Meraup Untung dari Sampah Plastik

Sumber:koranmadura.com - 25 Februari 2014
Kategori:Sampah Luar Jakarta
Berawal dari siaran di salah satu televisi yang menayangkan pembuatan bahan bakar dari sampah plastik, Mashuri, 35, warga Desa Akkor, Kecamatan Palengan, Kabupaten Pamekasan, tertarik mencobanya dan berhasil. melakukan itu untuk mendapat keuntungan dari limbah plastik. Warga Dusun Akkor Daja itu berhasil membuat bahan bakar dengan menggunakan bahan baku sampah plastik.

Meskipun baru dimulai sekitar dua bulan lalu, namun usaha pembuatan bahan bakar itu sudah dirasakannya memberi keuntungan secara ekonomi. Karena selain digunakan untuk motornya sendiri, bahan bakar buatannya itu juga sudah dijual kepada saudaranya untuk digunakan sebagai bahan bakar mesin peggilingan (selep) jagung dan kopi. Setiap liter bahan bakar, ia jual dengan harga  Rp 5.000.

Dari memproduksi bahan bakar itu, ia mendapatkan keuntungan yang lumayan besar. Dengan menggunakan 15 kilogram sampah plastik yang dibelinya dengan Rp 1000 per kilogram, ia mampu membuat 10 sampai 14 liter tergantung dari kualitas plastik yang dia pakai.

“Hasilnya lumayan, dalam satu kali produksi membutuhkan biaya antara Rp 17 ribu. Rp 15 ribu untuk membeli sampah plastik, 2 ribu untuk membeli sekam kayu sebagai bahan bakar tungku pembakaran. Dengan jumlah itu, kami bisa membuat 10 liter bahan bakar senilai Rp 50 ribu,” katanya.

Awal dia memproduksi bahan bakar alternatif itu, cerita dia, setelah melihat tayangan di televisi ia mulai mendalaminya dengan mencoba mencari informasi di internet. Setelah merasa cukup, ia mulai mencoba melakukannya sendiri. Uji coba yang dilakukan sampai lima kali, empat kali diantaranya gagal. Uji coba pertama dan kedua gagal karena jenis plastik yang digunakan dari plastik kemasan air mineral sehingga bahannya tidak bisa mencair.

Setelah menggunakan palstik biasa (tipis) akhirnya bisa menghasilkan cairan. Uji coba berikutnya, yang ketiga dan keempat kembali gagal karena alat penyulingan tidak mampu menahan asap dengan baik sehingga tidak mampu menghasilkan bahan bakar. Baru pada uji coba kelima dia berhasil.

“Cara mengubahnya mudah saja. Plastik masukkan ke dalam tong besi kemudian dipanaskan menggunakan tungku. Tong besi itu diberi lubang pengeluaran asap dengan cara diberi pipa sepanjang tiga meter. Melalui pipa besi itu pula, cairan BBM keluar,” ungkapnya.

Mashuri menjelaskan untuk mendapatkan BBM dengan kualitas mirip bensin, harus digunakan jenis plastik yang bagus dan bersih dari air. Jenis plastik yang digunakan juga tidak mudah sobek atau seperti memiliki kandungan karet di dalamnya.

Diakuinya, hasil penyulingan itu masih belum maksimal karena peralatan yang dia gunakan merupakan barang bekas. Jika penyulingannya menggunakan alat yang bagus, yang berbahan stainless steel, maka hasilnya dipastikan akan bisa bagus.

Mashuri yakin usaha pembuatan bahan bakar itu akan sangat mudah untuk dikembangan karena biayanya cukup murah sehingga bisa dijual dengan harga lebih murah dari bahan bakar minyak (BBM).

Ia memiliki niat untuk terus mengembangkan usaha barunya itu dengan membeli peralatan yang memadai. Hanya saja untuk saat ini upayanya itu masih terkendala dengan permodalan untuk pengadaan alat penyulingan yang lebih baik.

“Sudah dua bulan saya membuat ini dan tidak ada keluhan saat digunakan sebagai bahan bakar sepeda motor dan mesin selep,” katanya.



Post Date : 26 Februari 2014