Garut Tawarkan TPA 105 ha

Sumber:Pikiran Rakyat - 09 Mei 2006
Kategori:Sampah Luar Jakarta
GARUT, (PR). Kabupaten Garut menyiapkan lahan seluas 105 hektare di Kec. Kadungora, untuk tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Jika Kota Bandung masih kesulitan mencari tempat pembuangan sampah, lahan tersebut bisa digunakan. "Syaratnya, ada keuntungan atau kontribusi yang bisa diperoleh Kab. Garut dan masyarakat setempat," kata Bupati Garut H. Agus Supriadi, saat melakukan peninjauan ke tiga lokasi di Desa Mandalasari, Kec. Kadungora, yakni ke Blok Pasirmalang, Legokkerak, dan Jangkurang, Senin (8/5).

Sementara itu, investor yang sedang mencari lokasi TPA untuk sampah dari Kota Bandung mengatakan kepada "PR", lokasi yang disebutkan Bupati Garut tersebut belum pasti menjadi daerah pilihan. Pasalnya, pencarian lokasi serupa masih dilakukan di Kab. Bandung. "Prosesnya masih panjang," kata investor yang menolak disebut namanya.

Bupati Garut menjelaskan, dia sangat prihatin dengan masalah sampah yang dihadapi Kota Bandung. Semakin prihatin lagi setelah mendengar Kota Bandung dinyatakan sebagai darurat sampah. Karena itulah, ia mencoba membantu mencarikan solusi terbaik untuk mengatasi hal itu. Solusinya, antara lain dengan menyiapkan lokasi buat TPA sampah yang punya daya tampung besar.

"Garut menawarkan solusi, tapi harus saling menguntungkan. Nantinya, Garut harus menerima kompensasi atas sampah yang dibuang, apakah dihitung per kubik atau per ton. Itu tergantung kesepakatan nanti," katanya.

Ditambahkan, biasanya sampah di TPA diolah menjadi kompos atau energi listrik, sehingga tidak akan menggunung atau menyebabkan bau menyengat. "Nah dari pengolahan sampah itu, Garut harus memperoleh keuntungan juga," tuturnya. "Saya dengar kalau TPA jadi dibangun, perusahaan pengolahan sampahnya membutuhkan sekira 300 tenaga kerja. Tenaga kerjanya diharapkan ada dari warga setempat," ujar Agus Supriadi.

Amdal

Lahan seluas 105 hektare yang direncanakan menjadi TPA itu berada di kawasan perbukitan, tidak jauh dari kawasan Gunung Mandalawangi. Tanah milik Desa Mandalasari tersebut, jauh dari pemukiman penduduk. Biasanya ditanami jagung, ketela pohon, terkadang sayur-sayuran.

Jalan masuk ke lokasi belum diaspal dan masih berupa tanah yang diselingi bebatuan. Di jalan tersebut, sekira 2 km dari jalan alternatif Cijapati-Kadungora, ada jembatan sepanjang 3 meter yang terbuat dari kayu. Semua itu tentu akan menjadi kendala, sehingga TPA tidak cepat diwujudkan. "Saya kira itu bukan masalah. Semuanya bisa dibangun," tutur Bupati.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Setda Garut H. Suherman mengatakan, berdasarkan kajian, lahan tersebut cocok untuk lokasi TPA. Kajian itu pernah dilakukan Prof. Dr. Mukhlis dari ITB. Hasilnya, lokasi itu tidak akan jadi masalah bila dijadikan TPA.

Menurut Agus Supriadi, sebelum TPA dibangun memang harus ada kajian dulu, termasuk harus dilakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) oleh pihak yang mempunyai keahlian.

Sementara itu, Bupati Bandung, Obar Sobarna ketika ditemui "PR" di Gedung Sate, mengemukakan, pihaknya tengah berupaya mencari lokasi untuk TPA guna membantu penanggulangan sampah Kota Bandung dan Kota Cimahi.

Menyinggung lokasi untuk TPA, kata Obar, itu masih dirahasiakan. Karena selain masih dalam pengkajian, juga dalam tahap sosialisasi kepada masyarakat. Jika sampai diekspos, ia khawatir akan terjadi persoalan seperti di Kec. Citatah. Masyarakat di sana akhirnya menolak rencana tersebut. "Yang jelas, lokasinya di Kab. Bandung," ujarnya.

Menurut Obar, lokasi yang akan dijadikan TPA untuki sampah dari Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kab. Bandung itu, rencananya akan digunakan selama 1,5 - 2 tahun. (A-112/A-136)

Post Date : 09 Mei 2006