Semua Pihak Bisa Ikut Sumbang Perbaikan

Sumber:Kompas - 10 September 2007
Kategori:Umum
Istilah pemanasan global atau perubahan iklim tentu sudah bukan barang baru bagi mereka yang aktif bekerja di bidang lingkungan hidup, peneliti, atau akademisi. Namun, bagi orang awam, termasuk yang tinggal di perkotaan, bisa jadi itu masih samar-samar. Padahal, tanpa disadari dalam beraktivitas sehari-hari masyarakat ikut menyumbang karbon dioksida yang menjadi salah satu biang kerok pemanasan global.

Guna memperluas kesadaran terhadap bahaya pemanasan global dan kaitannya dengan perubahan iklim, Kementerian Negara Lingkungan Hidup menyelenggarakan kampanye perubahan iklim bertema "Selamatkan Bumi Kita" di Mal Artha Gading, Minggu (9/9).

Rangkaian kegiatan kampanye itu antara lain lomba lukis bertema lingkungan hidup, talk show, penampilan berbagai band, dan kalkulator karbon. Untuk kegiatan kalkulator karbon yang dilakukan aktivis Greeners Magazines (majalah lingkungan hidup), pengunjung dapat menghitung jumlah emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari penggunaan kendaraan bermotor, perangkat listrik dan gas untuk kemudian dikonversikan dengan berapa jumlah pohon yang diperlukan untuk mengurangi dampaknya. Masyarakat dapat membeli bibit pohon seharga Rp 1.000 per bibit. Satu buah pohon selama 50 tahun dapat menyerap 1,5 ton karbon.

Ny Wieke (39), warga Jatinegara, Jakarta Timur, pengunjung mal yang ikut hadir dalam kampanye itu, misalnya, mengetahui betapa belakangan ini kondisi alam begitu berubah walaupun ia belum mendapat informasi sepenuhnya. "Kalau soal pemanasan global, saya sudah pernah dengar tetapi tidak tahu persis. Yang ada hubungannya sama ozon itu ya? Sepertinya, itu terkait dengan pelestarian lingkungan hidup yang semakin berkurang. Ada kaitannya dengan gempa bumi, banjir, dan cuaca sekarang menjadi tidak karuan," ujarnya.

Pengunjung lain, Budi R (51), warga Koja, juga merasa masih membutuhkan banyak informasi terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim. Walaupun, dia telah mengetahui betapa mengerikannya efek dari pemanasan global. "Saya dengar tentang pemanasan global istilahnya dari "katanya"... "katanya. Kalau tidak salah itu, terkait dengan gas rumah kaca. Barangkali sekarang karena banyak bangunan dari kaca. Kalau dulukan, lebih banyak dari kayu," ujar Budi.

Kepala Bidang Edukasi Kementerian Negara Lingkungan Hidup Jo Kumala Dewi mengatakan, edukasi tentang pemanasan global dan kaitannya dengan perubahan iklim sengaja dikemas edukatif sekaligus menghibur. Pelaksanaannya juga di mal yang semakin menjadi tujuan rekreasi atau tempat aktivitas keluarga pada hari libur.

Perubahan iklim ialah berubahnya pola dan unsur cuaca secara terus-menerus dan dalam jangka waktu lama. Cuaca terutama dikendalikan oleh temperatur. Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer yang kian meningkat mengakibatkan akumulasi panas di atmosfer sehingga terjadi efek rumah kaca berlebihan yang disebut sebagai pemanasan global.

Peristiwa rumah kaca itu dapat digambarkan sebagai proses gas-gas, seperti karbon dioksida (CO 2), dinitoksida (N2O4) sulfurheksafluorida (SF6), perfluorokarbon (PFCs) dan hidrofluorokarbon (HFCs), menyelimuti atmosfer. Akibatnya, radiasi Matahari yang datang ke Bumi tidak seluruhnya dapat dipantulkan dan terperangkap. Lebih dari 75 persen komposisi gas rumah kaca adalah karbon dioksida, terutama dari bahan bakar fosil.

Managing Director Greeners Magazine Syaeful Rochman mengatakan, aktivitas masyarakat sehari-hari tanpa disadari ikut menyumbang karbon dioksida. Kendaraan bermotor berbahan bakar minyak bumi yang digunakan sehari-hari mengeluarkan hasil pembakaran gas penyumbang efek rumah kaca. Penggunaan gas untuk memasak dan pemakaian listrik yang dalam proses produksinya menggunakan turbin pembangkit berbahan bakar fosil juga yang mengeluarkan gas karbon. Begitu pula penggunaan gas untuk memasak. Saat pelepasan api, terjadi pengeluaran karbon dioksida. Greeners Magazine dan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi berupaya mengembangkan kalkulator karbon yang disesuaikan dengan gaya hidup orang Indonesia.

Jo Kumala Dewi menambahkan, efek dari perubahan iklim sendiri sesungguhnya juga telah dirasakan oleh masyarakat umum. Cuaca yang terus berubah-ubah, misalnya, ikut menjadi faktor merebaknya sejumlah penyakit, seperti demam berdarah dan penyakit kulit. Berbagai bencana seperti banjir dan kekeringan juga melanda dan menimbulkan korban. Di pedesaan petani mengalami kesulitan dalam menentukan masa tanam.

"Harapannya, kampanye ini dapat lebih menyentuh kesadaran masyarakat lebih luas terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Setelah masyarakat mendapatkan pengetahuan dan menyadari terjadinya perubahan iklim, diharapkan masyarakat tergerak untuk ikut peduli. Dengan menanam satu pohon saja, itu sudah berarti," ujarnya.INDIRA PERMANASARI



Post Date : 10 September 2007