Belum Bisa Diperbaiki

Sumber:Suara Merdeka - 06 April 2005
Kategori:Drainase
BUMIAYU - Kerusakan Bendung Kedungdinding, murni karena faktor bencana alam. Secara konstruksi, bangunan itu sudah sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam bestek. Bangunan itu baru satu tahap diselesaikan.

"Bangunan Bendung Kedungdinding sedianya dikerjakan dua tahap. Tahap pertama pembuatan bendung di tengah aliran Kali Pemali. Berikutnya akan dilengkapi dengan pintu, selimut beton, dan saluran ke persawahan," kata Direktur CV Era Candra Danang Komaruzaman SE, kemarin.

Dia mengaku perlu memberikan penjelasan seputar pekerjaan pembangunan Bendung tersebut, karena ada kesan kerusakan itu karena kualitas bangunan yang buruk, sehingga tak kuat menahan derasnya air sungai itu. Seperti diketahui, proyek bendung itu diharapkan dapat mengairi 70 hektare areal persawahan, jebol diterjang banjir pada 22 Maret lalu.

Bangunan yang ambrol semula 20 meter, tapi kemudian melebar menjadi 25 meter. Akibatnya, air yang semestinya dapat ditahan oleh tebing bendungan, meluncur ke Kali Pemali. Bangunan Kedungdinding terletak di Desa Pruwatan, Kecamatan Bumiayu.

Menurut Danang, sesuai dengan rencana bangunan bendung, semula berada di Dukuh Kedungaren, namun karena permintaan petani setempat, bangunan dialihkan ke Kedungdinding.

Semula rencana bangunan tebing bendung lebar 25 meter, namun setelah dialihkan menjadi 44 meter, dengan biaya Rp 420 juta.

Pada saat dikerjakan, Agustus 2004, pihaknya beberapa kali membangun kisdam(penahan air) untuk membuat konstruksi tebing bendung. Namun karena kondisi cuaca belum baik dan air masih tinggi, kisdam itu hanyut.

"Hal itu tak menjadi masalah, karena pada kenyataan semua dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal waktu pekerjaan," tuturnya.

Seharusnya pada bangunan yang pertama, sekalian dilengkapi dengan selimut beton, pintu air dan saluran air ke persawahan. Namun karena bestek hanya diminta membangun tebing bendung, menjadikan bangunan tidak sempurna dan rawan terhadap bencana. Kenyataan itu terbukti ketika aliran air sangat deras, air yang tertahan oleh tebing bendung berputar dan menggerus bagian bawah yang belum dilengkapi selimut beton.

"Mungkin kalau saat itu sudah ada selimut beton yang melapisi tebing sampai ke lantai (dasar sungai), bangunan tebing lebih tahan terhadap gerusan air. Lagi pula pintu air yang ada, ditutup dengan glugu (pohon kelapa-Red) sehingga air tertahan," paparnya.

Danang mengaku sudah diperintahkan Kepala Dinas PUK Ir Heru Pratisto untuk segera memperbaiki bendung yang ambrol itu, namun karena cuaca belum memungkinkan, hal tersebut belum dapat dilaksanakan.

Perbaikan Bendung

"Kami memang sudah menyanggupi untuk malakukan perbaikan bendung yang ambrol, namun kondisinya belum memungkinkan, arus air sungai masih deras," ucapnya.

Terhadap rencana itu, Danang sudah menemui tokoh masyarakat Desa Pruwatan agar mereka bersabar menunggu cuaca membaik. Sebab pekerjaan akan menjadi sia-sia jika air sungai masih deras.

Proyek Bendung Kedungdinding merupakan proyek tahun 2004. Proyek yang dibiayai dengan dana APBD Rp 420 juta itu, selesai Desember 2004.

Seorang petani Desa Pruwatan mengatakan, sebelum bendung tersebut ambrol, dia melihat pondasi bendung sudah tergerus. Setelah terjadi hujan lebat dan air sungai mengalir dengan deras, bendungan itu tiba-tiba ambrol sekitar 20 meter.

Semula dengan bendung itu, petani Desa Pruwatan akan dapat menikmati aliran air untuk persawahan. Sesuai dengan rencana, bendung itu akan mengairi 70 hektare persawahan. "Dengan Bendung Kedungdinding, petani Desa Pruwatan bisa panen tiga kali. Namun dengan kerusakan ini, harapan itu musnah," ucapnya.

Kepala Dinas PUK Ir Heru Pratisto mengatakan, pekerjaan perbaikan bendung yang rusak tetap ditangani rekanan yang mengerjakan bendung tersebut, karena masih dalam masa pemeliharaan. Untuk sempurnanya pembangunan bendung tersebut, pihaknya sudah menyiapkan anggaran lewat APBD Brebes tahun 2005 Rp 300 juta.(wh-14m)



Post Date : 06 April 2005