Sanitasi Buruk, Wabah Diare Serang Pengungsi Simeulue

Sumber:Kompas - 15 April 2005
Kategori:Sanitasi
Medan, Kompas - Sedikitnya 71.550 warga Kabupaten Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam, masih mengungsi ke pegunungan pascagempa berkekuatan 8,7 skala Richter, 28 Maret 2005. Sanitasi yang buruk dan minimnya akses air bersih di lokasi pengungsian menyebabkan sedikitnya 101 pengungsi terserang diare.

"Sampai saat ini para pengungsi mengonsumsi air bersih dari sekitar lokasi penampungan yang kualitasnya tidak terjamin. Karena banyak fasilitas infrastruktur kesehatan rusak saat gempa, kami terpaksa menggunakan tenda darurat untuk memberi pelayanan kesehatan kepada warga," kata Wakil Bupati Simeulue Ibnu Aban melalui telepon kepada Kompas dari Sinabang, Simeulue, Kamis (14/4).

Jumlah penderita diare menunjukkan peningkatan sejak hari kedua setelah gempa. Namun, sejak minggu ketiga April ini pengungsi yang terkena diare sudah menurun, kurang dari 10 orang dalam sehari.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Simeulue dr Taqwallah MKes, perawatan kesehatan para pengungsi saat ini dilaksanakan di tenda-tenda darurat karena delapan puskesmas, 20 puskesmas pembantu, dan RS Simeulue rusak akibat gempa.

Kondisi dunia pendidikan di daerah Calang, Kabupaten Aceh Jaya, kini sangat memprihatinkan. Selain sarana belajar amat terbatas, jumlah guru sekolah menengah di daerah itu sangat minim karena mayoritas tenaga pengajar masih bertahan di pengungsian.

Menurut keterangan Dina Astita, guru sekolah darurat di Calang, Kamis, aktivitas belajar-mengajar di Calang terus berjalan kendati kondisinya masih darurat.

"Kalau untuk sekolah dasar, jumlah gurunya relatif sudah mencukupi. Soalnya, sekarang kan sekitar 16 sekolah dasar dilebur jadi satu dan jumlah guru dari belasan sekolah itu sudah cukup banyak," tutur Dina. Namun, jumlah tenaga pengajar bagi sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) justru masih sangat sedikit.

Kurang gizi

Berdasarkan hasil survei selama dua bulan pascatsunami, ribuan anak usia enam bulan sampai 59 bulan di 13 kabupaten dan kota di Provinsi NAD mengalami kekurangan gizi hingga pertumbuhan anak- anak itu terhambat. Sedikitnya 1.500 dari 4.030 anak-anak NAD usia tersebut yang disurvei memiliki postur tubuh kurang tinggi dan kurus.

"Hal ini perlu diwaspadai bersama. Karena kekurangan gizi pascatsunami ini juga akan memengaruhi kecerdasan dan perkembangan otak anak-anak Aceh selanjutnya," kata anggota tim survei dari Departemen Kesehatan Abas BJ pada Diskusi Hasil Kajian Gizi Pascatsunami di Aula Kantor Gubernur NAD, Kamis.

Sementara itu, korban bencana di NAD juga menuntut pemerataan dalam pembagian jatah hidup bagi mereka. Hal ini dikhawatirkan menimbulkan kecemburuan sehingga bisa memicu konflik horizontal antarkelompok masyarakat yang tertimpa bencana alam tersebut. Demikian ujar anggota Komisi E DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Teuku H Ishak Kasem seusai bertemu dengan warga Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, di Gedung DPRD NAD di Banda Aceh, kemarin.

Sementara itu, Pemerintah Taiwan memberikan sumbangan 250.000 dollar AS untuk penanganan kesehatan dan gizi korban tsunami di NAD. Bantuan itu diserahkan Representative Taipei Economic and Trade Office (TETO) David Lin mewakili Pemerintah Taiwan kepada John Palmer, Helen Keller International Country Director di Indonesia, Kamis kemarin. (HAM/EVY/AYS)

Post Date : 15 April 2005