" Yang Muda, yang Cinta Lingkungan "

Sumber:Koran Jakarta - 23 April 2009
Kategori:Lingkungan

Siapa bilang kaum muda maunya enak-enakan, bertindak sembrono, dan tidak peduli kondisi lingkungan? Lihat saja saja tiga muda-mudi ini. Dalam kehidupannya, prinsip hidup mereka cukup “hijau”.

Arsetyanita Puspitasari, 21 tahun, itu misalnya. Mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Indonesia mengatakan melindungi bumi dengan menjaga lingkungan sangatlah krusial.

Perempuan yang biasa disapa Tya ini pun mengaplikasikan prinsipnya dalam keseharian. Misalnya, dalam beberapa bulan belakangan, dia disiplin mematikan lampu kamar kosnya bila tidak dipakai. “Kalau ditinggal pergi, walaupun hanya untuk membeli makan, lampu dimatikan,” terang gadis yang ngekos di kawasan Depok tersebut.

Selain lampu, alat elektronik, seperti charger ponsel, juga tidak luput dari perhatiannya.
Agar tidak membuang listrik, dirinya selalu mencopot charger dari colokan listrik. Ia berkeyakinan dengan melepas benda-benda elektronik dari sambungan listrik itu dapat mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan meminimalisasi kenaikan suhu Bumi.

Ketika ditanya soal kondisi Bumi kekinian, dia menyadari bahwa Bumi makin tidak sehat. Fenomena banjir serta sengatan matahari yang makin terik adalah buktinya. “Sengatan matahari sekarang sangat menyengat kulit,” ujar dia.

Tindakan lain yang dilakukan gadis yang menyukai buku-buku motivasi itu adalah mengurangi penggunaan kantong plastik. Termasuk membuang sampah pada tempatnya. Tidak jarang, bila Tya tidak menemukan tempat sampah, ia memutuskan mengantongi atau menyimpan dulu sampah yang dia terima. “Misalnya, bungkus permen, tidak jarang saya kantongi dulu. Soalnya risi kalau harus buang sembarangan,” ujarnya.

Jika Tya selalu mengantongi bungkus makanan sampai menemukan tempat sampah, Marcha Adiwara Prawita, 16 tahun, pun hampir sama. Ia hanya berani membuang sampah organik di sembarang tempat. “Kalau tidak dapat terurai, seperti plastik, saya tidak mau membuang di sembarang tempat,” ujar dia.

Sementara Tengku Rivan Satria Hafas, 22 tahun, mahasiswa Prasetiya Mulya Business School semester enam itu menerapkan cara mengendarai mobil yang pro lingkungan. Caranya? Dengan tidak kebut-kebutan di jalanan. “Menyetir tidak dengan kecepatan tinggi dapat mengurangi pembakaran bensi mesin,” ujar mahasiswa semester enam tersebut.

Agar menghemat konsumsi bensin mobilnya, ia pun selalu berangkat kuliah lebih awal bila masuk pagi hari. “Jadi bisa terhindar dari macet,” ujar dia. Di rumah, ia juga menerapkan prinsip berhemat listrik. Caranya, dengan mematikan lampu yang tidak digunakan dan mencopot kabel peranti elektronik dari colokan listrik.

Rivan juga berpendapat bahwa salah satu cara terefektif dalam menjaga Bumi adalah dengan membuka ruang hijau. Bila hal tersebut dilakukan, maka penyerapan polutan di udara dapat semakin meningkat. Bahkan, dia menilai membuka ruang terbuka hijau lebih bernilai ketimbang membuka restoran. “Walau manusia butuh makan, tapi udara sejuk dan bersih juga diperlukan,” papar dia.

Bagi dia, peringatan Hari Bumi tetap memiliki makna penting. Momen perhelatan merupakan langkah untuk kembali memperhatikan kondisi lingkungan yang kini kian rusak.

Di sisi lain, Marcha menyadari bahwa menjaga lingkungan bukan perkara mudah. Dia menyadari kadang masih teledor mencopot charger atau peranti elektronik lainnya meski tidak sedang dipergunakan. “Walau sulit, kebiasaan itu harus saya ubah,” terang siswi kelas 11 SMU itu bertekad. Setidaknya, salah keteledoran yang kerap ia lakukan selama ini sudah berkurang satu, yakni disiplin mematikan kran air di bak bila tidak dipergunakan. din/L-4



Post Date : 23 April 2009