Percik 2016



Pedoman Pengukuran Capaian Pembangunan Perumahan Dan Permukinan Berbasis Hasil (Outcome)



Belajar Dari Champions



Buku dongeng KSAN



Buku : Kita Bisa



E-survey SABRT

Aplikasi e-Survey Survey AMPL Berbasis Rumah Tangga


Daftar milis_ampl


Muslikah, Semangat Memicu Warga Untuk Terapkan PHBS

05 Juni 2014
Dibaca : 1073 kali

Hal itulah yang diungkapkan Muslikah saat ditanya apa alasan yang membuat dirinya memiliki keinginan untuk menjadi sanitarian di Puskesmas Sleman, Yogyakarta. Menurut wanita berjilbab ini, kondisi lingkungan di sekitar kediamannya yang belum begitu baik adalah alasan utama yang membuat dirinya memilih profesi sebagai sanitarian. “Saya ingin menjadikan lingkungan saya lebih baik dan lebih sehat,” katanya.

Dalam sesi wawancara, wanita yang akrab di sapa Mus ini menyatakan bahwa dirinya saat ini melakukan pemicuan kepada 5 desa yang ada di wilayah Sleman. Di mana, 1 desa sudah berhasil melakukan deklarasi Open Defecation Free (ODF/Bebas Buang Air Besar), 1 desa masih dalam proses, sedangkan 3 desa lainnya masih pada tahapan awal yaitu memperkenalkan pendekatan STBM.

Mus mengatakan, dirinya merasa senang bisa menjadi sanitarian dan terlibat dalam pendekatan STBM. “Saya sangat senang bisa terlibat dalam STBM,” terangnya.

Semangat Mus untuk memicu PHBS kepada warga di lingkungannya memang bukan sekadar isapan jempol semata. Buktinya untuk mengetahui lebih mendalam terkait pendekatan STBM, Mus mengaku kerap mencari informasi STBM melalui internet.

“Selain itu, saya juga biasanya membaca buku-buku STBM. Tujuannya bukan hanya sekadar menambah pengetahuan saja, namun melalui cara ini saya juga bisa mengetahui langkah efektif yang bisa dilakukan dalam memicu masyarakat untuk melakukan PHBS,” ujarnya.

Kegigihan Mus pun akhirnya berbuah manis. Pasalnya, 1 desa yang berada di wilayah kerjanya yaitu Desa Catur Harjo hanya dalam waktu 1 tahun masyarakatnya sudah dapat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). “Keberhasilan ini sungguh diluar dugaan, karena pada awalnya kami menargetkan perubahan tersebut akan berjalan cukup lama yaitu sekitar 5 sampai 10 tahun,” tuturnya.

Sementera itu, dalam mempercepat proses perubahan PHBS warga di wilayah Sleman, Mus dan para sanitarian lainnya juga tengah mengembangkan beberapa inovasi STBM, seperti arisan jamban dan bank sampah. “Selain itu, kami juga telah membuat program kredit jamban bagi warga berpenghasilan rendah yang ingin memiliki jamban,” terang wanita berkacamata ini.

Mus mengaku dalam menggerakan masyarakat untuk melakukan PHBS, dirinya memulai dengan melakukan pemicuan kepada anak-anak terlebih dulu. Salah satu cara yang dilakukan ialah dengan mengenalkan berbagai penyakit menular dan bagaimana pencegahannya, “Kami memilih anak-anak karena mereka adalah agen perubahan, sehingga bila diajarkan dari sejak dini maka diharapkan mereka dapat terus menerapkan sampai dewasa nanti,” ungkapnya.

Selain itu, dalam melakukan pemicuan PHBS Mus juga melibatkan kaum ibu yang tergabung dalam PKK, tokoh masyarakat, juga melalui RT dan RW setempat.

Mus menuturkan bahwa kunjugan Kemenkes dan Poltekes ke Desa Pendowo Harjo, Sleman yang merupakan rangkaian dari kegiatan Riview Pembelajaran Proses Belajar Mengajar STBM di 9 Poltekes Kemenkes Indonesia dan Uji Coba Pelatihan Jarak Jauh (PJJ) STBM di Yogyakarta ini merupakan satu kehormatan yang sangat membanggakan.

 “Kami bangga bisa dipercaya menjadi tempat belajar. Melalui kegiatan ini kami juga berharap masyarakat dapat lebih semnagt lagi dalam menerapkan PHBS dalam kegiatannya sehari-hari, sehingga kedepannya lingkungan bisa lebih bersih dan masyarakat dapat lebih sehat,” pungkasnya. Rahma (Sekretariat STBM)

Editor: Cheerli

 

Share