Banjir Tebing Tinggi Lima Ribu Orang Mengungsi

Sumber:Jurnal Nasional - 31 Januari 2013
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

HUJAN deras sepanjang Selasa hingga Rabu dini hari (30/1), menyebabkan sejumlah sungai besar di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara (Sumut), meluap. Hal ini mengakibatkan banjir besar dan menggenangi 1.500 rumah warga. Sementara lima ribu orang terpaksa mengungsi.

Banjir terparah terjadi Kecamatan Tebing Kota. Kediaman mereka digenangi air bercampur lumpur setinggi betis hingga dada orang dewasa. "Posko banjir sudah dibuka. Ada 4.000 orang lebih yang sudah dievakuasi. Terbanyak dari Kecamatan Tebing Tinggi Kota," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tebing Tinggi Sumatera Utara, Wahid Sitorus, saat dikonfirmasi Jurnal Nasional Rabu (30/1).

Adapun lima kecamatan yang terkena bencana banjir di Kota Tebing Tinggi, yaitu Kecamatan Tebing Tinggi Kota, Kecamatan Rambutan, Kecamatan Bajenis, Kecamatan Padang Hulu, dan Kecamatan Padang Hilir.

Wahid menambahkan dari pendataan langsung ke lapangan, salah satu penyebab terjadinya banjir ini, karena meluapnya dua sungai besar yang mengalir di daerah tersebut. Yaitu Sungai Padang dan Sungai Bahilang Tebing.

Menurutnya, melihat kondisi air yang belum surut, BPBD Kota Tebing Tinggi bersama Tim SAR dibantu aparat kepolisian dan TNI, telah menurunkan perahu karet, dan mengevakuasi 4.200 orang warga yang terkena banjir ke daerah yang aman. Hingga Rabu siang, evakuasi terhadap warga yang terjebak banjir masih terus dilakukan. Anak-anak dan perempuan diprioritaskan untuk dievakuasi.

Data dari Polresta Tebing Tinggi dan BPBD Kota Tebing, akibat banjir ini ada 1.500 rumah yang tergenang banjir. Namun ketika dilakukan evakuasi, belum ditemukan adanya korban jiwa.

Mengantisipasi terjadinya penyakit akibat banjir, Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi, melakukan pemeriksaan kesehatan pada anak-anak dan orang tua. Obat-obatan juga telah disiapkan. Pemkot Tebing Tinggi juga sudah menyalurkan bantuan logistik makanan dan telah membuka dapur umum di empat titik yang terkena banjir.

Sementara itu, banjir akibat meluapnya dua sungai besar di daerah itu, menyebabkan lahan pertanian seperti padi, palawija, dan berbagai tanaman bernilai jual tinggi milik warga, tergenang air. Para petani padi didaerah tersebut hanya tampak pasrah, karena saat ini puluhan hektare tanaman padi sudah masuk dalam musim tanam dan diperkirakan padi baru ditanam akan rusak akibat banjir.

Jalur Trans Sulawesi Diperbaiki

Sementara itu dari Minahasa Selatan (Minsel) diberitakan hujan dan banjir juga mengakibatkan tanah longsor. Permasalahan menjadi bertambah karena longsoran merusak jalur jalan Trans Sulawesi.

"Kami terus memperbaiki badan jalan secepatnya," ujar Jackson Kaseger, staf Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XI Sulut- Gorontalo. Jaln sendiri mulai tergerus akibat banjir.

Jalan yang rusak memakan lebar jalan sekitar tiga meter. Hal ini setelah sejak Minggu (27/1) permukaan jalan terkena hantaman air Sungai Nimanga yang meluap. Kemarin, kerusakan bertambah parah menjadi 6 meter. Sedangkan badan jalan sepanjang 70 meter juga rusak parah.

"Bahu jalan yang tergerus kikisan air memang terus bertambah parah. Apalagi pasangan batu yang jadi penahan air, telah terbawa arus sungai," ujar Jackson Kaseger.

Dekat dari lokasi, sekitar 1 km terdapat juga longsoran yang panjangnya 60 meter. "Kami akan memperbaiki satu persatu titik longsor. Namun masih akan menunggu alat untuk dilakukan pelebaran 3 meter dari lahan milik warga yang berbukit ini," katanya.

Ditambahkannya, bahwa arus lalu lintas untuk sementara waktu akan terganggu. BPJN akan membuat sistem buka tutup jalan. Diperkirakan pengerjaannya akan memakan waktu sekitar 4 jam. "Pengerjaan menggunakan alat berat untuk menggusur tanah longsoran. Kami usahakan secepatnya selesai sebab tinggal menunggu operator saja," katanya. Heri Surbakti / Franky Tangkudung



Post Date : 31 Januari 2013