Jangan Sepelekan Diare Pada Anak

Sumber:Koran Sindo - 25 Juli 2011
Kategori:Sanitasi

Diare datang tidak memandang siapapun, termasuk anak-anak dan balita. Hal itu disebabkan daya tahan tubuh mereka yang masih rendah. Ironisnya, tak sedikit orang tua yang menyepelekan penyakit ini sehingga banyak anak yang akhir mengalami dehidrasi akut dan berujung pada maut.

Oleh karena itu, tak heran jika di Indonesia diare adalah salah satu dari 10 penyakit yang paling sering terjadi pada anak-anak. Seorang anak dinyatakan menderita diare bila buang air besarnya “lebih encer” dan “lebih sering” dari biasanya. Tinja anak diare dapat mengandung lendir dan darah, tergantung pada penyebabnya.

Gejala ikutan lainnya adalah demam dan muntah. Kadangkala gejala muntah dan demam mendahului gejala mencretnya. Terjadinya diare bisa disebabkan dua hal, yakni infeksi bakteri dan noninfeksi. Noninfeksi bisa berupa makanan yang tidak cocok dengan usus sehingga ditolak. Pada kasus diare, usus besar yang seharusnya menyerap air malah mengeluarkan air.

Dengan demikian, feses menjadi encer dan penderita mengalami dehidrasi. Pada penderita diare, 70% kandungan feses adalah air. Jika penderita kekurangan air hingga 25%, dampaknya bisa fatal, bahkan meninggal. Sebab, kekurangan 2% cairan tubuh saja sudah bisa mengganggu metabolisme.

Di antara penyebab diare tersebut yang paling sering adalah karena infeksi dan keracunan makanan. Penyebab infeksi bisa karena bakteri, virus, protozoa,dan parasit. Dan penyebab diare karena infeksi terbesar adalah karena virus, yaitu rotavirus. Sedangkan diare yang disebabkan oleh kuman biasanya disebarkan melalui rute fekal-oral, yaitu makanan yang dikonsumsi kontak dengan tinja.

Perjalanan kuman ini dapat langsung melalui tangan, makanan, minuman, tanah atau perantara binatang seperti lalat, kecoa, dan tikus. Tingkat keparahan diare dapat ditentukan berdasarkan derajat dehidrasi yaitu diare tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, sedang, dan berat.

Penilaian derajat ini dapat ditentukan berdasarkan beberapa parameter, seperti perbandingan berat badan sebelum dan sesudah diare. Dari jumlah berat badan yang turun dapat ditentukan tingkat derajat dehidrasi. Jika berat badan turun < 5% berarti telah terjadi dehidrasi ringan, sedangkan 10% berarti derajat sedang, dan >10% adalah dehidrasi berat.

Jadi orangtua penting untuk mengetahui berat badan anaknya sebelum terjadi diare. Selain itu, penentuan derajat dehidrasi dapat dinilai berdasarkan tanda-tanda vital seperti kesadaran, laju nafas, laju nadi, dan suhu. Dapat juga dilihat rasa haus anak, apakah anak tampak haus atau sangat kehausan.

Kemudian berdasarkan pemeriksaan fi sik yaitu kecekungan ubun-ubun (jika ubun-ubun belum menutup) dan mata, selaput lendir mulut dan bibir basah atau kering. Pun dari penilaian turgor (kekenyalan) kulit, dan menghitung jumlah urin yang keluar. Derajat keparahan ini akan berpengaruh terhadap pengobatan dan komplikasi yang mungkin terjadi.

Segera Hentikan Diare

Walaupun kebanyakan penderita diare sembuh tanpa mengalami kesulitan, akan tetapi sebagian kecil dapat mengalami komplikasi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi, seperti gangguan elektrolit, demam, asidosis, hipokalemia, kejang, ileus, intoleransi laktosa, muntah dan gagal ginjal.

Bagaimana diare yang perlu diwaspadai? Jika volume feses dalam jumlah banyak, sangat encer seperti air beras, berbau busuk, berlendir atau berdarah dan warnanya berubah, segera bawa anak atau balita Anda ke dokter. Sehingga tidak terjadi dihidrasi, karena kalau sering buang air akan menimbulkan kekurangan cairan dalam tubuh.

 Pada keadaan dehidrasi berat nafas tampak sesak karena tubuh kekurangan zat basa (menderita asidosis). Bila terjadi kekurangan elektrolit dapat terjadi kejang. Sehingga penyakit diare dapat mengakibatkan kematian bila dehidrasi tidak diatasi dengan baik dan dapat mencetuskan gangguan pertumbuhan (kurang gizi) bila tidak diberikan terapi gizi maupun pengobatan yang baik.

Oleh karena itu, prinsip pengobatan diare adalah mengganti cairan yang hilang (rehidrasi), dapat melalui mulut (minum) maupun melalui infus (pada kasus dehidrasi berat). Kendati dapat menyebabkan kematian, sebagian besar diare pada anak akan sembuh tanpa pemberian antibiotik dan antidiare.

Salah satu ada obat yang dapat mencegah diare pada anak seperti ENTROSTOP ANAK. Entrostop yang telah lebih dari 37 tahun bersama keluarga Indonesia mengatasi diare dengan cara tepat yaitu seketika: serap dahulu kuman dan penyebab diare, keluarkan kuman dan penyebab diare tersebut hingga usus kembali normal dan hentikan diare sampai tuntas.

Karena obat ini memiliki komposisi yang dapat menetraliser penyakit mencret pada anak. Pasalnya, obat ini terbuat dari bahan alami tiap 10ml mengandung: Guava Leaf Extract (daun jambu) 100 mg, Curcuma Domestica Rhizome Extract (kunyit) 80 mg, Camelia SInensis LEaf Extract (daun teh) 45 mg, Zingiber Off cinale Rosch Rhizome Extract (jahe) 50 mg. Supaya anak suka mengkonsumsinya obat ini diberi rasa sirup jambu (manis).

Pada komposisi obat ini semuanya alami sehingga sangat aman dikonsumsi oleh anakanak, bahkan dengan mengkonsumsi obat ini dapat membantu mengurangi kontraksi usus dan menurunkan permeabilitas kapiler pada usus dalam frekuensi buang air besar (mencret) dan membantu memadatkan tinja.

Sedangkan Curcuma domestica mengandung curcumin yang membantu mengatasi gejalagejala lain yang sering menyertai diare seperti perut kembung, mual, dan keluhan perut lainnya. Fungsinya memproduksi enzim enzim yang baik untuk pencernaan.

Sedangkan, Zingiber rhizoma mengandung gingerol yang membantu menghangatkan tubuh sehingga meredakan rasa panas dingin yang biasanya terjadi pada anak saat diare. Namun obat ini tidak boleh diberikan pada anak dibawah usia 5 tahun, dan penderita harus banyak minum larutan pengganti cairan elektrolit tubuh.

Bila anak menderita diare dan belum menderita dehidrasi, segera berikan minum sebanyak 10 ml per kilogram berat badan setiap kali mencret agar cairan tubuh yang hilang bersama tinja dapat diganti untuk mencegah terjadinya dehidrasi, sehingga mencegah terjadinya kematian. [agung/Info]



Post Date : 25 Juli 2011