Manusia Gorong-gorong, Buat Air Lancar Mengalir

Sumber:Kompas - 23 November 2009
Kategori:Drainase

Drainase tersumbat sampah sudah lumrah di Jakarta, sama seperti kebiasaan warganya membuang sampah sembarangan. Ketika banjir terjadi akibat tabiat buruk itu, ”manusia gorong-gorong” tampil sebagai penyelamat.

Padahal, pekerjaan mereka sering menjadi bahan cibiran, sekaligus memancing umpatan pengguna jalan. Di sepotong ruas jalan sempit seperti di depan Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, dan di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, awal pekan ini hampir seperempatnya tersita gundukan lumpur.

Namun, tanpa memedulikan omongan orang, mereka tetap bekerja. Seperti Dikun (55) dan teman-temannya di Jalan Wahid Hasyim. Pada tengah hari itu mereka giat mengeruk dan memasukkan sampah berlumpur ke dalam karung.

Setiap hari, manusia gorong-gorong bersentuhan dengan selokan sejak pukul 08.00 dan rampung pukul 16.00. Saat mendung tebal dan hujan turun, semakin berat kerja mereka mengangkuti endapan agar volume air yang tertampung di selokan bisa semakin banyak.

”Istirahat paling-paling satu jam. Setelah itu kerja lagi. Kalau hari hujan, kerja kami tidak berhenti. Hanya kami tidak berkubang di dalam selokan, melainkan menjaring sampah yang hanyut,” ucap Dikun, bapak empat anak itu.

Jaring yang dimaksud Dikun adalah tutup kipas angin yang dimodifikasi sebagai penjaring. Sebagai pegangan, sebilah bambu dipasangkan di tutup kipas angin. Dengan alat itulah Dikun dan enam rekannya bekerja saat hujan turun. Para petugas ini dilengkapi dengan sepatu bot.

Sebelum hujan, ia dan tiga rekan lain masuk ke selokan yang kedalamannya sekitar 2 meter. Selokan di sepanjang Jalan Wahid Hasyim tidak terlihat karena dijadikan selokan tertutup. Bagian atas selokan dijadikan trotoar yang kadang kala dilewati sepeda motor.

Di bawah trotoar itulah Dikun berjibaku mengangkati endapan yang juga sudah berwarna hitam. Ia berdiri di atas lumpur yang mengendap. Kedalaman endapan 25 sentimeter dan kedalaman air di atas endapan sekitar 30 sentimeter.

Triyono (25), rekan Dikun, bertugas mengangkat endapan dengan cangkul. Dikun memegangi karung. Setelah karung terisi sepertiga, Dikun segera mengoper karung kepada dua rekan lain. Karung lalu diangkat ke atas lewat pintu masuk gorong-gorong dan ditaruh di trotoar. Setelah tumpukan karung menggunung, biasanya truk milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) mengambil dan membawa ke tempat pembuangan.

Setiap orang di tim itu bergiliran mendapatkan tugas di dalam selokan atau di luar. ”Kalau tidak bergantian, kasihan teman yang ada di dalam selokan. Di dalam, bau air dan sampah sangat menyengat. Lagi pula sumpek karena ada di dalam ruang yang agak tertutup,” ucap Joko (29), rekan Dikun.

Tak punya pilihan


Nano (31), pembersih selokan di depan Pasar Cipulir, mengatakan, bermacam-macam kesulitan menghadang mereka setiap kali terjun membersihkan gorong-gorong. Saat berada di dalam saluran, mereka terkadang tiba-tiba bertemu dengan tonggak beton penopang bangunan di atasnya. Belum lagi kabel-kabel atau pipa-pipa milik Telkom, PDAM, PLN, saluran telepon seluler, dan lainnya berseliweran mempersulit pembersihan sampah di dalam saluran.

”Yang jelas, kalau ketemu kecoak atau tikus sudah biasa. Terkena gigitan pasti pernah. Yang parah, waktu awal tahun menggali di sini, saya digigit kelabang. Sakit banget. Tetapi, karena masih bisa kerja, lupakan saja sakitnya,” kata Nano.

Pada siang hari, tas plastik hitam besar berisi nasi bungkus diturunkan dari mobil patroli Dinas PU. Mereka segera berebut mengambil jatah dan bersantap, sambil duduk santai di atas gundukan galian atau di emper jalan. Serok dari anyaman bambu, cangkul, dan alat lain dibiarkan berserak sejenak.

Para pembersih saluran air itu rata-rata datang dari luar Jakarta, seperti Cilacap dan Tegal di Jawa Tengah atau dari beberapa daerah di Jawa Barat. Mereka tak punya sawah di kampung halaman. Melaut pun tak menjanjikan. Mereka umumnya sejak remaja sudah merantau, bekerja sebagai tukang bangunan atau memang spesialis tukang gali.

Joko, misalnya, sudah sembilan tahun bekerja sebagai tukang gali. Apalagi pembersihan saluran air semakin rutin dilaksanakan sejak 2005, bahkan pada musim kemarau. Mereka berstatus pekerja kontrak atau buruh harian lepas untuk Dinas PU, khususnya di Suku Dinas PU Tata Air. Jumlah penggali ratusan orang dan tersebar di lima wilayah kota di Jakarta. Mereka dibayar Rp 1,2 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan.

Para pembersih gorong-gorong tak peduli berbagai risiko negatif. Pekerjaan itu merupakan satu-satunya pilihan sumber nafkah. Namun, tanpa disadari, mereka juga ”menghidupi” Jakarta, terutama dengan mengurangi kemungkinan banjir. Berkat mereka, air di sejumlah kawasan mengalir lancar, tak tumpah ke jalan dan permukiman. Agnes Rita S dan Neli Triana



Post Date : 23 November 2009