Banjir Mengancam, Pemprov DKI Siapkan Penampungan

Sumber:Kompas - 16 Desember 2004
Kategori:Banjir di Jakarta
Jakarta, Kompas - Banjir dalam skala kecil sudah melanda Jakarta, dan masih terus mengancam. Berkaitan dengan itu, Pemerintah Provinsi DKI mulai bersiap-siap. Antara lain dengan menyediakan ratusan penampungan di lima wilayah Jakarta. Upaya itu dilakukan mengingat program pengendalian banjir baru dilakukan sepenggal-sepenggal. Belum menyeluruh.

Kepala Dinas Ketentraman, Ketertiban, dan Perlindungan Masyarakat Soebagio di Jakarta, Rabu (15/12), mengatakan, di Jakarta Utara telah disiapkan 156 tempat penampungan yang terdapat di 29 kelurahan, Jakarta Pusat disediakan 41 tempat penampungan di 32 kelurahan, Jakarta Barat terdapat 66 tempat penampungan di 25 kelurahan, Jakarta Selatan 46 tempat penampungan di 25 kelurahan, dan Jakarta Timur 14 tempat penampungan di 12 kelurahan.

Selain tempat penampungan, Pemprov DKI juga telah menyiapkan pos kesehatan di 217 lokasi rawan banjir, 94 orang dokter, 434 petugas paramedik, 68 unit mobil ambulans, serta tenaga sukarela sebanyak 669 orang yang berada di bawah kendali Dinas Kesehatan. Untuk menangani korban banjir, puskesmas kelurahan, puskesmas kecamatan, serta RSUD dan RS swasta juga disiapkan.

Ditambahkan, Pemprov DKI telah menyiapkan 256 perahu karet, 244 unit truk, 198 unit mobil pikap, 4 unit helikopter, 162 tenda peleton, 242 dapur umum, 109 mobil tangki air minum, dan 40.630 personel di wilayah Jakarta.

Sementara itu, Wali Kota Jakarta Barat Fadjar Panjaitan telah memerintahkan agar aparatnya menghidupkan handy takly selama 24 jam dan melaporkan setiap perkembangan kepadanya. Pemkot Jakbar telah melakukan simulasi untuk mengevakuasi korban banjir dan memberikan pengamanan kepada warga.

Harus dibenahi

Secara terpisah, pakar tata air dan penulis buku Abdoel Raoef Soehoed menyatakan, tata air di Jakarta harus dibenahi karena sudah jauh melenceng dari konsep yang dibuat Belanda pada tahun 1872. Waktu itu, Pemerintah Hindia Belanda lewat pemikiran pakarnya, H Van Breen, membangun terusan Banjir Krukut yang merupakan bagian hilir dari Banjir Kanal Barat.

"Jakarta yang makin sempit membuat orang menutup rawa-rawa," kata Soehoed saat peluncuran trilogi bukunya yang berjudul Membenahi Tata Air Jabotabek, Proyek Pantura, dan Reklamasi Laut Dangkal, kemarin.

Menurut dia, pemerintah harus berani menyediakan banyak dana untuk menyurvei masalah lahan dan tata air sebelum menentukan proyek pengendalian banjir. "Misalnya ada teluk tercemar, jangan hanya satu kali memantau. Lalu, apakah benar tanah-tanah sudah diperiksa," ujar Soehoed.

Dalam bukunya, Soehoed mengatakan, apabila mula-mula Kali Krukut dipandang sebagai penyebab utama banjir di Jakarta, namun dalam perkembangannya Kali Ciliwung dan Kali Cideng yang disebut-sebut mengganggu. Ternyata, tidak hanya Kali Ciliwung, tapi juga kali-kali di sebelah timurnya juga bermasalah.

"Gagasan terakhir van Breen adalah membangun satu penangkal utama berupa Ciliwung Floodway, yaitu suatu sodetan dari Kali Ciliwung ke Kali Cisadane," papar Soehoed.

Menurut guru besar UI Budi Susilo Soepandji, larangan-larangan yang dikatakan Van Breen waktu itu justru banyak dilakukan saat ini. "Misalnya, jangan ada pembangunan di tebing sungai. Nyatanya, sekarang banyak yang tinggal di situ," katanya.

Tanggul Jebol

Mengenai tanggul yang jebol di tiga kelurahan di Jakarta Timur, khususnya di Pekayon Pasar Rebo, Sekretaris Komisi D Fathi R Shidiq meminta Pemprov DKI tidak menunda-nunda pembangunannya kembali. "PU harus segera memperbaiki tanggul. Ini kebutuhan sangat mendesak dan tidak bisa ditunda-tunda. Tak perlu menunggu anggaran tahun 2005," kata Fathi.

Menurut dia, Dinas PU harus mencarikan anggaran pada pos lain yang tidak terserap pada anggaran tahun 2004. Ia memberikan contoh, anggaran untuk pembebasan lahan Banjir Kanal Timur yang tidak terserap pada tahun anggaran 2004. "Dana itu bisa digunakan untuk memperbaiki dan membangun tanggul yang jebol. Sebab kalau tidak segera diperbaiki, bisa berbahaya," kata Fathi. (IVV/PIN/IND)



Post Date : 16 Desember 2004