Percik 2016



Buku : Kita Bisa



Belajar Dari Champions



Buku dongeng KSAN



E-survey SABRT

Aplikasi e-Survey Survey AMPL Berbasis Rumah Tangga






Daftar milis_ampl


Yeremias Saflato, Bekerja Demi Mewujudkan Mimpi

04 Agustus 2017
Dibaca : 113 kali

Salah satu keberhasilan program penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan ditentukan oleh “Keberadaan Kampiun”. Siapa itu kampiun? Yaitu seseorang atau sekelompok orang yang menjadi garda terdepan. Mereka tidak hanya berpikir apa yang dilakukan adalah bagian dari pekerjaan. Namun sebagai tanggung jawab moral untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat lebih baik lagi.

Salah satu yang layak disebut kampiun adalah Yeremias Saflafo, Kepala Puskesmas Distrik Sawiat Kabupaten Sorong Selatan. Yeremias menyelesaikan studinya D3 Kesehatan Lingkungan pada Poltekes Jayapura tahun 2006. Kemudian bekerja sebagai tenaga sanitarian sebelum akhirnya menjadi Bendahara Puskesmas di tahun 2013 dan diangkat menjadi Kepala Puskesmas pada tahun 2015.

Sebagai putra daerah di Sorong Selatan, khususnya di Distrik Sawiat, Yeremias pada awalnya belum begitu memahami pendekatan STBM. Sekalipun memiliki latar belakang kesehatan lingkungan dia lebih fokus mengerjakan aktivitas rutin Puskesmas. Apalagi saat menjadi bendahara ia disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang tidak terkait dengan kesehatan lingkungan. Namun saat ia diangkat menjadi Kepala Puskesmas Distrik Sawiat segalanya berubah. Ia merasa bahwa sektor kesehatan lingkungan sangatlah penting.

Betapa tidak. Di Sorong Selatan angka kesakitan diare termasuk tertinggi di Papua Barat yaitu mencapai 2,17%. Serta termasuk 10 penyakit utama di RSUD Sorong Selatan. Sementara data STBM Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa akses sanitasi layak baru 60%.  Mayoritas rumah tangga di Distrik Sawiat belum memiliki jamban sehat permanen.

Pada awal tahun 2015, tidak lama setelah dilantik menjadi Kepala Puskesmas, Yeremias mengikuti kegiatan Sosialisasi STBM. Dari kegiatan ini ia sadar tentang pentingnya lima pilar STBM. Bersama dengan kepala-kepala Puskesmas yang lain ia menandatangani komitmen untuk memberantas perilaku BABS. Ia bermimpi bahwa distriknya kelak menjadi distrik pertama yang Stop BABS di Kabupaten Sorong Selatan.

Distrik Sawiat terletak 40 km dari ibukota Teminabuan yang terdiri dari delapan kampung. Posisinya berbatasan langsung dengan Kabupaten Sorong. kondisi geografisnya berupa pegunungan yang berbukit-bukit serta dialiri beberapa sungai kecil. Dibandingkan distrik lain, Sawiat termasuk distrik yang mudah dijangkau oleh transportasi darat baik mobil maupun motor. Dengan mayoritas penduduk adalah orang asli Papua yang beragama nasrani, jalanan utama distrik ini dapat dilalui kendaraan umum yang menempuh rute Sorong-Teminabuan dan Sorong-Maybrat.

Setelah menandatangani komitmen bersama, Yeremias mulai bergerak. Ia sendiri mengaku tidak pandai dalam melakukan pemicuan. Tapi ia bisa menggerakkan tokoh masyarakat, tokoh gereja dan pejabat pemerintahan untuk peduli pada gerakan Stop BABS.  Sehingga saat para tokoh-tokoh ini paham maka ia bisa mengerahkan tenaga sanitarian, kader STBM dan fasilitator kesehatan untuk melakukan pemicuan. Sehingga praktis tidak ada penolakan berarti di masyarakat. Semua menerima bahwa perilaku BABS harus dirubah.

 Pada akhir tahun 2015 Yeremias beserta Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong Selatan melakukan verifikasi kampung yang telah Stop BABS. Kampung Eles, kampung halaman Yeremias, merupakan kampung pertama yang dinyatakan Stop BABS.  Tidak lama kemudian kampung tetangganya, Kampung Sfagyo, turut ditetapkan sebagai kampung bebas dari BABS. Akhirnya setelah melalui perjuangan cukup panjang hingga bulan Maret 2017 satu per satu kampung dinyatakan lolos verifikasi. Sehingga lengkap sudah masyarakat satu distrik sudah meninggalkan perilaku Buang Air Besar Sembarangan.

Untuk melengkapi keberhasilan ini pada tanggal 3 Mei 2017 Wakil Bupati Sorong Selatan, Martinus Salamuk, beserta pimpinan daerah dan OPD terkait mendeklarasikan Distrik Sawiat sebagai distrik pertama di Kabupaten Sorong Selatan yang telah bebas BABS.  Kegiatan deklarasi dipusatkan di SD Negeri Sawiat sekaligus kampanye CTPS massal melibatkan murid-murid. Sertifikat Stop BABS diserahkan kepada para tokoh masyarakat yang mewakili delapan kampung.

Menurut Yono Priyadi, Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan Dinkes Sorong Selatan, keberhasilan pada Distrik Sawiat akan dilanjutkan pada distrik lain seperti Distrik Teminabuan, Seremuk, Fkuor dan Salakma. Sehingga peran Yeremias masih sangat diperlukan untuk memotivasi distrik-distrik tersebut.  Selain itu menurutnya keberhasilan ini sangat ditentukan oleh kampiun lokal seperti Yeremias. Ia sebenarnya bukan pejabat penting. Tapi karena ia memiliki relasi dan pengaruh yang kuat baik di tingkat masyarakat hingga pimpinan daerah maka mimpi deklarasi Stop BABS satu distrik dapat terwujud.

Share