Krisis Air Minum Layak Konsumsi di Ciptomulyo

Sumber:malang-post.com - 6 Januari 2014
Kategori:Air Limbah
Meski pengeboran sumber air baru dianggap sebagai langkah solutif untuk mengatasi krisis air bersih di kawasan Ciptomulyo, pakar lingkungan dari ITN Malang, Sudiro ST MT, menilai upaya tersebut bukan satu-satunya cara efektif untuk memperbaiki kualitas air minum wilayah setempat.

Menurutnya, pengeboran sumber baru di area Kantor Kelurahan Ciptomulyo agarkemudian bisa mendapat pasokan HIPPAM hanya akan menambah kuantitas air tanah. Belum tentu kualitas air tersebut tetap terjamin. “Kalau untuk penambahan kuantitas, mungkin perlu pengeboran sumber baru. Kalau kualitasnya ya harus dites lagi. Tidak menutup kemungkinan kena infiltrasi,” paparnya kepada Malang Post, kemarin.

Pasalnya, tidak semua air minum yang terlihat jernih sudah memenuhi syarat konsumsi. Apalagi, selama ini ada temuan bahwa banyak warga setempat yang mengeluhkan penyakit dalam dan ditengarai akibat konsumsi air minum tidak sehat. “Karenanya harus dites secara kimiawi. Jangan hanya terlihat jernih saja,” imbuhnya.

Sudiro berharap tim medis turun tangan setelah menemukan fakta kesehatan masyarakat setempat sering terganggu. Dari laporan Lurah Ciptomulyo, Wahyudi Sudiono, ratusan warga berobat ke Puskesmas dengan keluhan nyaris sama. Penyakit dalam itulah yang diyakini menggerogoti usia hidup mereka.

Disinyalir air minum warga yang diambil dari sumur telah terkontaminasi dengan cairan limbah. Seperti diketahui, di wilayah Ciptomulyo terdapat dua pabrik kulit dan satu pabrik karet yang pembuangan limbahnya sangat berbahaya jika sampai terkonsumsi manusia. Cairan mematikan itu bisa mencemari air sumur warga yang kedalaman pengambilannya hanya 5-10 meter.

Namun, menurut Sudiro, bukan berarti kesehatan masyarakat setempat terpengaruh air minum yang mereka konsumsi. Bukan berarti juga air sumur mereka sudah terkontaminasi cairan limbah pabrik. “Mungkin kualitas airnya terpengaruh bakteri e-coly. Tidak selalu karena limbah. Harus diperhatikan dulu jarak pabrik dan saluran pembuangan limbahnya dengan pemukiman warga,” urainya.

Akademisi itu berharap persoalan ini tak langsung memancing justifikasi dari pihak-pihak tertentu. Karena tidak menutup kemungkinan juga, kesehatan warga menurun karena pola hidup yang tidak sehat. “Harus diteliti langsung. Bisa juga pola hidup masyarakat setempat tidak sehat. Ambil contoh saja jika jarak sumur dengan MCK hanya 2 meter, itu sama juga membahayakan,” timpalnya kepada Malang Post. 

Rencananya, Kelurahan Ciptomulyo bakal melakukan pengeboran sumber baru, bersinergi dengan HIPPAM. Dengan pengeboran sedalam kurang lebih 100 meter, diyakini sumber tersebut bisa menghasilkan 5-10 liter air per detik. Jumlah tersebut diyakini cukup untuk memasok kebutuhan air minum untuk sekitar 2000 kepala keluarga (KK) di wilayah setempat.


Post Date : 07 Januari 2014