Sodetan Solusi Sesaat

Sumber:suaramerdeka.com - 24 Januari 2014
Kategori:Drainase

Pembuatan sodetan Sungai Ciliwung ke Cisadani untuk mengatasi banjir di Ibu Kota dinilai hanya solusi sementara. Kebijakan tersebut harus dibarengi dengan langkah jangka panjang lainnya.

”Sodetan memang bisa menyelesaikan, namun hanya sementara,” kata peneliti senior Pusat Penelitian Geotoknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jan Sopaheluwakan dalam konferensi pers di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (23/1).

Ke depan, kata dia, harus dibarengi dengan penataan ruang yang cerdas, di antaranya dengan mengembalikan ruang hijau di daerah selatan Jakarta dan ruang biru untuk wilayah resapan di utara Jakarta. Peneliti LIPI lainya, Edi prasetyo Utomo mengatakan, untuk mengatasi banjir Jakarta memang ada dua cara, yakni jangka pendek dan jangka panjang.

Pada jangka pendek bisa dilakukan normalisasi sungai dan waduk supaya berfungsi dengan benar. Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan pembangunan Waduk Ciawi dan Waduk Sukamahi di Bogor Jawa Barat belum mampu mengatasi banjir di Jakarta. Pemanfaatan kedua waduk itu lebih banyak bertujuan untuk menyediakan air baku dan bersih serta irigasi.

”Waduk-waduk itu hanya sekitar 8% mampu mengatasi banjir di Jakarta. Namun, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU akan mencari cara agar fungsi mengatasi banjir bisa lebih besar dengan menggunakan teknik yang ada,” jelas Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto

. Menurutnya, pemerintah tetap membangun kedua waduk ini karena ada keuntungan-keuntungan lain yang bisa dimanfaatkan, seperti penyediaan air minum bagi masyarakat sekitar waduk maupun Jakarta.

Dua Sungai

Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU Mohammad Hasan menambahkan, pemerintah awalnya akan membangun satu waduk di Ciawi.

Namun, karena kondisi lahannya tidak memungkinkan, waduk dipecah menjadi dua, yaitu Waduk Ciawi yang berkapasitas 11 juta meter kubik dan Waduk Sukamahi berkapasitas 4 juta meter kubik. Biaya konstruksi fisik kedua waduk ini diperkirakan sebesar Rp 1,8 triliun. Rencana tersebut ditentang oleh bupati dan wali kota Tangerang.

Sebab, dinilai hanya akan memindahkan banjir dari Jakarta ke Tangerang. Sebelum membangun sodetan itu, Kementerian Pekerjaan Umum akan menormalisasi Sungai Cisadane, termasuk tiga anak sungainya. Anggarannya sekitar Rp 197 miliar.

Menurutnya, sejumlah program dikerjakan untuk menanggulangi banjir tersebut, di antaranya pembangunan kanal banjir timur dan kanal banjir barat, normalisasi sejumlah sungai, dan pembuatan sodetan dari Sungai Ciliwung ke kanal banjir timur. Selain itu, pembuatan dan rehabilitasi sejumlah waduk, embung dan situ. Beberapa program sudah diselesaikan dan sebagian diselesaikan hingga 2016.

Untuk penanganan banjir di wilayah Bekasi, pihaknya sudah memasang turap di Sungai Bekasi. Ke depan, turap tersebut akan diperkuat. Menurut Hasan, upaya tersebut cenderung berhasil mengatasi banjir dibanding tahun lalu, meski masih ada kawasan yang tergenang banjir di sekitar wilayah Pesanggrahan.

Terpisah, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung- Cisadane (BBWS Cilicis), T Iskandar mengungkapkan, pembebasan lahan menjadi kendala dalam normalisasi Sungai Ciliwung yang akan dilebarkan dari 10-20 meter menjadi 50 meter. Pihaknya telah mengidentifikasi potensi daerah yang bisa dinormalisasi tidak memerlukan pembebasan lahan.

 



Post Date : 24 Januari 2014