Percik 2016



Pedoman Pengukuran Capaian Pembangunan Perumahan Dan Permukinan Berbasis Hasil (Outcome)



Belajar Dari Champions



Buku dongeng KSAN



Buku : Kita Bisa



E-survey SABRT



Pokja AMPL Kian Gencar Dukung Perbaikan Air Minum dan Sanitasi

16 Januari 2013
Dibaca : 788 kali





Sudah bukan rahasia lagi bahwa hingga kini kondisi penyediaan air minum dan sanitasi di Indonesia masih belum berjalan maksimal.Bahkan di beberapa wilayah bisa dikatakan keadaan air minum dan sanitasi masih jauh dari kata layak terutama pada daerah pelosok yang memang sulit air.

Tetapi, hal itu rasanya sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi. Pasalnya, semua pihak baik dari pemerintah, non pemerintah, maupun sektor swasta kini kian gencar melakukan pembangunan dan perbaikan pada  sektor air minum dan sanitasi.

Salah satu bukti konkritnya bisa terlihat pada kerjasama antara Bank Syariah Mandiri (BSM)  dengan Badan Pembagunan Internasional Amerika(USAID-IUWASH) yang juga  disaksikan oleh Direktur Perumahan dan Permukiman, Bappenas  untuk penyediaan akses  air bersih dan sanitasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia.

Menurut Direktur Perumahan dan Permukiman, Kementerian Bappenas, Nugroho Tri Utomo, kerjasama ini merupakan satu hal yang sangat baik. Sebab, perbaikan dan pembangunan air minum dan sanitasi memang perlu dilakukan.

"Terlebih, buruknya kondisi sanitasi dan air minum telah terbukti menyebabkan banyak kerugian. Baik materi maupun non materi" ungkapnya saat acara lokakarya air minum dan sanitasi pada ajang IWWEF di Hotel Bidakara, Jakarta.

Dia menjelaskan, bukan hanya dapat merugikan negara, kondisi air minum dan sanitasi buruk juga menyebabkan kerugian kepada masyarakat.

 Berdasarkan survey terakhir diketahui setidaknya setiap satu kepala keluarga warga di lingkugan sanitasi dan air minum tidak layak bisa mengalami kerugian materi hingga Rp 1,3 juta per bulan. Nominal tersebut biasanya digunakan untuk biaya berobat dari berbagai penyakit terkait sanitasi seperti diare,muntaber dan lain sebagainya.

Dia mengungkapkan, selain diharap dapat membangun sektor air minum dan sanitasi ke arah lebih baik kerjasama ini juga diyakini dapat meninamilisir kerugian yang cukup besar seperti yang telah dijelaskan diatas.

"Bayangkan saja dengan adanya kerjasama ini masyarakat berpernghasilan rendah hanya perlu mengeluarkan dana Rp 85 ribu perbulan untuk memiliki sambungan PDAM dirumahnya sendiri," ujar Nugroho yang juga merupakan Ketua Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL).

Sekadar informasi, dengan kerjasama ini masyarakat berpenghasilan rendah hanya perlu mengeluarkan biaya rendah untuk bisa memiliki kran air bersih dirumahnya masing-masing. Selain itu, biaya tersebut juga bisa dicicil hingga waktu tertentu.

Lebih lanjut, dia mengatakan, dengan semakin gencarnya pembangunan sektor air minum dan sanitasi seperti saat ini. Kedepannya pemerintah juga akan lebih giat lagi untuk mendukung semua perbaikan kondisi air minum dan sanitasi di Tanah Air.

 "Sebab air besih dan sanitasi layak adalah hak setiap orang. Selain itu, sudah tidak perlu dipungkiri lagi bahwa kondisi air minum dan sanitasi baik dapat meningkatkan angka kesehatan masyarakat,terutama anak-anak yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa," pungkasnya pada konferensi pers "Partnership Agreement Signing Bank Syariah Mandiri dan USAID-IUWASH" di Jakarta (16/1). Cheerli

Share