Banjir di Jakarta, the waiting game

Sumber:Bisnis Indonesia - 14 Januari 2009
Kategori:Banjir di Jakarta

Sejak masuk Januari ini, awan gelap mulai sering terlihat menghiasi langit Jakarta dan daerah sekitarnya. Awan gelap ini diperkirakan kian sering terlihat dan akhir Januari hingga awal Februari 2009 bersamaan dengan datangnya hujan lebat.

Sampai pekan ini, seperti dikutip dari keterangan Badan Meteorologi dan Geofisika, awan gelap berpotensi hujan lebat itu masih menggelayut di kawasan laut Jawa sampai Kalimantan Selatan, dan secara berlahan terus bergerak mengikuti arah matahari masuk ke Pulau Jawa.

Ini menjelaskan kenapa dari Desember hingga awal Januari ini, bencana banjir terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sulawesi, yang kemudian diikuti bencana serupa di daerah Bali dan Nusa Tenggara.

Jakarta, tentu saja, harus mewaspadai fenomena alam tersebut, terutama jika pola hujannya sangat lebat dan merata dari pantai hingga Puncak, Bogor, karena berpotensi terjadi banjir, seperti yang terjadi selama periode 1996-2008.

Demikian halnya hujan lebat yang bersifat lokal, akan menjadi genangan yang merepotkan jika jaringan saluran air menuju sungai tersendat. Apalagi hujan lokal sering berlangsung lama dengan curah yang yang cukup tinggi.

Potensi terhambatnya aliran air hujan menuju saluran dan sungai terbukti cukup besar akibat sampah yang menyumbat atau kondisi fisik salurannya yang buruk. Sementara itu, kemampuan daya serap tanah semakin rendah akibatnya banyak permukaan yang tertutup beton dan aspal.

Mengutip data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah DKI, aktivitas pembangunan itu sudah menyebabkan hanya sekitar 26,6% dari total 2 miliar m3 per tahun air hujan di Ibu Kota yang dapat terserap oleh tanah.

Adapun sisanya yang 73,4% menjadi air larian (run off) yang mengalir ke sistem drainase kota untuk selanjutnya dibuang ke laut melalui 13 sungai yang ada. Namun, apa jadinya kalau saluran air dan sungai itu tersumbat sampah?

Tidak ada alasan bagi pemprov untuk abai pada peringatan dini yang sudah dikeluarkan BMG pekan lalu, bahwa potensi banjir di Ibu Kota berpeluang terjadi awal tahun ini, mengulang kejadian Januari dan Februari dalam kurun waktu 1996-2008 akibat curah hujan yang sangat tinggi.

Penyebab utama

Belajar dari peristiwa banjir yang terjadi di Jakarta, terlihat apabila penyebab utamanya bisa murni karena curah hujan yang tinggi, dan kiriman dari daerah hulu sungai di Puncak Bogor atau kombinasi antara keduanya.

Seperti peristiwa banjir besar pada 1996 dan 2002 yang terpantau oleh BMG curah hujannya pada 10 Februari 1996 dan 29 Januari 2002 tidak terlalu tinggi, tetapi polanya cukup merata hingga di Puncak, Bogor. Banjir dari hulu sungai besar kontribusinya. (lihat ilustrasi)

Menurut Ketua Komisi D DPRD DKI Sayogo Hendrosoebroto (F-PDIP), pemerintah harus lebih aktif menggerakkan warga guna mengantisipasi kemungkinan datangnya banjir ataupun genangan air hujan yang berpotensi terjadi di kawasan tertentu.

"Selain itu mendorong instansi terkait yaitu Dinas Pekerjaan Umum dari sisi teknisnya dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana pada aspek sosialnya agar segera melakukan upaya antisipasi risiko paling buruk jika terjadi banjir," katanya.

Mumpung masih ada waktu, antisipasi terhadap bahaya banjir harus secepatnya dilakukan. Secara teknis, hal itu diwujudkan dengan menyiapkan pompa air dan mengusahakan jaringan saluran air terbebas dari segala gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran air.

Di sisi sosial, harus disusun skenario sampai yang paling buruk dengan menyiapkan bantuan mulai dari proses evakuasi dan penyelamatan korban, sampai pada menggalang kebersamaan dengan warga setempat untuk mengamankan harta kekayaan milik korban.

Segala upaya itu dibutuhkan, terutama karena sejauh ini kesiapan Jakarta dalam menanggulangi banjir juga belum maksimal, mulai dari proyek Banjir Kanal Timur yang molor sampai proyek lain seperti situ, waduk dan drainase yang dari tahun ke tahun belum juga rampung.

Melihat pengulangan tahun ke tahun itu, baik dari sisi banjirnya maupun penanggulangannya, rasanya lebih banyak di antara kita menyimpulkan 'permainan menunggu' banjir ini masih akan terjadi tahun depan. Jadi, siap-siap saja kebanjiran. (nurudin abdullah)



Post Date : 14 Januari 2009