Buku : Kita Bisa



Percik 2016



Belajar Dari Champions



Buku dongeng KSAN



E-survey SABRT

Aplikasi e-Survey Survey AMPL Berbasis Rumah Tangga


Daftar milis_ampl


Pertemuan AKKOPSI dengan Bupati Padang Pariaman Hadirkan Semangat Stop BABS

03 September 2017
Dibaca : 238 kali



Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) kembali melakukan advokasi kepada kepala daerah untuk mengedukasi para kepala daerah agar memberikan perhatian lebihnya terhadap kondisi sanitasi di daerahnya.

Setelah sebelum melakukan pertemuan dengan Bupati Sijunjung, Sumatera Barat, kini AKKOPSI, diwakili oleh Direktur Eksekutif AKKOPSI, Josrizal Zain,  kembali bertemu dengan salah satu kepala daerah di Provinsi Sumatera Barat, yaitu Bupati Padang Pariaman, pada 21 Agustus 2017.

Dalam pertemuan yang berlangsung dengan penuh kekeluargaan tersebut, Bupati Padang Pariaman, Ali Mukni menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman menargetkan dilakukannya deklarasi bebas buang air besar sembarangan pada akhir tahun 2019, sebagai wujud komitmen mencapai akses sanitasi dan air bersih. Hal ini akan tercapai dengan adanya dukungan dari semua pihak.

Terkait dengan persoalan buang air besar sembarangan, menurut Ali, ada sejumlah kendala dan tantangan untuk dapat mengatasi persoalan tersebut. Salah satu tantangan yang ia identifikasi adalah kebiasaan masyarakat yang masih buang air besar ke sungai maupun kolam. Selain itu, belum tersedianya akses di masyarakat dan juga sekolah-sekolah juga merupakan tantangan tersendiri yang harus segera diselesaikan.

Tidak hanya sekedar stop buang air besar sembarangan, Ali juga menyebutkan mengenai akses air bersih yang juga harus dinikmati oleh masyarakat.

“Padang Pariaman harus mencapai universal akses pada tahun 2019, dimana tidak ada lagi yang tidak terakses air bersih,” kata Ali.

Sementara itu, Direktur Eksekutif AKKOPSI, Josrizal Zain menyebutkan Padang Pariaman memiliki pemerintahan yang telah banyak melakukan pembangunan fisik, serta dipimpin oleh sosok yang memiliki mimpi jauh ke depan untuk tetap menjadikan sanitasi sebagai persoalan utama. Menurutnya, tolak ukur jati diri daerah dapat diukur melalui sanitasi.  Jika sanitasi buruk maka jati diri daerah ikut buruk.

Mantan Walikota Payakumbuh itu juga menegaskan sanitasi adalah persoalan kesehatan yang mesti jadi perhatian, jika ada satu saja yang buang air besar sembarangan, sebenarnya telah membayar 25 juta/tahun untuk dampaknya.

"Indonesia saat ini telah mengalami kerugian akibat sanitasi sekitar 29 triliun/tahun. Dalam sanitasi perlu perhatian terhadap strategi, komitmen, kerja sama dan koordinasi, memanfaatkan peluang-peluang yang bisa diambil oleh daerah baik dari donor maupun program pemerintah, memiliki target, dan memperhatikan aspek teknis," katanya.

Tindak lanjut dari pertemuan tersebut, menurut Josrizal, akan dilakukan pertemuan dengan Bupati Pringsewu untuk dapat belajar lebih jauh mengenai pengelolaan sanitasi di daerah tersebut. Kabupaten Pringsewu saat ini merupakan salah satu Champion dengan inovasi gerakan “Jihad Sanitasi”. Pertemuan tersebut sedianya akan diadakan pada 6 September 2017. (Rozi Kurnia)

Share