EcoFaeBrick, Batu Bata dari Kotoran Sapi

05 Februari 2013
Dibaca : 4700 kali

Kotor, bau dan menjijikan, itulah biasanya kesan pertama yang muncul saat melihat kotoran sapi.

Tapi, tahukah anda ternyata kesan ini tidak berlaku pada Syammahfudz Chazali, seorang alumnus fakultas pertanian UGM yang telah berhasil mengubah kotoran sapi menjadi batu bata yang bernilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan yang dikenal dengan nama Ecofaebrick.

Menurut artikel yang dilansir dari situs resmi Kementrian riset dan teknologi awal terciptanya ecofaebrick ini bermula dari rasa keprihatinan Syam terhadap banyaknya limbah feses sapi yang belum dikelola dengan baik oleh para peternak di daerah perternakan sapi.

Selain itu, peternak juga kerap membuang kotoran sapi tersebut ke sungai yang sudah pasti kegiatan ini dapat mencemari lingkungan dan air di daerah tempat tinggal mereka.

Sebelum memutuskan untuk membuat feses sapi sebagai bahan baku pembuatan batu batu, dia terlebih dulu melakukan penelitian tentang kandungan yang ada dalam kotoran sapi tersebut. Dan ternyata dalam setiap 1 kilogram kotoran sapi terdapat kandungan silika sebesar 9,6%. Silika itu sendiri merupakan suatu senyawa yang bisa diolah menjadi bahan baku untuk membuat batu bata dan gerabah.

Bisnis berbasis kotoran sapi ini mulai ditekuni sejak tahun 2006 lalu. Lewat tim Faerumnesia yang artinya kotoran dari lambung sapi, Syam mulai menjalankan usaha pembuatan ecofaebrick tersebut. Tak hanya sekedar membuat batu bata dia juga mulai mengembangkan usahanya dengan membuat gerabah yang bahan dasar sama. Mulai sejak itu nama ecofaebrick pun makin dikenal dikalangan masyarakat Indonesia.

Sedangkan dimata dunia ecofabrik baru dikenal sejak tahun 2009 lalu. Dimana kala itu Syam yang digandeng oleh mahasiswa universitas Prasetya Mulia untuk mengikuti lomba business plan tingkat dunia yang bertema Global Social Venture Competition (GSVC) dan berhasil memenangkan juara pertama pada kompetisi bergengsi yang digelar di Universitas California, di  Berkeley, Amerika Serikat.

Menurut situs fastcompany hasil ini sangat mengejutkan karena selama 10 tahun ajang tersebut digelar, belum pernah ada tim perguruan tinggi dari luar negeri paman sam yang sukses menggondol juara pertama. Pada lomba tersebut tim Indonesia berhasil mengungguli 150 tim MBA dari 30 negara lainnya dan berhak atas uang sebesar USD25 ribu.

Tak hanya sekedar dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan saja, ecofaebrik juga memiliki berbagai keunggulan bila dibandingkan dengan batu bata pada umumnya yang berasal dari tanah liat.

Selain dibuat dengan biaya rendah, batu bata ini juga memiliki kualitas yang lebih baik karena kekuatan tekananya lebih kuat 20% yang membuatnya tidak mudah retak dan hancur. Kemudian ecofaebrik juga diketahui memiliki berat yang lebih ringan dan walaupun terbuat dari kotoran sapi ecofaebrick juga aman untuk kesehatan.

Ecofaebrick juga mengklaim bahwa batu bata yang dibuat menggunakan 75% kotoran sapi ini telah disempurnakan dalam proses pemanasan biogas yang mengurangi  emisi CO2 secara signifikan atas pembakaran kayu pada pembuatan batu bata tradisional. Yang mana, pemanasan dengan cara tersebut diketahui dapat mengurangi 1.692 ton CO2 pertahun. Bahkan, penggunaan ecofaebrick dapat mengurangi pemakaian semen hingga 60%.

Kini, selain memproduksi batu bata dan gerabah. Syam juga dikabarkan tengah sibuk meladeni permintaan beberapa perusahaan dari dalam dan luar negeri yang hendak mengadopsi ide pemanfaatan kotoran sapi tersebut. Kabarnya ide ini telah dilirik oleh  lebih dari 22 negara dunia seperti India, Meksiko, Venezuela, Italia,  dan Belanda. Cheerli

Share