16 Tahun Hidup di Genangan

Sumber:Kompas - 30 Mei 2011
Kategori:Drainase

jakarta, kompas - Warga RW 01, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, sudah 16 tahun tinggal di atas genangan air. Tahun ini, mereka bisa agak lega karena Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Barat berencana menyedot air yang ketinggiannya mencapai 1,5-2 meter.

Ketua RT 10 RW 01, Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Rudi Suwandi, Minggu (29/5), mengatakan, sejak air mulai menggenangi wilayahnya pada 1995 hingga kini belum pernah dilakukan penyedotan.

”Kalau memang pemerintah berencana menyedot air tahun ini, kami menyambut baik dan kami harap bisa direalisasikan,” ujarnya.

Siklus banjir lima tahunan tiba pada 2012. Rudi berharap sudah ada persiapan memadai untuk mengantisipasi dampaknya, terutama di RW 01. Warga biasanya hanya membuat penahan air dari tumpukan karung pasir, tetapi itu tidak cukup menahan banjir. Wilayah ini ditempati sekitar 500 jiwa.

Wilayah RT 10 termasuk yang paling parah tergenang air. Selain akibat hujan dan luapan sungai, air itu juga akibat limpasan rob saat laut pasang. Setiap kali hujan deras dipastikan jalan-jalan beton dan papan yang menghubungkan rumah-rumah di tempat itu terendam.

Genangan itu juga telah memakan korban. Menurut Rudi, belum lama ini ada anak yang terjatuh ke genangan air dan tewas tenggelam. Kejadian itu bukan yang pertama kali terjadi.

Daerah sekitar RW 01 merupakan kawasan pergudangan dan industri. Jalan-jalan dibeton karena setiap hari dilewati truk-truk besar dan padat kendaraan.

Pabrik-pabrik baru yang didirikan di kawasan itu menguruk tanah lebih tinggi daripada wilayah RW 01 sehingga air hujan dan air pasang selalu menuju wilayah itu. Saluran air penghubung pun banyak tertutup bangunan atau terisi sampah sehingga tidak berfungsi.

Tak jauh dari RW 01, sekitar 500 meter, mengalir Kali Angke. ”Meskipun sudah dipasangi tanggul sampai 1,5 meter, kalau hujan, air masih saja meluap dan pasti mengalir kemari,” ujar Rudi.

Usman, salah satu warga RT 10, mengatakan, satu bagian rumahnya telah habis termakan genangan air. Dinding dan atap sudah jebol.

”Yang terlihat sekarang ini bangunan lantai dua. Lantai 1 sudah tenggelam di bawahnya. Yang tadinya kamar-kamar, sekarang sudah jadi kolam,” tuturnya.

Setiap seusai banjir besar, seperti tahun 1997, 2002, dan 2007, dia harus meninggikan rumahnya. Setiap kali meninggikan rumah 50 sentimeter, air datang lagi lima tahun kemudian setinggi 50 sentimeter.

Hal serupa dialami Awaludin. Dia harus merogoh kocek hingga Rp 30 juta untuk berlomba dengan air yang menggenangi rumahnya.

”Saya sudah tiga kali meninggikan lantai rumah. Saya berpikir lama-lama uang saya habis dan tidak ada wujudnya. Saya memilih pindah,” ujar Awaludin yang kini jadi warga Meruya.

Rudi menambahkan, penyedotan dengan pompa setidaknya bisa mengurangi genangan air di kampungnya. ”Saya kira walaupun disedot tidak serta-merta airnya habis, tetapi setidaknya mengurangi tingginya air. Syukur-syukur kalau airnya bisa hilang sama sekali,” katanya.

Prioritas

Secara terpisah, Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum (Sudin PU) Tata Air Jakarta Barat Heryanto mengatakan, wilayah RW 01 menjadi prioritas untuk penanganan masalah genangan air pada tahun 2011. Pihaknya tengah meminta anggaran tambahan untuk penyediaan pompa guna menyedot air di wilayah tersebut.

Sudin PU Tata Air Jakbar berencana membangun sebuah rumah pompa di wilayah itu, tepatnya di pinggir Kali Angke. Saat ini baru ada satu rumah pompa, yaitu di Jalan Kapuk Poglar, sekitar 1 kilometer dari RW 01. Jarak itu terlalu jauh sehingga pompa tidak bisa digunakan secara maksimal.

”Pompa yang dipasang berkapasitas 1.000 liter per detik. Satu rumah pompa berikut sistemnya setidaknya membutuhkan anggaran Rp 4 miliar. Untuk penanganan genangan di RW 01, kami menganggarkan sekitar Rp 14 miliar,” kata Heryanto.

Di wilayah Cengkareng, sudah ada 12 unit pompa yang terpasang di lima lokasi rumah pompa, antara lain di Waduk Bojong Indah, Pedongkelan, dan kompleks KFT Cengkareng.

Guna memperlancar aliran air, saluran air sepanjang 2 kilometer dengan lebar 2 meter sedalam 3 meter juga akan dibuat. Sebuah kolam tampungan seluas 20 meter x 20 meter dibuat untuk menampung air dari saluran sebelum disedot dengan pompa dan dialirkan ke Kali Angke.

”Rumah-rumah di bantaran Kali Angke yang berdiri di atas saluran juga akan dibongkar. Kami sedang mendata apakah rumah-rumah itu memiliki izin atau tidak,” ujar Heryanto.

Ikan lele

Camat Cengkareng Junaedi mengatakan, untuk sementara ini warga memanfaatkan genangan air di sekitar tempat tinggalnya untuk budidaya ikan lele. Pemanfaatan itu sudah berjalan selama tiga tahun terakhir.

”Budi daya ikan itu sifatnya hanya sementara. Warga hanya melihat air yang menggenang itu bisa dimanfaatkan. Tahun ini sudah direncanakan untuk dipasang pompa air sehingga diharapkan genangan airnya bisa surut,” ujarnya.

Junaedi menambahkan, warga pun telah mengusulkan untuk dibuatkan rumah susun jika air di wilayahnya tak bisa surut. Usulan itu masih dalam pembahasan.

Sebagian besar warga menolak untuk direlokasi karena kebanyakan dari mereka sudah lama tinggal di RW 01. Mereka juga memiliki pekerjaan di sekitar tempat tinggalnya sehingga enggan untuk pindah.

”Ibaratnya ini kampung halaman kami. Jadi, meskipun kondisinya seperti ini, mau tidak mau kami menyesuaikan diri. Jika genangan air bisa disedot tahun ini, tahun depan kami tidak akan terlalu khawatir menghadapi banjir besar lima tahunan, ” kata Rudi. (fro)



Post Date : 30 Mei 2011