ADB Minta Penyelamatan Segara Anakan Dilanjutkan

Sumber:Media Indonesia - 15 Desember 2004
Kategori:Drainase
CILACAP (Media): Bank Pembangunan Asia (ADB) meminta agar proyek penyelamatan Segara Anakan di Cilacap, Jawa Tengah (Jateng), tetap dilanjutkan meski bantuan dari bank tersebut berakhir pada 31 Maret 2005.

Pernyataan itu disampaikan salah seorang utusan ADB William H Kenninger dalam misi kaji ulang bantuan ADB di Hotel Wijaya Kusuma Cilacap, kemarin. Menurutnya, perlu dilanjutkannya proyek pelestarian Segara Anakan karena keberadaannya bukan hanya penting bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap tetapi juga untuk daerah lain.

''Meski program dari ADB akan berakhir, jangan sampai upaya pelestariannya juga berhenti. Pelestarian tetap harus berlanjut. Terserah dananya diambil dari mana,'' ujar William dalam forum tersebut.

Forum itu melibatkan stakeholders Segara Anakan yang terdiri dari dinas terkait Pemkab Cilacap dan Pemkab Ciamis (Jawa Barat), serta berbagai elemen masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Kepala Badan Konservasi Segara Anakan (BKSA) Djumadi mengungkapkan sejumlah masalah dalam program penyelamatan Segara Anakan. Selain soal sedimentasi, di kawasan tersebut juga terjadi penebangan liar hutan mangrove, dan adanya jaring apung yang ditebarkan nelayan Kampung Laut.

''Di satu sisi nelayan sudah cocok menggunakan jaring apung untuk mencari ikan, tetapi di sisi lain keberadaan jaring apung memengaruhi ekosistem mangrove. Sebab ikan dan udang yang masuk ke mangrove dan akan melakukan pemijahan justru terperangkap jaring apung,'' ujarnya.

Ditanya soal imbauan ADB agar program penyelamatan Segara Anakan dilanjutkan, Djumadi menyatakan belum dapat menentukan asal dananya.

''Tidak mungkin hal itu menjadi tanggung jawab Pemkab Cilacap sendiri karena dananya tidak sedikit. Bupati juga telah melayangkan surat kepada Gubernur Jateng meminta saran mengenai tindak lanjut penyelamatan Segara Anakan,'' ujarnya.

Sementara itu, Bupati Cilacap Probo Yulastoro telah meminta pemerintah pusat untuk membuka kembali rencana proyek sodetan Sungai Citanduy. Permintaan tersebut diajukan melalui surat kepada Sekretariat Negara dengan tembusan kepada Presiden.

Dalam suratnya tersebut, Probo menjelaskan, penundaan proyek sodetan Sungai Citanduy bukan hanya berpengaruh terhadap keberadaan Segara Anakan, tetapi juga akan membuat sekitar 22.000 hektare (ha) lahan persawahan menjadi rawa-rawa.

''Lahan seluas 22.000 ha tersebut tersebar di beberapa kecamatan yaitu Kawunganten, Bantarsari, Sidareja, Kedungreja, Patimuan, Cipari, dan Kecamatan Gandrungmangu, yang dihuni sekitar 501.000 jiwa. Sebab sistem drainase kawasan itu tergantung kondisi laguna Segara Anakan,'' ujar Bupati dalam suratnya.

Menurut Bupati, dari tujuh sungai yang bermuara ke Segara Anakan, di antaranya, Citanduy, Cimeneng, Cilkonde, dan Cihaur, kondisinya sangat kritis. Tingkat sedimentasi sungai-sungai tersebut sangat tinggi, sehingga pada musim penghujan banjir tidak dapat dihindari.

Pada awal musim hujan tahun ini, katanya, kawasan tersebut telah dilanda banjir, di antaranya Kecamatan Sidareja dan Gandrungmangu.

Sebaliknya, pada musim kemarau wilayah tersebut kekurangan air untuk keperluan rumah tangga, irigasi, maupun lalu lintas sungai. Sebab, daerah tangkapan air di bagian hulu sungai mengalami kerusakan akibat penggundulan hutan.

Bupati juga mengungkapkan, selain terjadi pendangkalan di laguna Segara Anakan, pendangkalan serius juga terjadi di daerah Plawangan sehingga menyebabkan nelayan sulit melaut dan menghambat sistem drainase di wilayah sekitar Segara Anakan.(LD/N-2)

Post Date : 15 Desember 2004