Sanitasi Buruk Korbankan Kesehatan Anak

Sumber:Kompas - 10 September 2012
Kategori:Sanitasi
BALI, KOMPAS.com - Sanitasi yang tidak layak serta higenitas yang buruk dapat berakibat fatal bagi kesehatan anak. Hal ini membuat mereka rentan terhadap beragam penyakit seperti diare, polio, pneumonia, penyakit kulit serta gangguan kesehatan lainnya. 
 
Demikian disampaikan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi saat membuka acara East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene (EASAN) III yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Senin (10/9/2012. "Anak sangat rentan terhadap air yang tidak bersih. Buang air besar sembarangan akan menyebabkan penyakit dan membuat anak-anak menderita," ujarnya.
 
Data Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) menyebutkan, angka kematian anak di bawah usia lima tahun di Asia Pasifik dan Timur sangat tinggi. Sekitar 20 tahun lalu, angka kematian anak mencapai 2,2 juta. Tetapi pada tahun 2012 ini, jumlah tersebut berhasil diturunkan lebih dari 1 juta, tepatnya 694.000 kematian atau secara signifikan turun 68 persen selama 20 tahun.
 
Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Kearney, pada kesempatan tersebut menyatakan, ada dua hal yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan anak-anak. Pertama, layanan kesehatan umum bagi anak-anak seperti imunisasi, dan kedua adalah akses terhadap air bersih. 
 
Air bersih, sarana sanitasi dan higenitas merupakan hal penting yang tidak hanya berkaitan dengan masalah kesehatan semata. Menurut Angela, banyak negara kehilangan waktu kerja produktif serta hari sekolah karena masyarakatnya sakit yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih, sanitasi tidak memadai, serta tidak berperilaku hidup sehat. 
 
"Anak yang sakit atau lemah akan terganggu belajarnya kala di sekolah. Mereka juga kesulitan mengembangkan potensinya ketika dewasa bahkan saat memasuki dunia kerja," ujarnya.
 
Jika warganya kerap sakit, potensi ekonomi sebuah negara ikut terancam. Penelitian dari Bank Dunia dan WHO mengungkapkan, dampak sanitasi buruk terhadap ekonomi di Asia Tenggara menyebabkan kerugian ekonomi minimal Rp 9 miliar dolar AS per tahun. Kamboja dan Laos, misalnya, diperkirakan kehilangan sekitar 5 persen dari produk domestik bruto (GDP) karena masalah sanitasi tidak layak dan air bersih. 
 
Sedangkan Indonesia, masih harus mengejar ketinggalan untuk mencapai target MDGs tahun 2015. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, untuk target MSGs masalah sanitasi, Indonesia berada pada posisi pencapaian 55,6 persen dari target 62,41 persen. Sedangkan untuk target MDGs masalah air minum, Indonesia baru mencapai 42,76 persen dari target MDGs 68,8 persen. Natalia Ririh


Post Date : 10 September 2012