Buku : Kita Bisa



Percik 2016



Belajar Dari Champions



Buku dongeng KSAN



E-survey SABRT

Aplikasi e-Survey Survey AMPL Berbasis Rumah Tangga


Daftar milis_ampl


Stop BABS Untuk Indonesia Lebih Sehat

29 Januari 2014
Dibaca : 1082 kali

 

Bapak paruh baya itu mengunci mulutnya rapat-rapat. Mimik mukanya seolah menahan rasa malu. Bibirnya bergetar, menunjukkan adanya perkataan yang hendak diucapkannya, namun tertahan. Setelah ditunggu, akhirnya satu kalimat terucap darinya, “Ya di sungai sebelah sana. Atau kalau malem, udah gelap, pakai kantong plastik dulu terus dibuang ke tong sampah”. Itulah jawabannya atas pertanyaan kami: “selama ini Buang Air Besar (BAB) di mana?” 

Peristiwa ini nyata, dan terjadi bukan di pelosok tanah air yang jauh dari berbagai akses pembangunan. Kejadian ini berlangsung di sebuah provinsi di Pulau Jawa, yang konon adalah pulau termaju di Indonesia. Provinsi Jawa Tengah tepatnya. Ironisnya lagi, terjadinya tepat di ibukota provinsi, Semarang. Tepatnya di Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Masyarakat di kelurahan yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Bandara Internasional Ahmad Yani itu tak terbiasa dengan MCK sebagai sarana sanitasinya sehari-hari. Bahkan mereka yang memiliki jamban di rumahnya pun salurannya langsung mengalir ke arah sungai Bringin.

Kondisi serupa tersebut juga ditemui di Kelurahan Mangkang Wetan, tak jauh dari Kelurahan Wonosari. Kelurahan yang terletak di kawasan pesisir ini juga tiap pagi disuguhi pemandangan “ritual harian” dengan warganya yang berderet di atas tanggul, melepaskan hajat sembari bercengkerama di pagi hari. Karena kebiasaan ini, masyarakat menyebut tanggul di areal pertambakan itu sebagai “WC terpanjang”. 

Fakta- fakta yang ditemui saat kunjungan tim review mission USRI (Urban Sanitation and Rural Infrastructure) ini tentunya sangat memprihatinkan. Betapa tidak, kegiatan pencemaran lingkungan yang seharusnya tidak dilakukan, malah menjadi budaya yang lekat dengan masyarakat. 

Dalam menanggulangi hal ini pemerintah sendiri telah melakukan melalui berbagai macam program berbasis masyarakat seperti USRI. Program yang melibatkan kerjasama ADB dalam pendanaannya ini diharapkan mampu menekan angka BAB sembarangan, sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan sanitasi sesuai dengan amanat Millenium Development Goals (MDGs). 

Namun kenyataannya tidak semudah itu. Menghapus kebiasaan BAB sembarangan berarti mengubah budaya dan cara berfikir masyarakat. Fakta di daerah Jawa Tengah ini adalah contoh nyatanya. Walaupun MCK umum tersedia, tetapi masyarakat tidak mau memanfaatkanya. “Ya gimana? Wong udah terbiasa di kali. Kalau diminta beralih ke WC rasanya kurang enak” ujar salah seorang warga. 

Hal ini menunjukkan bahwa masih besarnya pekerjaan rumah yang harus ditanggung dalam proyek sanitasi berbasis masyarakat semacam ini. “Artinya, USRI bukan sekedar harus menyediakan infrastruktur, melainkan juga harus mengubah mindset masyarakat,” ujar ketua CPMU USRI, Rina Agustin Indriani pada suatu kesempatan.

Meski demikian, tidak sedikit juga yang menyambut baik rencana pembangunan infrastruktur sanitasi berbasis masyarakat. “Wah mau dibangun WC? Alhamdulillah, nanti kalau buang air jadi lebih bersih, lebih sehat, nggak malu karena tempatnya tertutup, bukan di kali,” kata warga masyarakat yang mengaku sangat senang dengan adanya fasilitas MCK umum di daerahnya.

Menurut Rina dalam mendorong perubahan perilaku ini semua pihak harus menjalin  kerjasama antara satu sama lain, terutama saat awal pembangunan MCK umum. “Pemerintah daerah, Badan Koordinasi Masyarakat, dan KSM harus saling bahu membahu dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat. Apalagi, nantinya para masyarakat pengguna akan dibebankan biaya retribusi,” terangnya.

Tetapi, program sanitasi berbasis masyarakat bukannya tanpa harapan. Kelurahan Wonosari di Kecamatan Ngaliyan, Semarang buktinya. Walaupun kondisi aktualnya jauh dari higienis, namun perkembangan USRI di daerah tersebut patut diapresiasi. Masyarakat sekitar mulai sadar akan dampak buruk dari kebiasaan mereka BAB sembarangan. Lebih jauh lagi, kesadaran ini diikuti dengan keinginan untuk berubah, bahkan menyatakan kesediaannya untuk membayar retribusi dengan harapan kehidupannya akan lebih higienis. 

“Ya bayar retribusi, kan retribusi untuk kebaikan kita bersama juga. Asal jangan mahal-mahal. Yang penting WC-nya nanti bisa tetap bagus, bisa kita pakai terus,” ujar seorang warga setempat.

Secercah harapan juga dapat dilihat di Tegal. Tepatnya di Kelurahan Pesurungan Lor. Masyarakat di kelurahan ini sangat aktif dalam pembangunan MCK plus di wilayahnya. Pembangunan yang saat ini sedang berjalan pun terus dikawal oleh masyarakat melalui BKM dan KSM.

 “Masyarakat sini sudah pengen cepet pakai MCK plusnya, makanya mereka juga berharap pembangunan ini segera selesai. Karena banyak yang mau cepat selesai, akhirnya semua warga ikut membantu,” ujar Suharto, ketua BKM setempat.

Dengan semua fakta diatas menunjukkan bahwa kondisi sanitasi harus selalu dijaga dengan baik. Sebab sanitasi baik akan membawa manfaat besama, sedangkan kondisi sanitasi buruk tentunya dapat merugikan semua. Imam Safingi

 

Editor: Cheerli

Share