Sungai di Jakarta WC Terpanjang di Dunia

Sumber:Kompas - 05 Mei 2004
Kategori:Sanitasi
Sungai hanya digunakan sebagai tempat untuk membuang sampah dan kotoran. Itulah kenyataan yang terjadi di Jakarta. Meskipun pemerintah selalu mengklaim Jakarta adalah kota yang modern, cara pemerintah memperlakukan sungai-sungai di Jakarta sungguh memprihatinkan.

Sungai dibiarkan begitu saja tanpa diurus. Warga yang terus berdatangan ke Jakarta juga dibiarkan saja menempati lahan-lahan kosong di sepanjang bantaran sungai, bahkan belakangan, gedung-gedung tinggi dan perumahan mewah. Selain hanya sebagai tempat untuk membuang sampah dan kotoran, sungai sepertinya tidak punya fungsi apa-apa lagi.

Di perkampungan sepanjang bantaran Ciliwung, di daerah Kampung Melayu, misalnya, banyak warga masih menggunakan WC "cemplung" untuk buang air besar. Disebut WC "cemplung" karena kotoran yang keluar langsung masuk ke badan sungai. Kalau tidak membangun WC "cemplung", warga menyalurkan pembuangan limbah domestiknya langsung ke badan sungai.

Meski sungai banyak digunakan untuk membuang kotoran, termasuk kotoran manusia, ternyata masih banyak warga yang menggunakan sungai sebagai sumber air minum. Hal itu tentu mengancam kesehatan masyarakat karena sungai tercemar bakteri Escherichia coli dari kotoran manusia. Bakteri itu bisa menyebabkan penyakit diare yang parah pada manusia.

Selain itu, sungai juga masih menjadi pilihan utama bagi warga Jakarta untuk membuang sampah. Hal itu bukan hanya terjadi di Sungai Ciliwung dan Pesanggrahan, tetapi juga di sebagian besar sungai lainnya di Jakarta. Semakin ke tengah kota, tumpukan sampah di bantaran sungai makin banyak. Di beberapa bantaran sungai, kondisinya bahkan tampak seperti tempat pembuangan akhir sampah.

Selain bantarannya rusak, kualitas air sungai di Jakarta juga semakin menurun, termasuk kualitas air Sungai Ciliwung yang digunakan sebagai sumber baku air minum. Pemantauan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) menyebutkan, kualitas biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) air Sungai Ciliwung yang digunakan PD PAM Jaya telah melampaui baku mutu yang ditetapkan. Ini terjadi akibat banyak limbah domestik yang masuk ke dalam sungai.

Parameter lain yang mencemari Sungai Ciliwung dan sungai lainnya adalah minyak dan lemak, zat organik, surfaktan, dan timbal. Selain Ciliwung, sumber air baku air minum lainnya berasal dari Sungai Krukut dan Kalimalang.

Sementara itu, limbah air kotor lainnya (yang berasal dari kamar mandi, dapur, dan tempat cucian) langsung dibuang masuk ke selokan yang sebenarnya berfungsi mengalirkan air hujan. Dari selokan, limbah air kotor langsung masuk ke sungai tanpa diolah. Hal itu menyebabkan sungai di Jakarta tidak pernah bersih.

Pemantauan Kompas di lapangan, sungai-sungai dan kanal di Jakarta kebanyakan dicemari sampah plastik dan kertas. Selain sampah, air sungai juga tampak hitam dan berbau busuk menyengat. Di pintu air Manggarai, misalnya, sampah tertimbun di sepanjang pintu air itu. Adapun air Kali Grogol berwarna hitam pekat dan berbau busuk menyengat.

Program Kali Bersih (Prokasih) sudah 14 tahun dicanangkan, tetapi hasilnya hampir tidak kelihatan. Sebagai kota dengan penduduk 12 juta lebih, Jakarta memang harus memiliki sistem perpipaan air limbah atau sistem pengolahan air limbah yang memadai. Sekarang ini sistem perpipaan air limbah hanya ada di daerah Setia Budi, Tebet, dan Kuningan. Fasilitas peninggalan Belanda itu pernah dijadikan proyek percontohan oleh Bank Dunia.

Pemerintah Provinsi DKI pernah beberapa kali melempar gagasan akan membangun sistem perpipaan air limbah yang baru, tetapi pelaksanaannya sampai sekarang tersendat-sendat. Untuk membiayai proyek senilai Rp 32 triliun itu, ada dua skenario yang pernah diajukan, yaitu meminjam dari Pemerintah Jepang atau dilaksanakan dengan sistem konsesi.

Sistem pengolahan air limbah domestik juga belum dilakukan di permukiman padat penduduk. Masyarakat tidak pernah dibina untuk membuat septictank bersama guna mengolah limbah kotorannya secara bersama-sama pula. Jangan heran kalau sungai di Jakarta akhirnya menjadi WC terpanjang di dunia. Di mana setiap hari, ratusan ribu orang membuang kotorannya ke dalam badan sungai. (lusiana Indriasari)

Post Date : 05 Mei 2004