Infeksi Serang Pengungsi

Sumber:Republika - 03 Januari 2005
Kategori:Sanitasi
SIGLI -- Infeksi pada tubuh kini menjadi salah satu penyakit yang dominan mendera para pengungsi korban bencana gempa dan tsunami Aceh. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie, Abdul Wahab, mengatakan infeksi itu timbul pada luka lecet atau luka dalam akibat terkena benda-benda tajam.

''Mereka tidak mendapatkan penanganan medis sejak awal, sehingga luka mereka kini sudah menimbulkan infeksi yang parah,'' kata Abdul, Ahad (2/1) di Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie, Aceh. Untuk penanganan infeksi itu, jelasnya, dibutuhkan banyak obat antibiotik, baik untuk dikonsumsi secara oral maupun injeksi.

Penderitaan infeksi itu sendiri, menurut Abdul, terutama dialami para pengungsi asal Banda Aceh. Mereka, yang kini banyak mengungsi ke Pidie, membawa luka infeksi itu disebabkan oleh kuman atau dihinggapi lalat akibat banyaknya mayat yang membusuk di Banda Aceh.

Saat ini, kata Abdul, jumlah pengungsi di 14 titik pengungsian di Kabupaten Pidie sudah mencapai 40 ribu orang. Jumlah sebanyak itu terjadi, kata dia, setelah mendapat tambahan dari pengungsi yang meninggalkan Banda Aceh.

Selain itu, para pengungsi di sana berasal dari 11 kecamatan dari 30 kecamatan yang terkena tsunami di sekitar pesisir timur dan utara Kabupaten Pidie. Daerah Sigli juga menjadi tujuan bagi korban bencana yang berasal dari Meulaboh --salah satu daerah di pantai barat Aceh yang paling parah terkena gelombang tsunami.

Mereka juga terserang infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), flu, demam, dan gatal-gatal. Salah satu penyebabnya, tutur Abdul, akibat dari buruknya kondisi kamp pengungsian, kurangnya air bersih, dan buruknya sanitasi. ''Maklum saja, pertolongan belum banyak berdatangan, sementara kita sendiri kesulitan,'' katanya.

Saat ini, sejumlah daerah di Nanggroe Aceh Darussalam, termasuk di Pidie, sedang mengalami iklim pancaroba. Dalam tiga hari terakhir, angin kencang dan hujan deras sering mengguyur dari pagi hingga malam hari. Keadaan ini semakin memperburuk kondisi kamp pengungsian. Apalagi, banyak kamp yang hanya menggunakan tenda-tenda darurat. Pasalnya, gedung, masjid, atau sekolah yang mereka gunakan tidak cukup untuk menampung kelompok-kelompok pengungsi.

Laporan : zam/dwo

Post Date : 03 Januari 2005