4 Orang Meninggal akibat Diare

Sumber:Kompas - 29 Maret 2007
Kategori:Sanitasi
Medan, Kompas - Dinas Kesehatan Sumatera Utara menyatakan wabah diare yang menyerang sedikitnya enam desa di Kecamatan Tebing Syahbandar dan Kecamatan Bandar Kalipah, Serdang Bedagai, sebagai kejadian luar biasa. Akibat wabah tersebut, dalam sepekan terakhir ini empat orang dilaporkan meninggal dan 160 orang dirawat jalan.

Hingga Rabu (28/3) penyebab terjadinya wabah diare itu masih diteliti. "Kami sudah menerjunkan anggota staf untuk memeriksa penyebab kejadian tersebut," kata Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara Fatni Sulani di Medan.

Desa-desa yang terkena wabah diare terletak sekitar 20 kilometer dari ibu kota Kabupaten Serdang Bedagai, Sei Rampah. "Karena lebih dekat dengan Kota Tebing Tinggi, banyak pasien yang dirawat di sana. Pusat wabah diperkirakan di Desa Penggalangan, Kecamatan Tebing Syahbandar," kata Rahmad Karo Karo, dari Humas Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai.

Beberapa warga mengaku terkena diare setelah minum es di suatu pesta.

Pada Maret ini berarti ada dua kejadian luar biasa (KLB) diare di Sumatera Utara. Awal Maret lalu kasus serupa menimpa tiga kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, yakni Kecamatan Sorkam, Sorkam Barat, dan Kolang. Saat itu sedikitnya 96 orang dirawat di puskesmas dan tiga orang di antaranya meninggal dunia.

Pada umumnya warga meninggal akibat kekurangan cairan dan lambatnya penanganan. Sebab, jarak rumah penduduk dengan puskesmas cukup jauh, di samping alat transportasi sulit didapat dan jalan rusak.

Kemarin dari Pulau Nias dilaporkan, wabah diare juga menimpa warga setempat. Selain itu, di beberapa daerah pedalamannya tercatat sejumlah kasus malaria.

Menurut Kepala Desa Lauri (Kabupaten Gido) Idaman Jaya Zendrato, kasus diare dan malaria biasanya meningkat pada musim hujan. "Hampir setiap sebulan sekali ada laporan warga kami meninggal akibat diare dan malaria. Tahun lalu diare menewaskan empat anak balita di desa kami, sementara dua warga meninggal akibat malaria," katanya.

Jalan kaki

Selain buruknya sanitasi, warga Desa Lauri dan sekitarnya juga mengeluhkan jauhnya letak puskesmas. Jika ada warga yang menderita diare atau malaria, kata Zendrato, mereka harus jalan kaki hingga setengah hari untuk mencapai puskesmas. "Beruntung kalau di tengah jalan mereka bisa naik RBT (sejenis angkutan lokal), puskesmas bisa ditempuh lebih cepat," ujarnya.

Menurut warga yang juga kader kesehatan, Oti Mawarni Hura, malaria menjadi pembunuh nomor dua bagi warga yang tinggal di pedalaman Nias, seperti di Dusun Tanonikoo, tempat dia tinggal. Mereka yang terkena malaria hanya diobati secara tradisional. (bil/wsi)



Post Date : 29 Maret 2007