Air Bersih Modal Pasir

Sumber:Koran Tempo - 06 Mei 2009
Kategori:Air Minum

DENPASAR -- Buruknya kualitas air merupakan persoalan klasik di permukiman yang mulai berkembang. Hal tersebut juga dialami warga yang bermukim di Perumahan Segina Asri Gang VI di Jalan Kertapura, Banjar Pekandelan, Denpasar, Bali. Kualitas air di kawasan itu kurang baik. Warga kesulitan mendapatkan air bersih.

Memang, pasokan air bersih dari perusahaan daerah air minum sudah masuk kawasan tersebut. Tapi hanya segelintir warga yang bisa menikmatinya. Itu pun kucuran airnya kecil dan tersendat. Sejumlah warga di permukiman padat itu terpaksa membeli air dalam kemasan galon untuk keperluan sehari-hari.

Namun, masa-masa itu sudah berlalu. Sejak Juni-Juli tahun lalu, warga tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih. Beberapa alat penyaring air ditempatkan di rumah-rumah warga. Wujudnya berupa bak penampungan semacam tangki dari beton, tingginya satu meter dan berdiameter 30 sentimeter, dengan kapasitas sekitar 20 liter. Meski sederhana dan cuma berisi pasir, alat bernama Biosand Filter (BSF) ini bermakna luar biasa.

Andi Maryono, salah satu warga setempat, yang telah mengikuti pelatihan pengoperasian alat itu, menuturkan, BSF merupakan produk hasil kerja sama Centre for Affordable Water and Sanitation Technology, organisasi dari Kanada, dengan organisasi lokal, Bali Fokus. Ada 17 unit tangki yang dibuat di sana sebagai proyek percontohan. Beberapa unit lainnya terpencar di Banjar Sayan Delodari, Mengwi, dan Banjar Lebih Beten, Gianyar.

Andi tinggal di Gang VI di Segina. Di sepanjang gang ini bermukim lebih dari 190 keluarga. Mereka, yang rata-rata merupakan penduduk pendatang, sebagian besar tinggal di rumah petak. "Kualitas air tanah di daerah ini sudah rendah. Kandungan besinya tinggi. Air rentan terkontaminasi bakteri dan bahan berbahaya lainnya," katanya.

Kondisi air tanah itu memaksa warga yang memilih tinggal menampung air hujan atau terpaksa membuat sumur bor. Tapi sumur bor pun belum pasti menyelesaikan masalah. I Gusti Ketut Merta contohnya. Tetangga Andi di Gang VI ini mengungkapkan, air sumur bornya, yang menembus kedalaman sampai 45 meter, kuning keruh, berbau tak sedap, dan terasa seperti mengandung karat.

Karena terpaksa, air kadang dipakai untuk mencuci beras. "Nasi yang kami tanak sampai berwarna kehitaman," ujar Merta.

Fakta itu memaksa Merta membeli air minum untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia menghabiskan 4-5 galon air minum isi ulang tanpa merek seharga Rp 3.500 per galon dalam seminggu.

Situasi membaik ketika pada pertengahan 2008 Bali Fokus memperkenalkan BSF kepada Andi, Merta, dan warga lainnya. Lembaga swadaya masyarakat ini sebelumnya dianggap sukses menginstalasi pengolah limbah cair di lingkungan perumahan. Hasilnya, sudah hampir setahun ini Andi dan Merta merasa lega karena bisa mengirit biaya mendapatkan air bersih yang layak dalam rumah tangga masing-masing.

Subilan, warga lainnya, mengungkapkan, air olahan BSF baru bisa dimanfaatkannya sebatas untuk memasak. Meski kualitas hasil saringan BSF tampak jernih dan berbagai referensi menyatakan air tersebut layak diminum, dia masih membeli air dalam kemasan. "Saya belum terbiasa saja minum dari air hasil saringan BSF," katanya.

Andi juga mengakui agak sulit melepaskan kebiasaan membeli air galon. "Padahal," pendatang dari Lumajang, Jawa Timur, itu melanjutkan, "air isi ulang juga belum tentu layak minum dan sehigienis air dari BSF."

Manajer Program Bali Fokus I Dewa Gede Alit Setiarsa memaparkan, proyek BSF merupakan teknologi tepat guna pengolah air. Proyek itu merupakan kelanjutan dari program sanitasi masyarakat. "Proses yang berlangsung pada BSF merupakan gabungan proses mekanis dan biologis," ujarnya.

Mekanis karena ada aliran pasir lambat. Sedangkan proses biologisnya karena ada pembentukan Biolayer, yang terbentuk setelah 21 hari.

Indikator bahwa BSF telah menjalankan fungsinya dengan baik sebagai penyaring air diketahui dari kecepatan airnya. Apabila aliran mencapai 0,6 sampai 0,8 liter per menit, berarti lapisan pasir berfungsi menyaring dengan baik. "Kalau terlalu lancar, justru proses mekanisnya tidak berjalan," dia menjelaskan.

Meski begitu, Dewa Alit mengakui desain BSF masih kurang menarik. Alat tersebut tergolong berat sehingga sulit digeser atau dipindahkan. Pangkal kedua kelemahan itu, menurut Alit, sangat sederhana, yakni keterbatasan dana. Alasan itu pulalah yang membuat pihaknya sulit mengembangkan penggunaan BSF di kawasan lain. "Jika ada permintaan dulu, baru kami bisa menyiapkan BSF. Harganya sekitar Rp 250 ribu per unit," katanya. NI LUH ARIE SL



Post Date : 06 Mei 2009