Pola Baru TPST Ciangir

Sumber:Kompas - 18 Mei 2009
Kategori:Sampah Jakarta

JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengembangkan teknologi pengolahan sampah dengan sistem penyimpanan di dalam lubang-lubang bawah tanah atau bungker. Sistem ini akan diterapkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu atau TPST Ciangir, Tangerang.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bharuna, Sabtu (16/5) di Jakarta Pusat, mengatakan, sampah di TPST Ciangir tidak akan ditimbun sampai menggunung, seperti yang dilakukan di TPST Bantar Gebang. Penyimpanan sampah di dalam tanah dilakukan agar pengelola dapat mengambil gas metana yang terbentuk guna diolah menjadi listrik.

"Masyarakat sekitar TPST Ciangir tidak perlu khawatir dengan bau dan lalat karena sistem penimbunan sampah yang baru tidak akan mengganggu warga sekitarnya. Bungker itu akan dibangun dengan beton sehingga sampah yang dimasukkan tidak mencemari tanah," kata Eko.

Selain memproduksi gas untuk membangkitkan listrik sebesar 25 megawatt, TPST Ciangir juga didesain untuk menghasilkan kompos dan briket. Briket dijual sebagai bahan bakar dan kompos untuk keperluan pertanian. Dengan demikian, semua sampah yang dikirim ke TPST itu akan habis diproses dan tidak menjadi timbunan.

TPST Ciangir, kata Eko, memiliki lahan seluas 98 hektar. Pada tahap awal, lahan yang akan dijadikan penampungan sampah dan pabrik pengolahan sampah adalah seluas 50 hektar. Sisanya 48 hektar akan dijadikan tempat penghijauan, sambil menunggu perkembangan selanjutnya.

TPST Ciangir memiliki daya tampung 2.500 ton sampah tiap hari. Sebanyak 1.500 ton didatangkan dari Jakarta Barat, sebagian Jakarta Selatan, dan 1.000 ton dari Kabupaten Tangerang.

Apabila berkembang dengan baik, sampah dari Kota Tangerang dan Tangerang Selatan, serta Banten juga dapat dikirimkan ke TPST ini untuk diolah. Dengan demikian, TPST Ciangir dapat bermanfaat bagi Jakarta dan kota/kabupaten sekitarnya.

Saat ini, kata Eko, Pemprov DKI Jakarta dan Pemerintah Kabupaten Tangerang sedang menyusun nota kesepahaman. Proses studi kelayakan dan penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) juga sedang dilakukan dan diperkirakan selesai Juni.

Setelah itu, nota kesepahaman akan dibahas di DPRD masing-masing untuk mendapat persetujuan. DPRD Kabupaten Tangerang sudah bertemu dengan Pemprov DKI Jakarta dan memberikan dukungan bagi terwujudnya TPST Ciangir.

"TPST Ciangir sangat menguntungkan Tangerang karena banyak tenaga kerja lokal yang digunakan. Selain itu, DKI Jakarta juga akan membantu perbaikan akses jalan masuk ke lokasi TPST," kata Eko.

Proyek pembangunan TPST Ciangir akan dilelang pada September melalui tender internasional. Perusahaan asing yang ingin ikut lelang harus bermitra dengan perusahaan lokal. Nilai investasi untuk membangun TPST ini diperkirakan mencapai Rp 700 miliar. (ECA)



Post Date : 18 Mei 2009