Arsenum, Teknologi Pengubah Air Banjir Jadi Air Minum

Sumber:cnnindonesia.com - 15 Desember 2014
Kategori:Air Minum



Badan Penerapan Pengkajian Teknologi (BPPT) memperkenalkan alat yang bisa mengubah air banjir menjadi air minum.


Menurut Imam Setiyadi, salah satu perekayasa, alat yang bernama Ultrafiltrasi dan Arsenum ini dapat melakukan penyaringan mikrobakteri yang terdapat pada air kotor sehingga air yang dihasilkan bersih dan aman untuk dikonsumsi.

Alat ini memiliki dua tahap pekerjaan. Pertama, air yang tidak layak minum seperti air hujan, air laut bahkan air banjir ditampung dalam sebuah tabung besar. Dalam tabung ini terjadi proses yang bernama ultrafiltrasi.

Dalam proses ini, air disaring dengan sebuah alat yang berbentuk seperti sarang tawon dengan lubang membran berukuran 1/100 dari diameter sehelai rambut. Lubang membran ini menjaring bakteri-bakteri yang terdapat pada air kotor.

"Bukan hanya mikroorganisme kecil yang tersaring. Alat ini juga bisa menghilangkan warna air keruh dan baunya," ujar Imam dalam sela-sela acara Seminar Nasional Inovasi Teknologi Lingkungan di Gedung BPPT, Jakarta.

Setelah air kotor menjadi air yang kadar bakunya cukup baik, maka proses pemurnian air ini masuk pada tahap berikutnya dengan menggunakan alat bernama Arsenum (Air Siap Minum).

Sama seperti Ultrafiltrasi. Arsenum juga menggunakan sebuah filter berbentuk tabung yang memiliki lubang membran hingga 1/1000mikron atau 1.000 kali lebih kecil dari ukuran diameter rambut.

Imam menerangkan, dalam prosesnya, air yang dihasilkan pasa proses penyaringan pertama masuk dalam sebuah filter.

Di sini, dengan teknologi molekuler, alat ini dapat menyaring kandungan garam, logam, bakteri dan pecahan bakteri yang lebih kecil. Proses penyaringan ini juga tidak memakan waktu yang lama. Proses ini terjadi secara instan ketika air kotor dimasukan ke dalam alat.

"Dari pengolahan molekular ini, padatan seperti garam dan logam dihilangkan. Setelah padatan berkurang, maka air ini layak untuk diminum meskipun memiliki kandungan mineral di bawah air biasa" kata Imam, Senin (15/12).

Dalam pembuatan alat ini, modal yang perlu dikeluarkan untuk pembuatan satu unit alat ini tergolong cukup tinggi yaitu sebesar Rp 125 juta hingga Rp 160 juta. Namun hal ini akan menjadi investasi jangka panjang dan sangat bermanfaat untuk digunakan di daerah terpencil.

Sejauh ini, penerapan teknologi dengan daya guna yang tinggi ini baru diaplikasikan pada beberapa daerah kepulauan yang kesulitan mendapat air bersih.

Rencananya, alat ini akan terus dikembangkan untuk dapat digunakan di masyarakat luas, mengingat pemerintah Indonesia memiliki program nasional Gerakan Nasional Indonesia Bersih (GNIB) sejak tahun 2011 dan Gerakan Penghematan Air melalui instruksi Presiden No. 13 Tahun 2011.


Post Date : 16 Desember 2014