hari air sedunia itu ditetapkan setiap 22 Maret. Untuk peringatan dan perayaannya, sosialisasi penuh seremoni dilakukan di mana-mana, tidak ketinggalan di Yogyakarta. Dengan cadangan air tanah yang menuju habis, sosialisasi tidak cukup terjadi hanya pada hari peringatannya dan setelah itu lupa.

Minggu (21/3) digelar Grebeg Air di Kampung Wisata Sidoakur, Jethak II Sidokarto, Godean, Sleman. Beragam acara dilakukan. Ada pengenalan lubang resapan biopori dan cara membuatnya oleh Wakil Bupati Sleman Sri Purnomo, cuci tangan bersama, hingga mengecat tembok kamar mandi umum.

Sepak bola lumpur pun diadakan tanpa penjelasan maksud. Seperti biasa hadir juga Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok) yang selalu ada di setiap acara apa pun juga di Yogyakarta.

Acara dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yang digelar Radio Female Jogja bersama Borda Indonesia itu dimaksudkan untuk memecahkan rekor antrean toilet terpanjang di dunia. Niatnya, rekor yang pecah akan dicatatkan dalam Guinness Book of Record.

Ada sekitar 550 orang antre. Mereka warga sekitar yang bergantian masuk ke toilet umum. Memang hanya simbolis dan tidak segebyar judul acaranya. Didaftarkan ke museum rekor dunia, sepertinya agak berlebihan. Namun, pimpinan proyek Dian Purnomo punya alasan.

"Memang hanya simbolis acara ini. Sekadar mengingatkan, masih banyak penduduk di Indonesia yang kekurangan air dan belum mempunyai fasilitas sanitasi yang memadai. Bahkan, di Amerika Serikat pun masih ada yang seperti itu. Karena itulah, Grebeg Air akan kami daftarkan ke Guinness Book of Record," katanya.

Toilet umum di kampung wisata itu berupa enam WC umum dan empat kamar mandi. Fasilitas yang dibangun tahun 2007 oleh Borda Indonesia dan Decentralized Wastewater Treatment System Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (Dewats LPTP) itu mengolah limbah menjadi biogas.

Gerakan hemat dan menghargai air seperti tema lingkungan lain memang sedang "naik daun". Mereka yang perhatian pada lingkungan gencar melakukannya. Semangat yang dibawa tentang kewaspadaan krisis air dan krisis lingkungan yang mendahuluinya sudah mengintai.

Menuju habis

Agus Maryono, pakar air dan lingkungan yang juga Direktur Magister Sistem Teknik di Universitas Gadjah Mada, mengatakan, krisis air ini akan mencapai titik terparah dengan cepat jika warga tak segera sadar bahwa cadangan air bisa menuju habis.

"Warga sudah merasakan sebenarnya. Ambil saja contoh kecil, yakni ketika sumur-sumur harus terus diperdalam setiap beberapa tahun. Itu artinya tinggi permukaan air tanah berkurang dan terus berkurang. Air bawah tanah kita terancam habis," kata Agus.

Gerakan hemat air, menurut Kepala Kantor Lingkungan Hidup Sleman Epiphana, harus mulai digencarkan. Tak ada salahnya juga untuk melihat aktivitas sehari-hari yang berpotensi boros air. Misalnya, jangan sampai keran masih terbuka saat bak penuh. Atau saat wudu. Menurut Epiphana, sisa air wudu sebenarnya tidak terlalu kotor dan bisa dipakai menyiram tanaman.

Menurut Agus, mengubah kebiasaan warga untuk hemat air masih cukup sulit. Demikian juga untuk membuat sumur resapan air sehingga solusi paling cepat dan bisa diterima publik membuat lubang resapan biopori. Jadi, air hujan tak langsung lolos ke sungai, tapi ditahan di dalam tanah dan menjadi cadangan air tanah.

Pemerintah dinilai belum optimal berupaya. "Gerakan membuat lubang biopori mestinya didukung dengan memberi fasilitas alat ke semua RT," katanya.

Sosialisasi gencar perlu juga "disuntik" fasilitas dari pemerintah daerah. Ketersediaan air yang menuju habis tidak cukup diratapi dengan seremoni. (PRA)
 



Post Date : 22 Maret 2010