Dicap Udik Jika Tak Mampu Pilah Sampah

Sumber:kaltimpost.co.id - 9 November 2014
Kategori:Sampah Jakarta
HARI kedua mengikuti Special Invitation Program, Japanese Language Program for Indonesian University Students by Osaka Gas Foundation of International Cultural Exchange (UPOG) di Osaka, adalah orientasi dan perkenalan -- saya tiba di Osaka pada 2 September 2014. Pada hari itu kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berkeliling mempelajari fasilitas di dalam institusi.
 
Fasilitas yang ada antara lain kamar, kantin, perpustakaan, aula, ruang belajar mandiri, laundry, gym, ruang karaoke, dapur, dan sebagainya. Pada hari itu juga kami diajarkan cara memilah sampah. Osaka sangat ketat dalam memberlakukan peraturan pemilahan sampah. Sampah dibagi menjadi empat. Yakni, botol plastik, kaleng, sampah yang bisa dibakar dan sampah yang tidak bisa dibakar.
 
Mengapa sampah harus dipilah-pilah? Masyarakat sadar bahwa Jepang bukanlah negara yang kaya akan sumber daya alam, mereka harus memanfaatkan segala sumber sebaik mungkin. Sampah yang bisa didaur ulang seperti botol plastik dan kaleng wajib didaur ulang. Sedangkan sampah yang bisa dibakar seperti sampah rumah tangga, plastik, kertas dan kayu akan dibakar secara efektif.
 
Sampah yang tidak bisa dibakar seperti botol kaca akan ditangani dengan cara khusus. Proses pengolahan sampah adalah proses yang sangat memakan biaya. Namun dengan pemilahan sampah seperti ini, sampah bisa dikelompokkan dan ditangani dengan penanganan yang sesuai dengan materi sampah. Dengan demikian, pemerintah dapat menekan biaya pengolahan sampah seminimal mungkin.
 
Seperti awam diketahui, sulit menemukan sampah di jalanan Jepang. Anehnya, tempat sampah pun sangat jarang terlihat. Padahal enggak ada sampah berserakan, tapi kok tempat sampahnya enggak ada? Sampahnya pergi kemana? Pemerintah Osaka menjalankan kebijakan pengurangan jumlah tempat sampah umum. Sehingga selain di convenient store 24 jam, tempat sampah adalah barang yang sangat langka.
 
Lalu ke mana perginya sampah-sampah tersebut? Sampah dipilah dan dikumpulkan di tiap-tiap rumah tangga. Setelah terkumpul, sampah akan diambil oleh petugas sampah kota untuk dibawa ke pabrik daur ulang. Sehingga, jangan kaget ketika melihat sampah plastik seperti bungkus permen atau tisu di dalam tas orang Jepang. Bagaimana caranya orang Jepang bisa begitu patuh terhadap peraturan yang berkaitan dengan masalah yang kelihatannya sepele ini? Pendidikan.
 
Pada 1960-an, akibat pesatnya pertumbuhan industri, Jepang juga tidak lepas dari masalah polusi, khususnya limbah pabrik. Daerah-daerah di sekitar pabrik menerima dampak yang berat. Polusi dari pabrik yang membawa zat-zat kimia berbahaya yang tersebar ke sungai dan udara secara langsung memengaruhi masyarakat melalui konsumsi air dan ikan serta udara yang dihirup.
 
Menanggapi hal ini, muncul new life movement atau gerakan kehidupan baru di Jepang, di mana masyarakat menuntut hidup yang lebih bersih dan sehat, bebas dari polusi. Pemerintah aktif dalam kegiatan ini. Keterlibatan pemerintah dalam gerakan ini salah satunya adalah penyebarluasan pendidikan yang berkaitan dengan gaya hidup sehat. Salah satunya adalah pemilahan sampah.
 
Sebenarnya kebijakan pemilahan sampah di Osaka baru dimulai sekitar tujuh tahun lalu. Namun, masyarakat Jepang yang sadar akan pentingnya kualitas hidup yang baik sudah terbiasa dengan perubahan-perubahan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup. Sehingga kebijakan yang berkaitan dengan sampah pun dapat berjalan dengan baik.
 
Selain kesadaran dari masyarakat, pemerintah juga tegas dalam memberikan sanksi pada anggota masyarakat yang bandel. Jika petugas pengumpul sampah menemukan kantong sampah yang isinya tidak dipilah dengan benar, petugas tidak akan membawa kantong tersebut. Setelah itu, si pemilik kantong akan dihubungi oleh kantor yang menangani sampah dan diberi peringatan.
 
Hanya dengan diberi peringatan dan adanya kantong sampah yang tidak dibawa oleh petugas saja sudah cukup untuk menggerakkan pemilik kantong untuk mulai memilah sampah dengan benar. Khususnya untuk ibu rumah tangga, jika tidak ingin dicap udik karena masalah ini sudah menjadi common sense bagi masyarakat Jepang. Pabrik daur ulang sampah tidak hanya dipegang oleh pemerintah, tetapi juga oleh perusahaan swasta.
 
Saat pergi ke Kobe, kami melewati sebuah menara yang di bagian puncaknya dicat emas. Sambil menunjuk menara tersebut, seorang staf berkata, “Menurut kalian menara itu apa?” “Atraksi taman bermain?” jawab salah seorang dari kami. “Bukan, itu menara tempat pengolahan sampah,” kata staf tersebut diikuti dengan ekspresi tercengang mahasiswa program UPOG.
 
Hanya untuk mengolah sampah saja sampai dibuat semencolok itu? Di mata saya, menara tersebut menggambarkan dedikasi masyarakat Osaka terhadap proses pengolahan sampah yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan mereka sehari-hari.


Post Date : 10 November 2014