Pintu Air Jl Hasanudin Tak Berfungsi

Sumber:Suara Merdeka - 02 Mei 2006
Kategori:Sampah Luar Jakarta
SEMARANG UTARA - Sampah yang menyumbat saluran Perbalan di wilayah Kelurahan Purwosari, Semarang Utara semakin menumpuk. Selain menimbulkan bau tak sedap, tumpukan sampah itu juga menyumbat gorong-gorong yang melintas di Jl Hasanudin.

Akibatnya, air dari saluran Perbalan tak bisa mengalir lancar ke saluran Hasanudin yang terhubung ke muara. Apalagi gorong-gorong di lokasi tersebut sudah menyempit akibat pendangkalan.

Ny Inayah (45), pemilik warung rokok di kawasan tersebut mengatakan, sampah yang menyebabkan bau tidak sedap itu mengganggu aktivitasnya. "Ya begini ini setiap hari, sampah selalu ada di sungai. Baunya memang tak sedap, tapi mau apa lagi wong warung saya cuma ada di sini," katanya, kemarin.

Menurut dia, dua minggu sekali, warga melakukan kerja bakti untuk membersihkan sampah tersebut dengan peralatan seadanya. Namun hanya dalam waktu 3-4 hari sampah akan muncul lagi. Warga mengaku tidak mengetahui sampah tersebut berasal dari mana.

Di saluran itu terdapat dua pintu air, namun yang masih berfungsi hanya satu. Warga membiarkan pintu air yang masih berfungsi itu terbuka. Namun air tetap tidak bisa mengalir lancar karena tertutup sampah.

Kondisi serupa juga terjadi di saluran Hasanudin. Sampah yang terdapat di saluran tersebut lebih banyak dibandingkan dengan di Perbalan. Saluran Hasanudin juga dilengkapi dua pintu air, namun sudah lama tak berfungsi. Kedua pintu itu dibiarkan terbuka.

"Saya tidak tahu siapa yang membangun pintu air tersebut," kata Heriyanto (43), warga RT 7 RW 4, Kelurahan Plombokan, Semarang Utara.

Pengerukan

Heriyanto menuturkan, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota pernah membersihkan sampah di pintu air tersebut. Namun sampah tetap saja memenuhi saluran itu. Akibatnya, saat air laut pasang, wilayah yang hanya berjarak sekitar 1,5 km dari pantai itu pun tergenang. Saat air laut surut, genangan hilang dalam waktu lama. Untuk menghindari genangan rob, warga Jl Satria meninggikan jalan sekitar 50 cm secara swadaya.

Suwarni (56), warga Satria Utara yang membuka warung makan tak jauh dari pintu air itu mengatakan, sampah yang menimbulkan bau tak sedap tersebut mengganggu pelanggannya. "Jika jembatan Brotojoyo ditinggikan, sampah tidak akan menumpuk di sini," katanya.

Warga berharap Pemkot mau meninggikan jembatan itu atau setidaknya melakukan pengerukan saluran sehingga air bisa mengalir lancar.

Selain itu, tidak ada lagi warga yang membuang sampah di saluran, dan Pemkot menyiapkan petugas untuk membersihan sampah. (H9,ric-62n)

Post Date : 02 Mei 2006