Tengoklah ke Singapura

Sumber:Kompas - 08 Juli 2011
Kategori:Air Minum

Selalu ”terancam” bakal tak mendapat pasokan bahan baku air lagi dari Malaysia justru membuat Singapura makin liat. Dengan teknologi modern, air limbah dikembalikan menjadi air minum. Yang menarik, tingkat kemurnian air amat tinggi sehingga pabrik semikonduktor tak perlu menambah biaya untuk mengolahnya kembali.

Sejak memisahkan diri dari Malaysia tahun 1965, Singapura memiliki problem air bersih yang pelik. Masalahnya bukan karena jarangnya turun hujan, melainkan lebih diakibatkan minimnya daerah tangkapan air. Saat ini, dua pertiga lahan digunakan sebagai lokasi penyimpan air untuk memenuhi kebutuhan 1,4 juta meter kubik air bersih di negeri itu (diperkirakan 50 tahun mendatang akan melonjak menjadi 4 juta meter kubik).

Pada tahun 1961 dan 1962 ada perjanjian jangka panjang sampai tahun 2011 dan 2061 antara Singapura dan Malaysia yang memungkinkan Singapura mengimpor bahan baku air (0,4 juta meter kubik dan 1,15 juta meter kubik) dari Negara Bagian Johor, Malaysia, seharga 1 sen Singapura per 1.000 galon (sekitar 3.800 liter). Namun, bagaimana nasib perjanjian itu setelah tahun 2061 belum jelas karena isu air menjadi hal sensitif bagi kedua negara.

Tak mengherankan jika Singapura bekerja keras memproduksi air minum bagi penduduknya. Banyak hal yang bisa dipelajari dari negeri seluas 700 kilometer persegi dengan populasi sedikit di atas 5 juta jiwa (luas DKI Jakarta 661 kilometer persegi dengan hampir 10 juta jiwa penduduk) ini dalam pengolahan dan distribusi air bersih. Mereka mengolah kembali air limbah, melakukan desalinasi (menghilangkan garam dan mineral dari air laut), memperluas area tangkapan air, dan mengefisienkan penggunaan air serta manajemen pengelolaannya.

Kemauan politik yang kuat mendasari setiap langkah dalam menjaga dan mengurus air bersih, tulis Cecilia Tortajada lewat artikel ”Water Management in Singapore” di jurnal Water Resources Development (Juni 2006). Melalui undang-undang peternakan yang dijalankan ketat, misalnya, negara mencegah peternakan bisa membuat sumber air terkontaminasi kotoran hewan. Singapura memberi contoh pengelolaan air bisa berjalan baik jika manajemen yang baik juga diterapkan di sektor lain yang terkait.

Untuk menambah jumlah produksi air bersih, Singapura juga memanfaatkan air laut. Pada akhir tahun 2005, Singapura mendirikan pabrik desalinasi air laut Tuas senilai 200 juta dollar Singapura. Inilah pabrik pengolah air laut pertama untuk tingkat kecamatan dengan kapasitas 114 juta meter kubik air per hari. Pada tahun pertama beroperasi, ongkos memproduksi air desalinasi sebesar 0,78 dollar Singapura per meter kubik.

Daur ulang limbah

Sebetulnya sejak pertengahan tahun 1970-an, negeri pulau ini telah mencoba memanfaatkan air limbah sebagai bahan baku air bersih. Namun, ketika itu, teknologi yang ada belum cukup untuk memproduksi air secara ekonomis dan layak digunakan. Baru menjelang peralihan ke abad ke-21, Singapura sukses dengan percobaannya pada pabrik reklamasi air Bedok. Berawal dengan produksi 10.000 meter kubik air, pabrik di Bedok ini menghasilkan air bersih yang memenuhi syarat Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Model semacam ini lantas direplikasi dalam skala lebih luas di Singapura. Bahkan, saat ini bisa dikatakan 100 persen air limbah di negeri itu dikumpulkan lewat jaringan yang ada, lalu diproses dan didistribusikan kembali kepada konsumen dengan nama NEWater.

Kendati kualitasnya lebih baik daripada air minum umumnya, NEWater lebih banyak digunakan untuk kebutuhan industri, terutama yang membutuhkan air berkualitas sangat murni. Salah satu industri yang memanfaatkan adalah pabrik semikonduktor. Cara ini dinilai jauh lebih ekonomis karena mereka tak perlu mengolah kembali air yang ada untuk dijadikan air ultramurni.

Keseriusan Singapura dalam mengelola air bersih dan air minum memang tidak main-main. Setiap tahun, dalam empat tahun terakhir, mereka juga menggelar Singapore International Water Week (SIWW) yang dihadiri ribuan orang dari lebih dari 100 negara.

”Setiap tetes air itu sangat berharga sehingga air harus diperlakukan dengan bijaksana,” kata Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pada SIWW 2011 (Kompas, Rabu, 6/7). (fit)



Post Date : 08 Juli 2011