Oh... Sungaiku

Sumber:Media Indonesia - 01 Mei 2010
Kategori:Drainase

SUNGGUH malang nasibnya. Ya.. mungkin itu merupakan kata yang tepat untuk sungai depan rumahku. Bagaimana tidak? Ia dialih fungsikan oleh warga kampungku sebagai tempat sampah. Alasan warga ialah agar sampah-sampah itu tidak mengganggu pengindraan mereka, entah itu penglihatan, penciuman ataupun perasa. Mengganggu mata, karena apabila warga membuang sampah di tempat sampah, maka sampah-sampah itu akan menginap berhari-hari, dan itu bukan pemandangan yang endang (baca : enak dipandang). Mengganggu  penciuman, jelas sekali apabila sampah sudah duduk manis di tempat sampah, maka bau yang taka asing lagi akan segera mampir ke hidung warga yang melintasinya. Dengan berbagai alasan tersebut maka warga berinisiatif untuk membuang si sampah ke sungai.

Duuuuh malang sekali nasibmu wahai sungaiku. Warga berpikir kalau sampah dibuang di sungai maka mereka tidak akan menemukan keadaan yang seperti tergambarkan di atas. Sampah akan segera hilang dari pandangan mata seiring dengan aliran sungai yang membawanya. Entah mau dibawa kemana sampah-sampah itu,akupun tidak tahu. Yang aku tahu setiap hujan datang, pasti akan diakhiri dengan banjir, meskipun tidak sebesar di TV-TV ketika menyiarkan musibah banjir, namun banjir ini cukup membuat warga semakin keki. Bagaimana tidak ??? banjir tersebut tidak hanya membawa air yang hitam dan kotor, tetapi juga membawa kembali sampah-sampah warga. Dan itu selalu berhasil membuat warga menggerutu karena mereka sadar bahwa sampah-sampah yang dulu pernah mereka buang kembali lagi kepada mereka, bahkan membawa teman teman yang lain, sehingga tambah lucu juga ekspresi warga. Dengan sangat berat hati, beberapa jam setelah banjir usai warga harus bersedia meluangkan waktunya untuk membersihkan kediaman mereka. Wah.. Ternyata bukan hanya sampah dan air yang hitam dan kotor, banjir juga membawa lumpur,eits.. bukan lumpur lapindo loch. Sebenarnya bukan hanya banjir, banjir hanya datang pada saat musim hujan.

Pada  saat musim kemarau, sungai tak lagi hobby meluap seperti ketika musim hujan, melainkan menguap. Tahu sendiri yang namanya sungai yang sudah berubah warna menjadi hitam sudah dapat dipastikan bahwa isinya juga bermacam-macam. Dan itu menimbulkan bau yang tidak sedap. Bisa dibayangkan apabila menguap bau tersebut akan ikut menguap. Uuuh sungguh menyengat. Warga menggerutu lagi.

Lalu bagaimana caranya agar warga tidak hanya menggerutu dan sungaiku bisa jadi bersih? Nah ini dia beberapa solusi untuk beberapa problem di atas.
1.Memberikan penyuluhan kepada warga agar lebih mencintai lingkungan, seperti tidak membuang sampah pada sungai. Wah sepertinya penyuluhan semacam ini sudah sering dilakukan yach, tapi mengapa warga tetap mengulangi perbuatan tak terpujinya pada sungai? Ada beberapa kemungkinan, yang pertama penyuluhan hanya dilakukan pada satu waktu, kemungkinan yang kedua penyuluhan hanya berupa materi tanpa ada praktek, dan dua kemungkinan ini memungkinkan materi-materi penyuluhan hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri alias tidak ada respon.

2.Nah yang kedua, penyuluhan lagi nich, memberikan  pengetahuan pada warga tentang ketrampilan mendaur ulang sampah rumah tangga. Contohnya sisa-sisa sayur dan daun-daun kering diolah menjadi takakura (pupuk organik). Itu untuk yang bisa didaur ulang, lantas bagaimana dengan plastic dan kawan-kawan? Ini dia nich, sekarang kan marak pemanfaatan barang-barang bekas, tapi hanya pada daerah tertentu saja. Bisa kita bayangkan kalau semua mempunyai ketrampilan seperti itu, pasti selain masyarakat lebih terampil, kuota sampah juga berkurang.

3.GERAKAN KALI BERSIH, dengan cara menyaring sampah-sampah yang ada di sungai, seperti yang sudah dilakukan  pada Kalimas, dari gerakan ini munculah beberapa efek, yang pertama jelas sungai akan menjadi bersih, yang kedua badan jadi sehat, dan yang paling penting nich, dari gotong royong tersebut rasa kekeluargaan akan terbina. Gerakan ini bisa diadakan 1 bulan sekali. Agar sungai semakin bersih.

4.Penyuluhan sudah, prakteknya juga sudah. Tinggal membentuk peraturan tentang lingkungan  dan diadakannya sanksi yang tegas bagi pelanggar. Disini peran perangkat desa sangat dibutuhkan, apabila perangkat desa memberikan contoh yang baik pasti masyarakatnya juga akan baik. Siti Nur Laila (Mahasiswa Unair Surabaya)



Post Date : 01 Mei 2010