Kekeringan Sudah Melanda Tujuh Kabupaten di Jawa Timur

Sumber:Koran Tempo - 02 September 2009
Kategori:Kekeringan

SURABAYA - Tujuh kabupaten di Jawa Timur mengalami kekeringan parah, yakni Kabupaten Pasuruan, Ponorogo, Tulungagung, Kediri, Blitar, Bojonegoro, dan Sampang. "Kami akan memberikan bantuan air bersih dengan mengerahkan 113 mobil tangki," kata Kepala Badan Pelaksana Satuan Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Pengungsian (Satkorlak PBP) Jawa Timur Haryogi kemarin.

Menurut dia, lahan seluas 49.073 hektare di tujuh kabupaten itu mengalami kekeringan. Jumlah lahan terbanyak, yakni 12 ribu hektare, terdapat di Kabupaten Blitar. Untuk mengantisipasi meluasnya bencana kekeringan, Satkorlak PBP Jawa Timur bekerja sama dengan masing-masing kabupaten terus mensosialisasi pentingnya penghijauan lahan dan penanaman kembali hutan gundul. "Kerusakan hutan kita sangat parah. Banjir dan kekeringan tidak bisa dihindari selama kondisi hutan masih gundul," ujar Haryogi.

Hal itu dibenarkan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Lumajang Indriyati. Di daerah itu, akibat pembalakan liar, sedikitnya 40 sumber mata air mati. Selain itu, debit sekitar 100 mata air lainnya kian mengecil. "Dibutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk memulihkan sumber mata air itu," katanya kepada Tempo.

Daerah terparah terdapat di kawasan hutan Kecamatan Gucialit, Senduro, dan Kecamatan Tempeh. Dinas Kehutanan hanya memiliki anggaran yang terbatas untuk memulihkan kondisi tersebut. Karena itu, masyarakat ikut dilibatkan untuk membantu pemulihan. Namun, warga sekitar hutan lebih senang menanam pohon sengon yang dinilai lebih ekonomis daripada pohon yang berumur panjang, seperti sukun atau bendo. Padahal menanam pohon yang berumur panjang sangat bermanfaat untuk memulihkan sumber mata air.

Dampak kekeringan di Lumajang juga mulai merambah beberapa wilayah di bagian utara, seperti Kecamatan Ranuyoso. Belasan desa mengalami kekeringan total sehingga warganya harus mengambil air dari desa lain.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum Lumajang Yahmidi mengatakan setiap hari didistribusikan belasan tangki air bersih untuk 15 desa, termasuk di Kecamatan Ranuyoso. "Desa-desa tersebut selalu mendapat dropping air bersih setiap musim kering," tuturnya.

Sementara itu, 56 anak Sungai Bengawan Solo mengalami kekeringan. Akibatnya, kebutuhan air untuk pertanian, perikanan darat, maupun air bersih untuk kebutuhan sehari-hari warga terganggu. "Sebanyak 24 sungai terdapat di Bojonegoro, 12 sungai di Tuban, serta di Lamongan dan Gresik masing-masing 10 sungai," kata Koordinator Penanggulangan Bencana Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo eks Karesidenan Bojonegoro, Moelyono, kepada Tempo.

Juru bicara Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jonny Nurharyanto, mengatakan telah menyiapkan dana sebesar Rp 700 juta untuk menanggulangi masalah kekeringan, yang saat ini melanda 17 dari 27 kecamatan di daerah itu. "Bantuan air bersih untuk warga juga terus kami lakukan," katanya. ROHMAN TAUFIQ | DAVID PRIYASIDHARTA | SUJATMIKO



Post Date : 02 September 2009