Air Bersih Masih Problem Serius di Barak Pengungsi

Sumber:Kompas - 27 Februari 2005
Kategori:Aceh
Banda Aceh, Kompas - Penyediaan air bersih masih menjadi problem serius di sejumlah barak pengungsi, yang juga disebut hunian sementara, di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Di sejumlah barak yang bangunannya sudah jadi belum tersedia air bersih. Padahal, barak itu sudah ditempati pengungsi. Sementara di beberapa barak yang sedang dibangun, pengadaan air bersih juga belum dapat dipastikan.

Pada Sabtu (26/2) pagi, sejumlah pekerja masih terus mengusahakan air bersih dengan menggunakan sumur bor di barak pengungsi di Desa Lampineung, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Menurut Jufri, salah satu pekerja, ia belum dapat memastikan kapan air bersih bisa tersedia. "Sampai sekarang (Sabtu-Red) kami sudah menggali sedalam 112 meter, tetapi belum ada air. Biasanya di sini ada air setelah sampai 180 meter. Jadi, saya juga belum tahu kapan air mengalir. Semoga saja di bawah tidak kena batu," katanya.

Slamet, pelaksana lapangan barak pengungsi Desa Lampineung, menambahkan, ia sangat berharap air bersih segera tersedia karena hal itu merupakan kebutuhan mendasar warga penghuni barak. Seluruh kebutuhan terkait air bersih di barak, menurut dia, ditangani oleh Departemen Pekerjaan Umum.

Terdekat 1 km

Masalah air bersih juga dialami penghuni barak di Desa Nusa, Kecamatan Lhok Nga, Aceh Besar. Nyonya Aisyah Ali, salah seorang penghuni, menuturkan, ia sudah tinggal di barak selama beberapa hari, namun tidak ada sarana air bersih di situ. Akibatnya, perempuan berumur 60-an yang tinggal di barak bersama keluarganya itu harus mengambil air dari masjid terdekat yang berjarak satu kilometer dari barak.

"Untungnya saya tinggal bersama anak-anak saya. Jadi, mereka bisa dimintai tolong mengambil air. Tetapi akan lebih baik jika air itu ada di sini. Jadi, setiap kali kami mau buang air, sudah tidak mikir-mikir lagi," kata Nyonya Aisyah.

Di belakang barak, dari pengamatan Kompas, sudah ada tandon air yang terpasang. Namun, air belum tersedia. Begitu pun keran untuk mengucurkan air. Bilik-bilik mandi-cuci-kakus (MCK) pun setali tiga uang, tidak ada airnya.

Zainun Saad, pengungsi Desa Nusa, mengungkapkan, karena belum ada air, ia menunda kepindahan ke barak meski ia sudah didatangi tentara yang meminta keluarganya agar segera masuk ke barak. "Tetapi mau bagaimana lagi? Air tak ada. Kalau tak ada air, apa kami ini enggak susah? Cobalah pikir, Pak," katanya.

Tidak adanya air bersih untuk barak yang sudah ditempati juga pernah terjadi di barak pengungsi di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh. Karena air tidak ada, sementara warga membutuhkan, banyak penghuni barak yang asal buang air di bilik MCK. Tak pelak, MCK setempat kotor bukan main. Masalah baru teratasi setelah ada air bersih permanen tersedia di situ.

Peneliti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Radja P Siregar, menyatakan, pascatsunami mutu air sumur penduduk di NAD cenderung menurun, mengingat ada kandungan amonia dan sulfur yang tinggi di beberapa tempat. Namun, mutu air di arteri (kedalaman 100 meter-200 meter) masih bagus.

Dengan kondisi itu, ia berharap agar pemerintah berhati-hati dalam menyediakan air bersih bagi warga. (ADP)

Post Date : 27 Februari 2005