Warga Pasir Peundeuy Terbiasa ke "Cubluk"

Sumber:Pikiran Rakyat - 15 Desember 2006
Kategori:Sanitasi
"KALAU pake kloset untuk ke belakang (buang hajat), susah keluar. Kami kebiasaan ke cubluk aja," ucap Abah Aca (60), warga RW 13 Kp. Pasir Peundeuy, Desa Mekarjaya, Kec. Banjaran, Kab. Bandung kepada "PR". Sebagian besar warga di daerah itu, memang tak menggunakan kloset untuk urusan buang hajatnya.

Desa tersebut pernah mendapat bantuan kloset dari program Santri Raksa Desa 1996. Namun, kloset tidak dipasangkan dan akhirnya hanya tergolek di salah satu sudut rumah mereka. Bantuan dari pemerintah hanya sampai untuk penyediaan kloset saja, sedangkan semen dan bahan bangunan lainnya tidak ada. Untuk membeli sendiri, mereka tidak mampu karena terbentur faktor ekonomi.

Akhirnya, masyarakat membuat cubluk (septic tank) dengan kedalaman 3 meter dan diameter 1 meter dengan lokasi di dekat bangunan rumah mereka. Di kedua sisinya, diberi beberapa buluh bambu untuk tempat kaki bertumpu saat mereka buang hajat. Alhasil, dalam kurun waktu 2 tahun lubang yang tidak memiliki saluran keluar itu dipenuhi hajat warga. Meski begitu, cubluk itu masih "aktif" dan mengeluarkan bau tak sedap sepanjang hari. Tak jarang, cubluk itu berpenghuni belatung.

Sosialisasi penggunaan kloset, sebenarnya sudah dilakukan kader dan petugas dari Puskesmas Banjaran. Namun, tetap saja sebagian besar warga tak menghiraukan. "Warga sudah terbiasa membuang hajat ke selokan, kolam, atau langsung ke cubluk. Perubahan perilaku sulit dilakukan dalam waktu singkat, harus dengan sosialisasi dan penyuluhan terus menerus," ujar bidan Puskesmas Banjaran Kota, Eti Rositawati, Am.Keb.

TARAF pendidikan yang rendah dengan pendapatan masyarakat rata-rata Rp 6.000,00/hari, membuat penduduk RW 13 yang berjumlah 255 jiwa ini memprioritaskan memenuhi kebutuhan pangan daripada yang lainnya. "Untuk makan saja pas-pasan, apalagi bikin kloset," kata Eti.

Pengadaan kloset, tidak lain untuk memelihara kesehatan masyarakat dengan membuat lingkungan tempat hidup yang sehat. Demikian pula dalam pembuatannya, jangan sampai menimbulkan bau yang tidak sedap dan harus berkonstruksi kokoh. Lokasi septic tank ke sumber mata air, minimal 10 m.

Namun melihat letak cubluk dan rumah warga yang hanya berjarak sekira 3-4 m, memungkinkan penyebaran bakteri koli tinja (Eschericia coli) lebih cepat. (Ririn N.F./"PR")



Post Date : 15 Desember 2006