Hikayat Bank Dunia

Sumber:Kompas - 24 Juli 2007
Kategori:Umum
Anaknya sakit-sakitan. Pada 1997, Bank Dunia merampas haknya atas air bersih melalui privatisasi. Presiden Evo Morales berupaya merebut kembali hak rakyat meski harus berhadapan dengan Bank Dunia.

Nasib serupa dialami Hawa Amadu, yang membesarkan cucunya di kawasan kumuh Accra, ibu kota Ghana. Tak ada akses air bersih dan listrik. Bank Dunia mengancam tidak mengucurkan pinjaman kecuali Pemerintah Ghana mencabut subsidi. Ongkos kebutuhan hidup melangit setelah subsidi publik dicabut.

Hal sama dialami Muracin Claircin, petani padi dari Haiti. Pada 1995, Bank Dunia meminta Pemerintah Haiti menghapus rintangan impor. Haiti kebanjiran beras Paman Sam yang disubsidi Pemerintah AS. Muracin menganggur, keluarganya kelaparan.

"Global governance"

Mereka bukan anekdot, tetapi skandal nyata Bank Dunia yang menyebabkan ribuan kaum miskin sekarat (Johann Hari, The Independent, 27/4/2007).

Wabah kemiskinan merupakan skandal kemanusiaan yang amat memalukan, lebih dari sensasi skandal Wolfowitz, yang menaikkan gaji pacarnya 300.000 dollar AS per tahun. Kendati lembaga yang beranggotakan 185 negara itu rajin melansir kisah sukses (successful outcomes), realitas menjadi fakta tak terbantah.

Keterlibatan Bank Duniajuga saudara kandungnya, IMFdalam membuat kebijakan di negara dunia ketiga berbuah jadi malapetaka. Di kawasan sub-Sahara, Afrika, nyaris 30 tahun secara intensif lembaga multilateral itu mendikte kebijakan pemerintah. Hasilnya, pendapatan rata- rata penduduk menurun dibandingkan dengan tahun 1980, sektor kesehatan stagnan, dan kegagalan ekonomi menyulut konflik berkepanjangan.

Raison detre Bank Dunia untuk menanggulangi kemiskinan ibarat mitos. Bank Dunia, juga IMF, merupakan lembaga publik yang beroperasi berdasar iuran negara anggota. Namun, keputusan dan kebijakan lembaga itu tak menguntungkan negara miskin, sarat muatan ideologi dan politik (Stiglitz, 2002). Bukan hal aneh jika negara maju berupaya mengendalikan Bank Dunia dan IMF karena merupakan lembaga paling berpengaruh di muka Bumi.

Lahir dari Konferensi Bretton Woods, Juli 1944, old boys system yang usang dilanggengkan. Bank Dunia seolah merupakan jatah AS, sementara Eropa kebagian mengurus IMF. Lebih dari 60 tahun, Bank Dunia dipimpin warga negara AS, bermarkas di Washington dan secara permanen AS memiliki hak veto. Padahal, tidak ada aturan dalam Articles of Agreement Bank Dunia yang menyatakan, Presiden Bank Dunia harus dipilih oleh Presiden AS.

Secara fundamental, pendulum globalisasi tak lepas dari siapa yang menjalankan ekonomi global dan apa kepentingannya. Mekanisme tata kelola ekonomi global terkait aktor, sistem, dan dampak yang ditimbulkan.

Siapa yang menjalankan lembaga multilateral itu amat penting karena menentukan program dan kebijakan yang diambil. Selama ini posisi negara dan orang miskin tidak terwakili dalam struktur tata kelola meski mereka menjadi obyek utama Bank Dunia.

Pemimpin baru

Selama enam dasawarsa berjaya, kini rezim Bretton Woods kehilangan muka. Wolfowitz mengukir sejarah baru, untuk pertama kali Presiden Bank Dunia harus mundur sebelum waktunya karena alasan nonkesehatan. Peraih Nobel Ekonomi Joseph Stiglitz menyarankan, "it would be good for the institution at this juncture if they had somebody who was an economist who really understood what development is".

Celakanya, Presiden AS George W Bush ngotot menggunakan tradisi usang dalam memilih pengganti Wolfowitz tanpa ada transparansi dan akuntabilitas. Pemilihan presiden baru Bank Dunia berlangsung melalui seleksi amat tidak demokratis (democracy deficit). Meski mendapat kritik tajam, Bush menominasikan calon tunggal, Robert B Zoellick, internasionalis yang sukses membawa China bergabung ke WTO. Zoellick yakin pada kekuatan pasar dan perdagangan bebas dalam memberantas kemiskinan.

Pada usianya yang ke-63, kini Bank Dunia memilih Zoellick sebagai nakhoda baru. Ia langsung disergap tantangan besar, yakni membangun kembali lembaga itu dari demoralisasi, krisis legitimasi dan kredibilitas. Zoellick juga dinanti dua miliar kaum miskin yang hidup di bawah 2 dollar AS per hari. Semoga Bank Dunia tidak mengulang kesalahan yang sama, menyuruh orang buta untuk menuntun orang buta.

Imam Cahyono Peneliti; Program Officer Globalisasi Perkumpulan Prakarsa



Post Date : 24 Juli 2007