Percik 2016



Pedoman Pengukuran Capaian Pembangunan Perumahan Dan Permukinan Berbasis Hasil (Outcome)



Belajar Dari Champions



Buku dongeng KSAN



Buku : Kita Bisa



E-survey SABRT

Aplikasi e-Survey Survey AMPL Berbasis Rumah Tangga


Daftar milis_ampl


Agung Heru Yatmo, Pencipta "Keran Misuh" yang Jadi Juara Nasional

08 Juli 2014
Dibaca : 2095 kali

Karya inovatif lahir dari tangan Agung Heru Yatmo. Mahasiswa semester IV Fakultas Teknologi Pertanian ini membuat keran air yang dia beri nama ’Keran Misuh’. Karya ini berhasil menjadi juara tingkat nasional bulan April lalu.  Apa kelebihannya?

Penampilannya sederhana. Tutur katanya pun lemah lembut. Namun, di balik kesederhanaannya itu, Agung Heru Yatmo menyimpan ide kreatif. Dia berhasil membuat sebuah karya yang belum pernah terpikir banyak orang. Yakni ’Keran Misuh’.

Kata ’misuh’ yang menempel pada karyanya itu tak memiliki arti negatif seperti orang yang sedang berkata-kata kotor. Namun, ’misuh’ yang dimaksud adalah mencuci tangan (diambil dari bahasa Jawa). Sengaja dia menamakan ’misuh’ itu untuk mengingatkan masyarakat untuk rajin mencuci tangan usai bekerja atau mau makan.

Ide ini berawal ketika dirinya banyak melihat petani di kampung halamannya di Pacitan malas membasuh tangan usai bekerja di kebun dan sawah. Kalau pun cuci tangan, mereka tak menggunakan sabun untuk membunuh kuman. Padahal, dari segi kesehatan, kebiasaan petani itu sangat buruk.

Nah, dari situlah tercetus ide untuk membuat keran yang tidak hanya bisa mengeluarkan air, tapi sekaligus mengeluarkan sabun. Dibantu tiga rekannya: Indrawan Cahyo Adilaksono, 20; Widyo Bayu Aji, 22; dan Auliya Nur Fauziah, 21, dirinya mulai mewujudkan ide membuat keran khusus tersebut. Empat orang tersebut kerja keras menyusun metode untuk melahirkan keran yang berfungsi ganda. Setelah berpikir keras, mereka menemukan cara, yakni membeli keran biasa yang dimodifikasi sendiri. Di atas keran itu dipasang semacam tabung plastik yang berisi sabun.

Nah, cara operasional keran itu, ketika tuasnya digerakkan maksimal, maka keluar air yang bercampur sabun. Namun, ketika tuasnya diputar hanya separo, yang keluar hanya air bersih. Keran ini cukup efektif.

Inovasi ini akhirnya diikutkan lomba kreatif yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Jakarta yang bekerja sama dengan The Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene(IUWASH) dan United States Agency for International Development (USAID). ”Kami ngelembur karena proposal harus dikirim ke Jakarta di esoknya,” kata Heru ditemui di Laboratorium FTP UB.

Dan tidak dinyana, dari 129 peserta lain se-Indonesia, karya milik Agung Heru dan kawan-kawan itu yang terpilih sebagai juara.  Pada April 2014 lalu, dirinya dipanggil ke Gedung Menara Thamrin Jakarta Pusat untuk mendapatkan penghargaan sebagai inovasi terbaik 2014 oleh Bappenas. Karya ini juga meraih penghargaan sebagai karya yang Sehat, Bersih, Aman, dan Terjangkau bidang Teknologi Tepat Guna 2014. Yang membanggakannya, sebelum menerima penghargaan, dirinya diberi kesempatan untuk memeragakan karyanya tersebut di hadapan ratusan penonton.

Heru mengakui jika ide tersebut dari sekitar rumahnya. Dia prihatin ketika ada kebiasaan tak menggunakan sabun saat cuci tangan. Padahal, kuman-kuman masih akan menempel di tangan meski sudah dibasuh air. Hanya sabun yang bisa merontokkan kuman di tangan. Dari situ dia membuat ’Keran Misuh’ tersebut. ”Selama ini, sabun dan air pisah. Hingga membuat orang sering lupa betapa pentingnya cuci tangan. Bahkan, tak jarang beralasan malas dan ribet,” kata alumnus SMAN 1 Ngadirojo, Pacitan ini.

Soal nama ’misuh’ tersebut dia pilih agar nyentrik dan keren saja. Sebab, kalau nama aneh, membuat orang yang dengar semakin penasaran dan ingin tahu. Hal itu untuk mengingatkan betapa pentingnya perihal cuci tangan dengan menggunakan sabun. Terutama setelah makan. ”Biasanya orang Indonesia lebih mudah ingat kalau dikasih perihal negatif.  Intinya agar mereka harus cuci tangan,” kata dia.

Kini, berkat karyanya itu, dirinya sudah dihubungi sebuah organisasi World Vision untuk memproduksi secara masal. World Vision adalah organisasi internasional bidang kemanusian. Sayangnya, karena keterbatasan biaya, dirinya dan tim masih belum bisa memberikan jawaban. Untuk sementara, karyanya tersebut disumbangkan ke posyandu yang ada di Desa Candirenggo, Singosari, Kabupaten Malang. ”Kami belum ada modal Mas,” tandas anak pasangan Warsih dan Mahmud ini.

Sumber : Radarmalang.co.id

Share