Pedoman Pengukuran Capaian Pembangunan Perumahan Dan Permukinan Berbasis Hasil (Outcome)



Belajar Dari Champions



Buku dongeng KSAN



Buku : Kita Bisa

Motivasi Memecahkan Rekor Dunia Menjadi Penyemangat Capai Universal Access

11 Desember 2014
Dibaca : 1471 kali

Selasa, 9 Desember 2014, terasa seperti hari biasa pada rutinitas para penggiat AMPL. Pokja AMPL Nasional masih mendorong para pemangku kepentingan untuk mengimplementasikan Rencana Pengamanan Air MInum (RPAM), mengembangkan layanan informasi air minum dan sanitasi nasional (NAWASIS) dan melakukan pembelajaran horizontal di antara Pokja AMPL Daerah. Hanya bagi beberapa yang mengikuti perkembangannya, telah mengetahui bahwa pada hari tersebut Waspola Facility telah  menggenapkan milestone untuk sejarah kontribusi pendampingannya di Indonesia.

Seperti sebuah keluarga yang melepas anggota keluarganya untuk bepergian jauh, tidak kurang dari 30 Pokja AMPL Kabupaten/Kota dan Pokja AMPL Provinsi dari seluruh Indonesia berkumpul untuk membahas exit strategy dan pembelajaran apa saja yang telah diperoleh dari suatu project Waspola Facility  selama 14 tahun. Dalam kesempatan ini tidak kurang dari 12 narasumber dilibatkan untuk sharing di hadapan khalayak.

Segenap kekayaan pengalaman dan pengetahuan tersebut akan dikemas dalam suatu paket bacaan populer “pasta book” yang memungkinkan esensi pemikiran didalamnya dapat tersebar ke lebih banyak orang. Oleh sebab itu, pada kesempatan yang sama, dilakukan juga interview mendalam kepada setiap champion AMPL yang hadir dalam Lokakarya Exit Strategy ini.

Kegiatan dibuka sehari sebelumnya oleh Kasubdit Air Minum dan Air Limbah Bappenas, Eko Wiji Purwanto. Dilanjutkan dengan talkshow mengenai pengalaman pelaku pusat dalam pembangunan AMPL di Indonesia. Talkshow ini menghadirkan narasumber dari Kementerian, diantaranya Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas yang diwakili oleh Kasubdit Persampahan dan Drainase Bappenas, Laisa Wahanudin; Direktur Pengembangan Air Minum (PAM), Kementerian PU Pera, Mochammad Natsir; dan Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP) Kementerian PU Pera, Maliki Moersjid. Dipandu oleh Wahyu Suharto dari Ditjen Bangda Kementerian Dalam Negeri, diskusi yang berlangsung hingga larut ini menjadi penutup kegiatan lokakarya hari pertama.

Di hari berikutnya, berlangsung dua talkshow dan dua diskusi kelompok. Talkshow pertama menampilkan Susmono, Mantan Direktur PPLP; Johan Susmono, Mantan Direktur Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna (SDA TTG) Ditjen PMD Kemendagri; Maraita Listyasari, Mantan Kepala Sekretariat Pokja AMPL Nasional; Tanozisochi Lase, Wakil Ketua CPMU Pamsimas; dan dimoderatori oleh Wiwit Heris dari Waspola Facility. Pada sesi ini hadirin terlihat sangat menikmati cerita pengalaman dari para narasumber mengenai sepak terjang mereka ketika mengawali implementasi kebijakan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL BM).

Pesan menarik disampaikan oleh Johan Susmono, dikatakannya bahwa kunci keberhasilan Pokja AMPL sebenarnya cukup 2, yakni (1) bekerja dengan hati; dan (2) kerjasama tim dengan peran masing-masing.

“Ibarat sebuah tim football, saat itu kami berbagi peran. Ada yang menjadi kiper, gelandang depan, sayap kanan, sayap kiri dan wasit. Apa peran PU, apa peran PMD, apa peran Kemkes, yang saat itu dikoordinasikan dengan baik oleh wasit, sayang beliau berhalangan hadir,” ujar Johan seraya menyebut Basah Hernowo, figur yang sampai saat ini beliau kagumi.

Adapun kekaguman tersebut diakuinya karena Basah Hernowo mampu menciptakan relasi yang bersifat kekeluargaan antar pemangku kepentingan saat itu. Menurutnya, faktor pendorong keberhasilan koordinasi serta sinergi antara lain melalui keterbukaan, keterpercayaan dan keakraban.

“Kami sering diundang rapat tanpa surat resmi, beliau hanya mengirimkan sms, tapi kami pasti datang. Karena kami merasa sudah saling dekat, akrab satu sama lain, maka rapat dirasakan seperti sebuah pertemuan silaturahim saja. Saya rasa hubungan informal seperti itu penting dibangun untuk mencapai keserasian,” tutur Johan menambahkan.

Talkshow kedua menghadirkan beberapa pelaku AMPL yang berhasil membawa daerahnya menjadi daerah champion. Mereka diminta mengemukakan pengalaman serta tips dalam menerapkan pembangunan AMPL di daerah masing-masing. Pokja AMPL Provinsi Sumbar diwakili oleh Youlius Honesti, Pokja AMPL Provinsi  NTB diwakili oleh Saharudin, Pokja AMPL Kabupaten Bangka diwakili oleh Panbudi Marwoto dan Pokja AMPL Kabupaten Pekalongan yang diwakili oleh Bambang Irianto. Sesi ini dipandu dengan lancar oleh Kasubdit SDA TTG Ditjen PMD, Anang Sudiana. 

Seperti tiada hari esok, acara masih dilanjutkan dengan dua diskusi kelompok. Satu diskusi membahas tentang overview serta kemajuan sektor AMPL melalui peran Pokja AMPL dan diskusi lainnya digunakan untuk mensosialisasikan RPAM dan Nawasis kepada para peserta.

Di akhir hari, Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas, Nugroho Tri Utomo, berpesan bahwa kita semua harus merasa optimis mencapai Universal Access di tahun 2019. Berbagai hal yang sudah dilakukan melalui fasilitasi Waspola, harus tetap dilanjutkan. Advokasi horizontal merupakan kewenangan daerah, sedangkan untuk advokasi vertikal akan dilakukan oleh Pokja AMPL Nasional. Nugroho menginformasikan, dukungan serta komitmen Presiden dan Menteri Bappenas terhadap sektor ini tidak perlu diragukan. Peningkatan alokasi dana yang cukup besar bahkan ditawarkan. Sekarang justru kita yang harus bersiap diri untuk sanggup mengelolanya dengan baik.

“Waspola Facility mungkin berakhir, tetapi sistem tidak akan berhenti. Mari kita bersama berbagi peran untuk mencapai Universal Access di 2019. Belum ada satu negara pun yang mampu menggenapkan kebutuhan dasar bagi warganya dalam waktu singkat. Kita pecahkan rekor dunia untuk menjadi satu-satunya negara yang mampu memenuhi gap 40% akses dalam jangka waktu 5 tahun,” semangat optimisme Nugroho yang memotivasi seluruh hadirin tersebut sekaligus menutup kebersamaan selama dua hari. Acara diakhiri dengan foto bersama serta ramah tamah. Salam Semangat! (Kelly)


Share