Kisah Anton Si Pejuang STBM dari Probolinggo

22 November 2012
Dibaca : 2460 kali

CLTS itu unik…..!” pernyataan ini disampaikan Anton saat berbincang dengan Tim IUWASH di sela-sela kesibukannya. “Kenapa begitu?”  Tanya Tim IUWASH. “Lha iya …… wong pendekatan dengan cara main—main tapi sangat mengena dan membangkitkan kesadaran masyarakarat untuk membangun toilet” Itulah sepenggal dialog dengan Anton setelah kami berkeling keliling ke 7 rumah yang sudah membangun jamban yang  berada di RW 2 Kelurahan  Kedung Galeng,

Kyai Fauzan Natural Leader dari RW 2 Kel. Kedung GalengKesimpulan dari percakapan di atas menunjukkan bahwa pendekatan yang diterapkan cukup efektif dalam merubah perilaku masyarakat yang selama ini berperilaku BAB sembarangan. Perilaku ini dilakukan tanpa menyadari akan bahayanya. Namun masyarakat masih terbiasa dengan pendekatan penyuluhan yang terkesan menyampaikan doktrin-doktrin normatif yang masuk telinga kiri dan keluar ke telinga kanan. Pendekatan lama cenderung membuat hal-hal yang disampaikan tidak melekat di benak masyarakat sehingga sulit mendukung munclnya perubahan perilaku masyarakat.

 

 

Kyai Fauzan Natural Leader dari RW 2 Kel. Kedung Galeng

 

Sulistyo Triantono Putro, SKM, atau akrab dipanggil Pak Anton, adalah salah satu fasilitator  yang cukup potensial yang dimiliki Dinas Kesehatan Kota Probolinggo. Tak tanggung-tanggung, Anton menyebut dirinya Motivator Kesehatan Lingkungan.

Anton mendapat pelatihan fasilitasi CLTS/STBM pada akhir November 2011 bersama dengan 20 sanitarian dan petugas kesehatan lainnya.  Pada medio Februari lalu, Anton bersama dengan sanitarian lain dan tokoh masayakat telah difasilitasi oleh IUWASH Jawa Timur untuk melakukan studi banding ke Kabupaten Jombang yang terlebih dahulu telah melaksanakan STBM sejak 2006.

Anton sudah melakukan pemicuan di 4 lokasi di wilayah kerjanya, yaitu Puskesmas Wonoasih. Pengalaman paling mengesanka ketika melakukan pemicuan di RW 2 Kedung Galeng pada saat itu masyarakat diajak berjalan hingga 500 meter ke sebuah sungai, lokasi mereka biasa BAB sembarangan. Di situ mereka dipicu mulai dari rasa jijik, rasa malu, sampai sampai ada sebagian masyarakat sampai muntah –muntah saking jijiknya.

Saat itulah mereka terhenyak dan sadar bahwa perilaku mereka sangat tidak sehat dan merugikan orang lain, belum lagi betapa susahnya saat musim hujan dan saat malam hari, kondisi sudah bertahun tahun mereka jalani sepanjang hidup mereka, dan kesempatan inilah yang dimanfaat Anton untuk menawarkan sebuah perubahan meskipun awalnya sulit untuk meyakinkan masyarakat untuk berubah.

Dalam menjalankan kegiatan pemicuan, Anton mendapatkan dukungan dari Kyai Fauzan, yang kemudian menjadi natural leader STBM yang ikut menentukan keberhasilan Program STBM di Kota Probolinggo. Orang di sekitarnya menyebut dengan sebutan “Bindereh Fauzan” sebuah sebutan terhormat di kalangan komunitas Madura. 


Bu A’yun, salam satu peserta arisan jamban yang akhirnya memahami pentingnya memiliki jamban sendiri di rumah







Meskipun Kedung Galeng masuk wilayah kota, tetapi kondisi geografisnya tidak terlampau padat dan masih terkesan seperti wilayah perdesaan. Setelah pemicuan awal yang dilakukan oleh Anton dengan bantuan tokoh masyarakat, Kyai Fauzan segera bergerak mengumpulkan ibu-ibu di setiap pertemuan-pertemuan terkait STBM. 

Dengan proses pertemuan yang cukup panjang masyarakat RW 2 bersepakat untuk mengadakan kredit jamban. Sistem kredit akan dikelola oleh Kyai Fauzan. Masyakat akan membayar uang muka kredit jamban sebesar antara Rp 100.000 – Rp 200.000 dan sisanya akan dicicil Rp 20.000/minggu hingga lunas. Total pinjaman untuk pembangunan jambannya adalah sebesar Rp. 750.000. Dalam program ini, Anton dan tim teknis (tukang) berkewajiban membangun jamban dengan paket yang terdiri dari kloset, septic tank dan Sumur Resapan.

Saat ini sudah ada 17 KK yang sudah berkomitmen untuk turut serta dalam kredit  jamban tersebut. Tujuh jamban yang sudah terbangun berhasil dimanfaatkan untuk 31 jiwa dan 1 jamban dalam proses penggalian. Ketika ditanyakan mengapa masyarakat memutuskan sistem kredit jamban  bukan arisan jamban? Alasannya cukup masuk akal karena dengan kredit masyarakat tidak khawatir akan macet. Hal ini berbeda dengan arisan masih dimungkinkan ada masyarakat yang curang untuk membayar.

Bu A’yun, salah satu warga yang rumahnya sudah mulai membangun jamban, menguatkan hal ini. “Saya memiliki bibi yang buta, sehingga ketika BAB saya membuang kotorannya di belakang rumah, karena rumah saya terletak jauh dari sungai. Selain itu saya harus mengantar bibi saya untuk melakukan BAB. Kegiatan ini sangat merepotkan“ demikian Bu A’yun memaparkan alasannya untuk ikut menjadi peserta kredit jamban .

Tantangan kedepan : Mungkinkah kredit Mikro untuk jamban?

 mewabah di  wilayah kecamatan Wonoasih, banyak wilayah yang sudah mendengar dan menginginkan sistem ini juga bisa diterapkan di wilayah mereka , terutama wilayah - wilayah yang sudah dilakukan pemicuan.

Potensi ini jelas luar biasa, di sisi lain terdapat isu segi permodalan. Anton harus memiliki modal cukup untuk memenuhi keinginan masyarakat memiliki jamban sendiri. Apabila hanya mengharapkan dari hasil perputaran uang cicilan maka percepatan pembangunan jamban akan lambat. Niatan untuk berkonsultasi dengan BRI setempat dia urungkan begitu mengetahui bunga yang akan dikenakan terlampau besar dan memberatkan.

Seperti harapan para pejuang sanitasi lain di berbagai wilayah, Anton juga berarap bisa mendapatkan bantuan dari lembaga keuangan untuk membantu upaya menggiatkan pembangunan jamban. Agaknya upaya ini harus dilihat sebagai tantangan ke depan upaya, dimana kredit mikro dapat disalurkan kepada masyarakat untuk pendanaan pembangunan Jamban dengan bunga yang tidak memberatkan dan persyaratan yang mudah.

 

Anton dalam salah satu kegiatan pemicuan

anton menunjukkan jamban yang tengah

dalam pembangunan

Share