Air Bersih kian Defisit, Tingkatkan Ketersediaan lewat Layanan Publik

Sumber:Media Indonesia - 19 Maret 2008
Kategori:Air Minum

SEORANG ibu muda tengah memandikan anak balita laki-lakinya. Cokelatnya air bercampur sampah tak menjadi soal. Gayung demi gayung disiramkan ibu tersebut ke tubuh si bocah. Tak jauh dari situ, seorang perempuan belasan tahun mencuci baju.

Busa-busa sabun berhamburan, menyatu dengan aneka kotoran yang mengapung. Busa sabun bercampur sampah itu bergerak mengikuti aliran air kali, melintasi sekelompok ibu sedang menyuci beras, pakaian, dan piring.

Itulah pemandangan sehari-hari di pinggiran kali yang melintasi Bukit Duri, Jakarta Selatan. Kegiatan itu sudah berlangsung puluhan tahun. Dan umumnya terjadi di hampir sepanjang sungai atau kali yang melintasi permukiman penduduk di pinggir sungai.

Bergeser ke Tangerang, tepatnya di Desa Laksana, Kelurahan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, wabah diare sudah menjadi langganan warganya dari tahun ke tahun. Hal itu tidak lepas dari buruknya sanitasi di daerah yang letaknya hanya 50 km dari Kota Tangerang itu.

Pada September tahun lalu, daerah yang airnya asin itu dinyatakan mengalami kejadian luar biasa (KLB) diare. Puluhan balita pun menjadi korban.

Pengalaman penduduk di Desa Oenino, Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), lain lagi. Sulitnya akses mendapatkan air bersih membuat masyarakat di sana terpaksa mengonsumsi air sadapan pohon lontar (sofi) dan air kelapa untuk keperluan minum. Padahal sofi dalam waktu sekitar tiga bulan mampu menghasilkan kandungan alkohol hingga 35%. Akibatnya warga yang mengonsumsi air sofi terus-menerus sering mengalami gejala mabuk alkohol.

Defisit air bersih

Kesulitan memperoleh air bersih sebetulnya semakin banyak dialami penduduk, baik di Indonesia maupun beberapa negara lain di dunia. Saat ini, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1,2 miliar penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap air bersih. Dan hampir dua kali lipat dari jumlah itu tidak memiliki fasilitas sanitasi dasar yang memadai.

Hal itu mengakibatkan munculnya berbagai persoalan, khususnya di bidang kesehatan. WHO memperkirakan kelangkaan air dan buruknya sanitasi menjadi penyebab utama meninggalnya lebih dari 10 juta anak setiap tahunnya.

Karena itulah, pada peringatan Hari Air Sedunia (World Water Day/WWD) 2008, WHO mengambil tema Sanitation matters. WWD diperingati pada 22 Maret tiap tahunnya. Pemilihan tema tersebut memang sangat relevan dengan kondisi saat ini. Banyak penduduk dunia masih menghadapi berbagai persoalan terkait dengan kelangkaan air bersih.

Indonesia, meski tergolong sebagai negara dengan curah hujan tinggi, juga tidak lepas dari problem kelangkaan air dan buruknya sanitasi. Mengapa demikian?

Peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Ari Herlambang mengungkapkan sebenarnya Indonesia tergolong negara yang kaya sumber daya air.

''Menurut data Water Resources Institute, Washington (1991), Indonesia memiliki sumber daya air sebesar 2.530 meter kubik air per tahun, berada dalam urutan kelima setelah Brasil, Rusia, China, dan Kanada dalam daftar negara-negara terkaya akan sumber daya air,'' ujar Arie kepada Media Indonesia Jumat (14/3).

Namun, pertambahan jumlah penduduk yang tinggi serta tidak meratanya persebaran sumber daya air yang ada membuat beberapa daerah di Indonesia tidak lepas dari kelangkaan air.

Lebih lanjut, Arie mengutip data dari Kantor Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang mengatakan sejak 1995 Jawa dan Bali sudah mengalami defisit air. Begitu juga dengan Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur mengalami defisit air sejak 2000.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Chalid Muhammad menyoroti kerusakan sejumlah daerah aliran sungai (DAS) sebagai salah satu kontributor masalah air di Indoensia.

Di kota-kota besar seperti DKI Jakarta, persoalan air menjadi kian rumit. Bertambahnya jumlah penduduk otomatis menyebabkan kebutuhan air bersih meningkat. Di sisi lain, pasokan air berkualitas makin menipis.

Peneliti BPPT lainnya, Nusa Idaman Said, mengungkapkan idealnya pengelolaan air di kota metropolitan seperti Jakarta dilakukan pemerintah melalui penyediaan layanan publik. Dalam hal ini, Jakarta sebenarnya memiliki perusahaan daerah air minum (PDAM), yakni PAM Jaya. Sayangnya, hingga saat ini tingkat pelayanannya belum optimal.

''Cakupan pelayanan PAM Jaya dari tahun ke tahun tidak banyak berubah. Terakhir baru 65%, akibatnya sebagian besar penduduk tidak bisa menikmati layanan PDAM. Tingkat kebocoran yang mencapai 53% menyebabkan inefisiensi yang berimbas pada mahalnya harga air PDAM,'' jelas Nusa.

Berdasarkan kajian yang dilakukannya pada 2003, menurut Nusa, DKI Jakarta dengan jumlah penduduk 10.421.948 jiwa diperkirakan membutuhkan air 250 liter/orang/hari. Jadi, diperkirakan kebutuhan air bersih di kota metropolitan sekitar 30.156 liter/detik.

Sementara itu, total kapasitas produksi PDAM hanya 15,4 m3/detik. Dengan volume air terjual sebesar 8.102 liter/detik, persentase pelayanan riil baru 26,87%.

Sisa kebutuhan air penduduk Jakarta yang tidak terpenuhi oleh PDAM (73,13%) itu dipenuhi dengan mengambil air tanah melalui sumur-sumur pompa. Jadi, pengambilan air tanah di Jakarta mencapai volume 22.054 liter/detik.

Penelitian yang pernah dilakukan menyebut potensi air tanah Jakarta adalah 28.196 liter/detik. Artinya lebih dari 50% potensi air tanah diambil penduduk Jakarta.

''Padahal, pengambilan air tanah lebih besar dari 50% rawan dengan kerusakan lingkungan, antara lain intrusi (meresapnya) air laut dan pencemaran air tanah oleh air tinja dari septic tank yang membahayakan kesehatan, '' tambah Nusa. (*/Nik/S-2)



Post Date : 19 Maret 2008