Setelah Berebut Air Kotor

Sumber:Majalah Tempo - 15 Agustus 2005
Kategori:Sanitasi
Akris Leu Faot, 12 bulan, dan Intan Nautani, 7 bulan, telah terbaring tenang dalam satu makam. Kedua bocah itu warga Desa Tubuhue, Kecamatan Amauban Barat. Mereka menjadi korban wabah diare yang melanda Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mereka teman sejati sampai akhirat, kata Imanuel Nautani, ayah Intan.

Selain Akris dan Intan, ada sembilan anak yang tewas akibat diare di Kabupaten itu. Bukan tak mungkin masih akan berjatuhan korban lagi. Soalnya, hingga kini ada 350 bocah dari enam kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan yang menjalani rawat inap dan rawat jalan akibat diare.

Di Kupang, keadaan tak lebih baik. Rizki, 9 bulan meninggal akibat penyakit yang sama. Lebih dari 50 balita dalam kondisi kritis, diantaranya Karel Sulla, 8 bulan. Sejak Kamis pekan lalu, bocah malanr itu terbaring dengan selang infuse menancap di hidungnya. Ia dirawat di ruang gawat darurat RSUD W.Z. Johannes, Kupang. Dia terus menerus mengeluarkan cairan encer putih karena diare dan muntah hingga 26 kali.

Orang tua para korban kebanyakan barasal dari keluarga miskin dan berpenghasilan rendah. Saya dan istri penjual sayur keliling. Anak saya terserang diare mungkin karena mengkonsumsi air mentah atau bermain di tempat yang kotor, kata Hironimus Kana, 46 tahun, orang tua Yesica.Sejauh ini, rumah sakit hanya menanggung ruang perawatan dan infuse, sedangkan obat obatan harus ditanggung sendiri. Kami orang miskin, tidak ada uang. Kami dengar keluarga miskin berobat gratis. Kenyataannya sama saja. Obat harus beli sendiri, katanya.

Membludaknya penderita diare membuat petugas medis RS W.Z. Johannes kewalahan. Bangsal anak kelas I, II, dan III tak mampu menampung jumlah pasien. Terpaksalah bangsal laki laki dewasa dan wanita kelas II digunakan untuk menampung anak anak penderita diare.

Sanitasi yang buruk serta air yang telah tercemar bakteri E coli diduga menjadi penyebab mewabahnya diare. Berasal dari tinja manusia atau hewan berdarah panas, bakteri ini biasa ditemukan di air. Bukan hanya diare, beberapa jenis bakteri ini bisa juga menimbulkan penyakit kolera dan demam tifoid.

Hasil survei sementara di TTS menunjukan, kadar bakteri E coli dalam air yang dikonsumsi warga memang sangat tinggi. Kadar bakteri E-coli di sumber air di Desa Kusi mencapai 975 ppm (part per million) dan di Tubuhue 975 ppm. Padahal, air layak konsumsi kadar ppm-nya harus nol. Untuk kebutuhan lain, kadar maksimal 12 ppm, kata Kepala Dinas Kesehatan TTS, Markus Ng Righuta.

Kekeringan panjang membuat masyarakat kesulitan air bersih. Akibatnya, mereka mengkonsumsi air sungai, kata Bupat TTS, Daniel Banunek. Kebanyakan warga desa Kusi dan Tubuhue, Kecamatan Kuantafu, terpaksa mengkonsumsi air sungai yang sudah bercampur dengan kotoran sapi atau babi. Di Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, warga bahkan harus berebut air dengan ternak.

Sebenarnya masyarakat tahu harus minum air dari sumber yang steril, tapi itu sulit dilakukan karena kurang air, kata Petrus Fallo, 34 tahun, warga Kuanfatu.

Sejauh ini belum ada langkah konkret dari pemerintah untuk mengantisipasi jatuhnya korban lebih banyak. Justru mereka lepas tanggung jawab. Dinas Kesehatan menuding Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah lalai mengurus sanitasi air. Sebaliknya, Dinas Permukiman mengluhkan keterbatasan dana.

Sekretaris Satuan Koordinasi Penanggulangan Bencana NTT, Fransiskus Salim, mengatakan, pemerintah daerah telah menetapkan kasus diare di TTS sebagai kejadian luar biasa (KLB). Maka, penanganannya lintas sektoral. Untuk sementara, Dinas Kesehatan yang menangani, kata Salim.Nyoman Kandun, Direktur Jenderal PPM dan PL Departemen Kesehatan, mengatakan, pihak pemda baru meminta bantuan untuk melakukan survey. Kami agak khawatir ini wabah kolera seperti yang terjadi di Tangerang. Semoga saja bukan,katanya.

Kandun menyatakan siap jika diminta mengirimkan bantuan obat obatan dan tenaga medis lebih lanjut, contohnya infuse, oralit, atau perawat yang mahir memasang infus pada bayi. Tapi sejauh ini tak ada permintaan dari NTT. Jadi, kami anggap mereka masih mampu, kata Kandun.Utami Widowati, Jems de Fortune (Kupang)

Post Date : 15 Agustus 2005